
Pelelangan besar, Nightingale.
Edward membungkuk hormat, sementara Raka nampak berdiri menatap kejauhan dari balkon dengan menggenggam segelas penuh minuman. "Yang mulia, seperti yang anda titahkan, semua persiapan telah selesai"
"Oh? Bagaimana dengan para tamu?"
"Ya. Mereka telah datang, dan beberapa mereka mulai menantikan dibukanya acara. Tapi, tiga tamu yang anda ingin.."
"Aku mengerti, paman, bagaimana menurutmu?"
Albert hanya tersenyum masam. "Hmm? Kau membuat rencana ini sendiri dan baru sekarang kau meminta pendapatku huh!?"
Raka mengalihkan pandangnya dengan cepat, dan dengan sedikit ekspresi bersalah, "Ah, paman aku benar benar minta maaf, maksudku.. yah, kau tahu? Kau cukup sibuk akhir akhir ini"
"Hmm? Hanya itu? Menurutmu? Karena siapa aku menjadi sibuk huh?"
"Gah! Sigh.. baiklah, aku kalah. Aku minta maaf, paman.. bagaimanapun, aku sudah cukup memperkirakan tindakan mereka sih, karenanyalah, aku meminta bantuanmu kali ini"
"Yah, kau cukup peka untuk tahu bagaimana sikap mereka, tapi sebenarnya apa yang ingin kau lakukan huh?"
"Yah, ini.. agak sedikit memalukan untuk membicarakan bahwa aku, agak khawatir soal keadaan keluargaku"
Raut wajah Raka nampak sedikit merumit, dengan tatapan serius. Dan sedikit bagian dari alisnya yang nampak berkerut.
"Sigh.. aku takut jika keinginan untuk membuka barrier pembatas ditentang"
Albert menggigit bibirnya geram. Matanya nampak berkobar sementara tangan kanannya mengepal keras.
"Siapa!? Siapa yang mengatakan hal itu padamu? Tsk! Memangnya siapa dia berani mengusik satu dari tujuh panji besar benua!?"
Manik biru mata Raka nampak melebar, ia tahu jika ini akan terjadi, tapi ia sama sekali tak tahu jika hasilnya akan sebesar ini.
"Haha, anda benar benar hebat" Ucapnya dengan tawa kecil sesaat kemudian.
"Huh!? Apa menurutmu hubungan antara Azasky dan Arcnight hanya sebatas itu huh? Bagaimanapun, Azasky dan Arcnight sudah menjadi bagian dari dua panji besar sejak pertama didirikan, dan itu sama sekali bukan hubungan kecil, Raka.. jika itu hanyalah hubungan kecil, maka sudah dipastikan, tidak akan terjadi hubungan pernikahan antar kerajaan."
"Ah. Itu benar"
"Tapi tetap saja, keberadaan kerajaanku dan miasma ini akan mempengaruhi keadaan benua secara keseluruhan, meskipun kita sudah menemukan akar masalah dan solusinya pun, menurut asumsiku, akan ada pertentangan soal itu nantinya."
"Hingga ditahap berikutnya, mereka akan mempermasalahkan obat yang kita buat untuk menangani miasma ini, lalu berusaha sebaik mungkin untuk menjatuhkan kita.. yah, paman, kau lebih mengerti ini dibandingkan denganku bukan? Bahkan jika itu adalah kekaisaran sendiri, tetap saja, jika para bangsawan lainnya menolak maka hasilnya tetap tidak"
"Hmm, begitulah kekuasaan,"
Albert melayangkan pandangnya pada Raka, "jadi apa yang akan kau lakukan?"
"Ah. Jika yang menolak hanya khawatir akan bahaya miasmanya, maka jawabannya sudah jelas kan? Itu mudah"
Albert mengangguk membenarkan ucapan Raka.
"Jadi? Apa jawabanmu, pemimpin muda?" Tanyanya mengejek Raka.
"Haha, jika dia memakai kekuasaan untuk menindas bukankah aku juga bisa? Maksudku, yah, semuanya tergantung pada pasukan yang dibawa"
"Arcnight tidak akan jadi negri yang damai sepertinya, jika kau yang jadi pemimpin mereka"
"Karena itulah, aku nomor dua"
"Baiklah, dalam hal ini, kurasa ada baiknya jika kau tak membuang waktumu hanya untuk menunggu tiga orang tua bangka itu"
"Itu yang kupikirkan"
...●●●...
Pelelangan pun dimulai.
Para pengunjung yang didominasi oleh para bangsawan dan pebisnis memenuhi mansion.
Sebagian dari mereka datang hanya untuk melihat lihat, sebagian lainnya memasang harga untuk beberapa barang mewah dan langka yang dilelang.
Albert yang menonton dari balkon mansion nampak tertegun saat melihat kereta bangsawan dengan berbagai logo kerajaan yang berbeda datang. "Oh? Kelihatannya mereka tetap datang meskipun terlambat ya, benar benar tak tahu malu"
Sudut mulut Raka berkedut. Ia tersenyum masam saat ini. "Ah, aku tidak tahu ada dendam apa antara kalian, tapi kurasa itu keputusanku agak sedikit keliru"
"Hmph! Aku sama sekali tidak memiliki dendam pada mereka, Raka.. tapi yah, sifat mereka itu.."
"Ahaha, kurasa aku tahu perasaanmu, paman"
Seorang pria dengan rambut pirang panjang dan dengan setelan formal membungkuk memberi hormat pada Raka dan Albert.
"Yang mulia,"
Raka turun dari balkon tempatnya berdiri.
"Ah, ayo kita mulai pertunjukkannya, paman, kau bebas minum malam ini"
"Hm? Tentu saja! Kurasa kau memang harus membalasku" Ucap Albert dengan senyum licik.
Tap. Tap. Tap.
Raka melangkahkah kakinya di lorong panjang menuju ke tribun lelang.
"Pertunjukan pertama, dimulai"
Ucapnya dengan senyum.