
"Tsk. Kelihatannya aku benar benar harus menggunakannya" ucap Evangelion lirih.
Monster monster terus menyerang tanpa henti, Yama, Kai dan para pasukan mulai kewalahan melawan musuh musuhnya yang tidak henti hentinya beregenerasi. Bahkan kini nampak lebih banyak dibandingkan sebelumnya.
Evangelion terkekeh, ia mengeluarkan sebuah tongkat hitam penuh aura gelap dari penyimpanan dimensional.
Sebuah perasaan bahaya muncul dalam benak Yama. Ia tersadar dan mengambil aba aba mundur. Seluruh pasukan bingung dan bertanya tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Belum sempat Yama memberi penjelasan, Evangelion terkekeh.
"Kukukuku sudah ketahuan yaa.. " Ucapnya dengan suara yang menakutkan.
Yama mengerutkan alisnya waspada. Ia pun memberi aba aba kepada pasukan untuk menjaga barisan dan menahan pergerakan selama mungkin.
"Baiklah. Jika tidak ada yang ingin mengajukan, maka secara terpaksa aku akan menggunakan yang ada kukuku" Ucap Evangelion.
Sesaat kemudian kabut merah darah menyelimuti kubu monster dan dengan agresif para monster mulai menyerang satu sama lain.
Kabut darah semakin pekat. Bau anyir menyebar kemana mana dan membuat beberapa pasukan kehilangan konsentrasinya.
Kabut itu tidak bertahan lama, tak selang lama, sebuah mata merah menyala muncul ditengah tengah kabut. Mata itu kemudian menyerap seluruh kabut. Bersamaan dengan itu, sebuah geraman memekikkan telinga muncul dan menyebabkan kekacauan.
Ditengah tengah kekacauan, nampak Evangelion yang memegang mata merah itu tersenyum mengerikan. Hingga kemudian, sebuah suara lembut terdengar begitu mengalun rendah. Membuai semua orang yang berada dimedan pertarungan kedalam ilusi.
Yama bereaksi.
"Ini. Nada kematian!" Ucapnya terkejut.
Namun terlambat, seluruh pasukan tanpa sadar mulai berjalan maju kearah hilangnya kabut dan sebuah formasi merah gelap berputar.
Diatasnya nampak Evangelion melayang ringan sembari terkekeh sendiri.
Dalam hal ini, ia berniat mengorbankan semua orang yang ada dimedan pertempuran itu sebagai sumber mananya.
"Evangelion! Kau br*ngsek!" Ucap Yama dengan geram.
Keugh.
'Sial. kenapa harus datang disaat seperti ini?'
Ia kemudian melesat dengan cepat ke arah Evangelion.
Pertarungan kembali terjadi antara Yama dan Evangelion.
Kabut merah perlahan lahan kembali muncul.
Sebelum itu, seluruh pasukan kembali tersadar dan berlari kearah sebaliknya.
Evangelion berdecik kesal.
"Si*lan kau Yama! Sampai kapan kau ingin menghalangi jalanku huh!?"
Yama hanya terdiam dengan ekspresi gelapnya terus menyerang Evangelion tanpa henti.
'Apa apaan dengan kemampuan ini!?' Ujarnya dalam hati.
Yama terus menyerang dan menyerang.
'Kesempatan!' Seru Evangelion.
Ia lantas mengayunkan tongkatnya kearah dada sebelah kiri Yama.
Srash..
Tongkat itu menembus dada Yama dengan mudahnya.
Evangelion menyeringai. Saat ini ia merasa bahwa ia sudah memenangkan pertempuran. Tapi sebelum itu, Yama mendongakkan kepalanya dan tersenyum. Sepersekian detik berikutnya, Yama meremas leher Evangelion dan menendangnya jatuh ke arah tanah.
Evangelion terjatuh dengan keras. Seluruh tulangnya terasa seperti remuk tak karuan. Seteguk darah mengalir deras dari mulutnya.
Dengan ekspresi terkejut, ia mendongakkan kepalanya kearah Yama.
Nampak Yama yang masih dengan tongkat yang tertancap dijantungnya menatapnya dengan ekspresi dingin.
"Ba bagaimana bisa kau!?"
Sesaat kemudian, Yama mencabut tongkat yang menancap di dadanya dan mengalirkan sepuluh persen mananya kedalam tongkat itu.
Krekk..
Tongkat itu hancur tak bersisa. Yama menunjukkan wajahnya masih dengan ekspresi dinginnya. Matanya nampak memerah semerah darah.
Evangelion merasakan hawa keberadaan dahsyat.
Ia berusaha berdiri dari tempatnya semula, namun sebelum itu dilakukan, pedang yama terlebih dulu menembus tubuhnya.
Tetesan darah kental terus mengucur dari jubah putih yang perlahan lahan beribah menjadi merah gelap.
Dalam hatinya, Evangelion mengutuk Yama.
"Jangan berpikir untuk bisa kabur dari genggamanku, Evangelion!" Ucap Yama memelototi Evangelion.
Evangelion merasakan aura intimidasi yang kuat dari Yama.
Sepersekian detik kemudian, hantaman hantaman terus diarahkan Yama kepada Evangelion tanpa ampun. Jeritan terus menerus terdengar dari evangelion. Darah merah terus mengucur tanpa henti, justru semakin deras.
Yama terus memukulnya tanpa henti dengan ekspresi dingin. Darah terus muncrat ke segala arah.
Evangelion terus mengerang kesakitan. Sementara Yama sama sekali tak menghiraukannya.
Semua orang yang melihatnya nampak memalingkan pandang.
Setelah beberapa lama, Yama berdiri dan mencabut pedangnya dengan keras. Nampak tubuh Evangelion yang tak bernyawa benar benar rusak tak berwujud.
Kedelapan pengikut jubah putih yang melihatnya merasa marah dan dengan cepat mereka melangkah dengan cepat kearah Yama.