
Disebuah kota metropolis dengan gedung pencakar langitnya yang tinggi menjulang. Dengan dihiasi kerlap kerlip kehidupan malam. Semua orang nampak sibuk dengan kehidupan mereka sendiri, hingga..
"Aaaaaaaaargh!!!" Terdengar suara jeritan dari balik kegelapan. Sontak membuyarkan pikiran orang orang disekitar. Mereka berusaha mencari arah datangnya suara.
"Ha haaaah!! di dia disini!" teriak seorang pemuda menunjuk ke sebuah gang sempit dan gelap di dekat pemukiman. Seluruh pandangan tertuju padanya saat itu, mereka menghampiri pemuda itu dan benar saja, nampak sesosok pria dengan tubuh pucat terbaring tak bernyawa. Garis polisi kini terpampang menutupi area gang sempit tersebut. Sebuah kehidupan metropolis mendadak berhenti untuk beberapa detik. Para petugas polisi masih menyelidiki kematian pria tersebut. Mereka sama sekali tak sadar, bahwa sepasang mata berlian menatap tajam dari kegelapan.
...●●●...
Disebuah bar dipinggir kota,
"Nonius!! kau benar benar hebat! padahal kau pelakunya, tapi bisa bisanya kau bahkan menonton sejenak polisi polisi bodoh itu hahaha!" Ucap seorang pria kekar merangkul seorang pria kecil dengan jaket hitam dengan penampilan tertutup.
"Oh" Ucapnya datar seolah olah tak peduli dengan apa yang terjadi.
Pria kekar itu hanya bisa diam diam menggigit bibirnya geram sembari menatapnya sinis.
'Tsk! kau bisa menyombongkan dirimu saat ini, tapi lihat saja nanti! sampai saatnya tiba kau akan berlutut memohon padaku!'
"Ada apa?" Tanya pria berjaket hitam, Nonius.
"Ah, eh? tidak apa apa,, aku hanya sedang berpikir bagaimana mengajakmu" tanyanya dengan raut rumit.
"Hmm?"
"Katakan" Ucap Nonius kemudian.
"Ah.. ini.. aku tidak tahu apakah kau tertarik untuk mengerjakan sebuah misi atau tidak" ucapnya tidak enak.
"Misi apa?"
"Haeh,, tentu saja misi pembunuhan khusus untukmu hehe"
"Aku tahu," "Siapa targetnya?"
"Hmm? benar juga, kau ini tupe orang yang cukup pilih pilih target kan?"
Nonius mengangguk. "Haha! tenang saja, kau pernah dengar tentang kasus pembunuhan Arah angin bukan?"
'Deg!'
Nonius terkejut dengan apa yang dikatakan pria disampingnya itu.
"Apa maksudmu?" Ucap Nonius dengan tatap penuh kebencian.
"Gah! tenanglah! aku tidak bermaksud untuk menyinggungmu soal ayah ibumu,, tapi targetmu kali ini adalah salah satu orang yang bertugas membakar rumahmu saat itu"
"akan kuambil" Ucap Nonius dengan beranjak pergi.
.
.
.
...●●●...
Malam itu hujan turun di kota X, kota metropolis dengan berhiaskan kerlap kerlip kehidupan malam. Atmosfer dingin begitu menekan kulit. Meskipun begitu, aktifitas malam masihlah berjalan. Jalanan masih dipadati oleh lalu lalang kendaraan. Seorang pria dengan penampilan hitam misterius berjalan menembus keramaian hingga kemudian menghilang dikegelapan.
Sementara itu, disebuah taman dekat bangunan yang nampak usang dan tak terurus. Disebuah bangku, nampak seorang pria berjas hitam mengobrol dan tertawa riang dengan seorang gadis kecil berkuncir kuda.
"Ayah! coba lihat! bukankah bintang bintang itu begitu indah? Apakah bintang itu bisa melihat kita ayah?"
"Oh? tentu saja bisa, dia bisa melihat dan mendengarmu, dan bahkan dia berkata pada ayah bahwa dia ingin kau membawa mereka"
"Oh ya? bagaimana caranya?"
"Entahlah, suatu hari nanti pasti kau bisa mengambilnya"
"Ah! itu benar! suatu hari nanti, Ene pasti akan mengambilkan satu untuk ayah dan satu untuk ibu!" Ucap anak itu riang.
Kedua anak dan ayah ini saling tertawa dan mengobrol. Hingga anaknya tertidur lalap dalam dekapnya.
"Anakku sudah tidur, kau tak perlu bersembunyi lagi" Ucap pria itu dengan tatapan sedih.
"Ah,, kau benar benar layak sebagai seorang pembunuh handal, paman" Ucap bayangan dibalik pohon, Dia Nonius.
"Ahahaha, kau ini,, aku tahu apa yang tujuanmu, jika kau ingin membunuhku, bunuhlah sekarang,"
"Oh?"
"Tapi, aku yang tua ini mengharapkan sesuatu darimu,"
"Katakan" Ucal Nonius dingin dengan mengacungkan pisau belati kearah lehernya.
"Tolong rawat putriku, Irene."
"..."
"Lalu, mungkin agak konyol tapi jangan biarkan setetes darahku menetes ditubuhnya"
"hanya itu?" tanya Nonius. "Ah, aku sudah tahu saat ini akan datang, aku seorang pembunuh tapi aku tidak ingin anakku melihatku membunuh atau dibunuh, bukankah itu kekanak anakan?" Ucap pria itu menggigit bibirnya.
Nonius menurunkan pisaunya. Pria itu terkejut dan sebelum bertanya, Nonius berkata.
"Anda pembunuh hebat! tapi anda tak layak untuk saya bunuh" ucap Nonius memasukkan belatinya dan berlalu dingin.
"Aku akan menunggu gadis kecil itu dewasa, sampai saat itu jangan menghindar" Ucap Nonius dengan senyum dingin.
"Seperti yang diharapkan dari seorang Nonius"
...●●●...