Creator of Death: True Darkness

Creator of Death: True Darkness
Azasky: The real ruler of the palace




Albert memutuskan kembali setelah cukup berbincang bincang dengan Raka.


Dengan langkah cepat tapi tegas ia kembali menyusuri lorong ke arah ruang kerjanya.


Seluruh prajurit terkejut dan secara cepat membungkukkan tubuhnya.


Sementara Albert hanya terus berjalan tanpa memperdulikan sekelilingnya.


Kriet..


Ia membuka pintu ruang kerjanya, kembali bekerja.


Tak lama kemudian, terdengar langkah cepat seseorang di koridor dan dengan terengah engah ia mencoba mengatakan sesuatu.


Masih dengan nafas cepatnya dan keringat dingin di sekujur tubuhnya.


"Ho hormat kepada yang mulia!" Ucap pria itu yang tak lain adalah Tryan.


"Oh? Aku cukup terkejut mendapati kau tidak ada disini, kau tahu?"


"Ah eh? Maafkan hamba yang mulia"


"Tidak apa. Aku justru akan merasa bersalah jika kau yang mengurusi semuanya sendirian, Tryan."


"Terimakasih, tapi apa yang menyebabkan anda memutuskan untuk kembali bekerja? Ini sudah larut malam, yang mulia" ucapnya berpikir keras.


Albert melongo menanggapi ucapan serius asistennya itu.


"Pff.. fuhaha, tidak ada apa apa, hanya saja aku merasa cukup tersaingi oleh seseorang kau tahu?"


"Menurutmu, Siapa orang yang kutemui tadi huh?" Ucapnya ceria.


"Ah.. eh.. apa mungkin itu ada kaitannya dengan kerajaan Arcnight?" Ucap Tryan sembari mengetuk kacamatanya kembali keposisi semula.


Albert membatu seketika. Awalnya ia hanya berharap agar dapat melihat asistennya mondar mandir berpikir dan bertanya tanya.. atau setidaknya ia akan bermain tebak tebakan ini cukup lama, itulah yang ia harapkan.


"Oh. Ternyata benar" ucap Tryan dengan kerlipan bintang di sekitarnya.


...●●●...


Tak tak tak.


Langkah kaki terdengar cukup keras.


Nampak seorang wanita dengan rambut pirang panjangnya dan mata ungu tajamnya berjalan dengan anggun. Wajahnya yang cantik nampak bersinar layaknya matahari tatkala terkena baptisan cahaya emas pagi.


Dia adalah Queensha.


Ia berjalan kearah sebuah lorong panjang dan langkahnya terhenti pada sebuah ruang yang masih terdengar suara.


Ia membuka pintu.


Nampak dihadapannya seorang pria dengan rambut coklat dan jubah emas biru panjangnya tertidur dikursi, dia adalah Albert.


Sementara itu, pria paruh baya dengan kacamata dan rambut coklat yang senada dengan pakaiannya itu menoleh dan kemudian membungkuk hormat kearah wanita yang membuka pintu itu.


"Hormat kepada yang mulia ratu"


Queensha menghela nafasnya panjang. Kali ini ia cukup berpikir keras. Bagaimanapun, ia tidur lebih awal semalam, dan saat bangun, ia sama sekali tak melihat pria mengesalkan itu dihadapannya.


Merasa cukup panik, ia keluar dari kamarnya dan berias seadanya tanpa bantuan pelayannya.


Queensha mengurut dahinya pusing.


"Tryan... bisakah kau jelaskan ini?" Ucap Queensha.


Bulu kuduk Tryan berdiri dan secara tak sadar ia mengangguk.


"Ehem! Yang mulia! Saya tidak bersalah dalam hal ini!" Ucapnya dengan teguh.


"Oh? Lalu? Apakah aku akan percaya jika pria itu datang kesini secara sukarela?" Ucap Queensha dengan raut menyeramkan.


"Ah.. ini,....." Tryan lantas menceritakan semuanya dari awal hingga kisah Albert yang cukup antusias saat menceritakan pertemuannya dengan pangeran kedua kerajaan Arcnight,


Raka Azalea Putra Arcnight!


Mata Queensha melebar saat mendengar nama itu, sedikit rona merah bahagia tertampil diwajahnya yang cantik.


Ekspresi dingin itu perlahan lahan melembut saat mendengar cerita Tryan.


Ia kemudian melangkah masuk dan melepas jubahnya hendak menyelimuti tubuh suaminya.


Ia tersenyum begitu cantik dengan tatapan lembut.


Melihat hal itu, Tryan tersenyum bahagia.


Tapi itu tak bertahan lama, aura dingin kembali diarahkan padanya, menyuruhnya untuk keluar dari ruangan itu.


Tryan yang merasa merinding lantas membungkuk kikuk.


"Ah. Karena yang mulia Ratu sudah datang, alangkah baiknya hamba pergi, bukan suatu hal yang baik bagi bawahan ini untuk mendengar percakapan anda, yang mulia. Hamba pamit undur diri" ucapnya.


Queensha tak memperdulikannya, Tryan lantas berlari keluar dan menutup pintu itu.


"Kau berusaha cukup keras kali ini, Suamiku" ucap wanita itu lembit sembari membelai rambut suaminya perlahan.


'Oh tuhan! Aku terselamatkan!' Seru Tryan yang melangkah cukup cepat dari ruangnya.


'yang mulia, maafkan aku'


...●●●...


"Ugh.." Albert mengerutkan keningnya terbangun.


"Kau sudah bangun?"


Seketika sebuah suara membuatnya merinding.


Ia membuka matanya dan menatap istrinya ramah.


"Ah. Istrikuu.. aku benar benar senang bisa melihat wajah cantikmu saat aku membuka mataku hehe"


"Oh? Benarkah? Kalau begitu mengapa kau memilih untuk tidur disini dibandingkan tidur bersamaku suamiku?"


"Ah, eh? Ada baiknya jika aku mandi dulu bukan?" Ucap Albert mengalihkan pembicaraan.


"Oh? Bisakah kau menjelaskan sesuatu padaku terlebih dulu?"


Saat itu, seluruh urat saraf Albert menegang setegang tegangnya.


"Baa ik" ucapnya tersenyum


Saat itu, ia teringat sebuah pepatah, "diatas langit masih ada langit. Tidak! Itu bukan langit! Melainkan diatas raja masih ada istri!' Ucapnya meringis.