Creator of Death: True Darkness

Creator of Death: True Darkness
The Agreement: Cunning Man



Dilain sisi, di kamar dagang VVIP nomor 356.


Seorang pria berambut biru keperakan bangkit dari duduknya, ia lantas melangkah menuju pintu ruang tersebut.


"Serkan, ayo pergi"


Seorang pria nampak membungkuk memberi penghormatan kepada pria yang berjalan.


Sementara pria muda lainnya nampak berlari kecil mengikuti langkah tuannya, Serkan.


"Hamba memberi hormat kepada yang mulia Richard" Ucap pria berambut pirang, Louisse.


"Ah. Kau memiliki pertunjukan yang menakjubkan, kurasa tidak apa bagiku untuk bertemu dengan tuanmu bukan, yah.. aku menantinya penginapan tempatku,"


Louisse tersenyum ramah.


"Sesuai arahan anda, Yang mulia"


...●●●...


Di suatu bangunan yang cukup ramai,


Seorang pria bersurai biru keperakan duduk dengan santai, dihadapannya seorang pemuda bersurai pirang dengan kacamata terpasang di wajahnya.


"Hmm? Ada apa, Serkan?" Tanya pria bersurai biru itu dengan tatapan sedikit angkuh.


Pemuda itu mengangkat wajahnya yang pada awalnya menunduk, ia menatap pria dihadapannya.


"Ah? Eh? Ma maaf, yang mulia.. hamba mengganggu anda"


Pria itu mendengus "Tsk. Menurutmu? Apa ini pertama kalinya huh?"


"Ehehe, yang mulia.. soal di pelelangan.."


"Hmm? Kau masih penasaran huh?"


"Eh? Ah. Jika anda tidak ingin memberitahu, hamba tidak apa"


"Sigh.. apa kau tahu Serkan? Kamar dagang itu sedikit membuatku tertarik, kau tahu?"


"Eh? Anda? Tertarik?"


"Iya! Kenapa?"


"Ah, eh, tidak ada"


'Tamatlah riwayat kamar dagang itu jika tuanku ini sudah tertarik' bisik pemuda itu dalam hati.


"Ah, kelihatannya hamba membuat anda menunggu cukup lama ya, yang mulia Richard"


Sesosok pemuda berjubah nampak sedikit menundukkan wajahnya dihadapan Richard.


Richard dan Serkan menoleh ke arah sumber suara yang mengejutkannya.


Dibelakangnya nampak pria muda berusia sekitar 20 tahunan dengan rambut pirang panjangnya tersenyum turut membungkuk.


Sementara Richard sedikit melengkungkan bibirnya.


"Ah. Anda terlalu berlebihan, tuan pemilik Azadys"


"Ahaha. Anda benar benar hebat, hanya sekilas saja anda bisa mengetahuinya ya. Aku Azalea, tuan dari Azadys trading Group, senang bertemu dengan anda yang mulia Richard. Dan, bisakah saya bergabung dengan anda saat ini?" Tanyanya sopan


"Hahaha, anda pasti bercanda. Bisakah aku menjadi lebih tidak sopan lagi jika anda berkata begitu?"


Raka hanya tersenyum seadanya.


Sementara Serkan masih menunjukkan tampang kebingungannya. Ia lantas bangkit dari tempat duduknya dan mempersilahkan Raka untuk duduk di tempatnya sebelumnya.


Raka duduk dengan tenang. Dihadapannya nampak Richard masih dengan senyum yang mengembang.


Serkan dan Louisse berdiri di sisi tuan mereka masing masing.


"Ah, kelihatannya anda cukup menarik perhatianku, tuan Azalea. Apalagi jika menilainya dari usia anda."


Raka tersenyum pahit. Sesaat kemudian matanya menajam


"Haha, seperti kata pepatah bukan? Jangan menilai isi dari sampulnya"


Richard merasakan tatapan tajam dari Raka.


"Yah. Anda memiliki mata yang indah, tuan Azalea"


"Ah. Terimakasih"


Serkan yang sedari tadi berdiri mendengarkan kedua orang dihadapannya bersaing ini mulai merasa bingung.


'Bukankah kalian akan melakukan kesepakatan? Tapi kenapa hanya adu mulut yang kulihat? Apa yang sebenarnya terjadi.'


Sementara Serkan melirikkan pandangnya pada Louisse di seberang tempatnya berdiri.


Nampak Louisse hanya tersenyum tenang seperti tidak ada apa apa.


"Ah. Baiklah, cukup basa basinya. aku bukan tipe orang yang suka basa basi, kurasa anda juga begitu bukan? Yang mulia Richard ?"


Richard tersenyum.


"Yah, aku hanya mengikuti keinginan tamuku"


Raka membalas senyum 'ramah' Richard


"Baiklah, kita mulai saja kesepakatannya, dan juga.. tidak ada ketentuan kau hanya boleh membawa satu asisten kok"


Richard memahami sepenuhnya perkataan Raka. Meskipun kelihatannya ia hanya berempat, pada kenyataannya ia menyembunyikan seorang assassin di balik bayang.