
"Ah, bisakah anda menyingkirkan belati ini? Itu menusuk dan yah, rasanya sakit" Raka memiringkan kepalanya dan tersenyum ramah.
Jean menghela nafasnya berat.
"Sigh.." Jean lantas mundur dan menarik belatinya.
"Hamba meminta maaf"
Louisse mengulurkan sebuah sapu tangan pada Raka. Ia lantas mengelap sedikit darah yang tersisa di lehernya.
"Cukup. Aku tidak menyangka jika anda benar benar tidak memiliki sopan santun disini, Tuan Azalea.. bagaimanapun, kesalahan tadi adalah kesalahan saya.. tapi dengan menekan keberadaan bawahan saya apakah itu sepadan?" Ucap Richard tajam.
"Oh? Haha"
Raka hanya tertawa kecil. Tapi itu tidak lama, setelahnya wajahnya berubah menjadi sedikit serius dengan jejak amarah dimatanya.
"Oh? Apakah anda bercanda yang mulia Richard? Apakah menyembunyikan seorang assassin dalam forum seperti ini dapat dibenarkan? Sebagai orang yang terhormat, anda tidak menganggap sama sekali keberadaanku disini bukan? Apakah anda berpikir untuk menekan dan menunjukkan kepemerintahan anda disini? Itu bukan hal yang dibenarkan. Ini wilayah saya, saya yang berkuasa. Dan saya menolak keberadaan kekuasaan lainnya. Anda mencoba menekanku dan mengarahkanku ke topik yang anda inginkan bukan? Dan lagi, apakah anda akan membunuhku jika aku tidak bersedia bekerja sama dengan anda? Ataukah, anda akan membunuhku jika aku mengetahui banyak rahasia, dan untuk membersihkannya anda akan membunuhku tanpa suara sedikit pun!?"
"Haha, tapi sayangnya, aku bukan orang yang bisa ditindas, yang mulia. Bahkan itu juga berlaku bagi bawahanku, Tapi aku? Aku hanya menekan kedua bawahanmu, dan mereka merasakan perasaan yang sama dengan perasaaan yang kurasakan kan? Ini membuktikan tentang siapa yang berkuasa disini"
Ekspresi Richard nampak meregang sedikit.
"Sigh.. harus kuakui, anda pantas sebagai pemimpin, Tuan Azalea.."
"Oh? Apakah hanya itu? Maaf, tapi aku tak butuh pengakuan darimu"
Serkan nampak terkejut dan sedikit marah.
"Ka kau!"
"Aku? Aku apa? Lanjutkan perkataanmu" Raka menengadahkan kepalanya menantang Serkan.
Serkan terkesiap. Ia tak lagi mampu mengatakan sepatah kata pun. Sepasang mata biru mengintimidasinya.
Theodore mengangkat tangannya, memberi isyarat pada Serkan untuk diam.
"Hmm? Yah, maaf atas kekeliruanku, apa yang anda inginkan dari saya sebagai kompensasinya, Tuan Azalea?"
"Ah, aku tidak membutuhkan pengakuan darimu atas kepemimpinanku, toh apa yang bisa kau lakukan untuk meruntuhkan hierarki ku? Yang kubutuhkan adalah pengakuanmu atas yang lainnya"
"Oh? Tapi atas dasar apa aku harus mengakuinya? Aku hanya memiliki hutang padamu bukan?"
"Itu benar, kepemimpinanku kuraih dengan tanganku sendiri, tapi soal itu, meskipun aku bisa menanganinya, aku hanya bisa berjaga jaga jika mereka mencoba mengambilnya lagi dariku"
"Oh? Apa balasannya?"
Sudut mulut Raka berkedut, bagaimanapun bukankah pak tua ini benar benar tidak tahu malu?
"Kau hampir membunuhku meskipun itu tidak alan pernah berhasil, dan kau masih ingin balasan yang lain huh!?"
Richard tersenyum masam.
"Aku bercanda,"
Raka membalasnya dengan ekspresi datar.
"Itu tidak lucu"
Richard bangkit dari duduknya, ia lantas melangkah maju dan mengulurkan tangannya.
"Haha, baiklah. Kurasa kita akan jadi teman yang baik suatu hari nanti, aku menantikanmu untuk tumbuh lebih besar, tuan Azalea.. sampai jumpa"
Raka membalas uluran tangannya. Keduanya saling berjabatan tangan.
Setelahnya, Raka bangkit dari tempat duduknya, bersiap untuk pergi..
"Baiklah, ku anggap itu adalah suatu hal yang setara"
"..."
"Oh, dan juga.. sebagai permintaan maaf lainnya. Serkan, Emilia! antarkan tuan Azalea"
"Eh? Ba baik"
Mereka berempat lantas berjalan menuju keluar penginapan.
"A anu.. "
"Aku.."
Raka menoleh, dibelakangnya Louisse yang nampak tenang, sementara Serkan nampak berjalan dengan ekspresi ingin mengatakan sesuatu. Sementara dibelakangnya, bersembunyi gadis yang hendak menusuknya tadi.
"Hmm?" Raka bertanya tanya tentang apa yang akan dikatakan oleh Serkan.
Raka menghentikan langkahnya. Dan menghadap Serkan yang linglung.
"Ada apa? Jika ada yang ingin kau katakan, katakanlah"
Serkan terkejut mendengar ucapan Raka yang membuyarkan pikirannya.
"Ah! Eh? I ini.. tidak apa tuan.." ucapnya tergagap gagap.
"Kau tak perlu memanggilku tuan, kau seumuran denganku, jadi kita setara, adapun tuanmu itu memanggilku tuan adalah untuk menyetarakan derajat kita saat melakukan kerjasama, bisa dibilang itu adalah taktik kerjasama politik"
"Eh? A apa? I ini.. bagaimana mungkin aku"
"Namaku Raka, panggil aku Raka saat diluar forum. Siapa namamu?"
"Eh? I itu?" Serkan bingung dengan ucapan pemuda dihadapannya itu. 'Bukankah seharusnya dia sudah mendengar namaku' pikirnya.
"Ah. Aku berkenalan denganmu, bukan dengan tuanmu, namamu itu aku sudah tahu tapi aku ingin mendengarnya darimu" Ucap Raka datar.
"Eh? Baiklah, namaku Serkan D'Lyla, senang bertemu denganmu, anu.."
"Raka" Ucap Raka ketus.
"Raka.." Ucap Serkan merasa sedikit terintimidasi.
Sigh. Raka menghela nafasnya,
"Itu juga berlaku bagimu" ucap Raka dingin.
Emilia merinding. Ia kembali merasa sedikit takut.
"Baiklah, aku harus kembali, sampai jumpa lain kali. Dan pastikan kau mengingat namaku dengan baik" Ucap Raka ramah.
Raka lantas berbalik dan melangkah menuju kereta yang mengantarnya sebelumnya.
Louisse tersenyum.
"Ah, jangan dipikirkan. Tuanku itu orang yang terbiasa mengendalikan emosinya dihadapan orang lain, tapi percaya atau tidak, itu bukan emosinya. Dan yang tadi itu, tuanku yang sebenarnya, dia cukup kaku saat bersosialisasi dengan orang lain bukan?"
"Apa? Eh?" Serkan sedikit terkejut menanggapi ucapan pengawal yang menemani Raka itu.
Louisse hanya tersenyum, ia lantas berjalan dan mengikuti Raka masuk kedalam kereta.