Creator of Death: True Darkness

Creator of Death: True Darkness
Delegation: A Sign of Friendship



"Aku mengucapkan terimakasih atas dukungan anda, yang mulia pangeran Arcnight. Dan juga, maaf atas sedikit kekacauan tadi" ucap Nauval mewakili saudara saudarinya.


"Tidak, seharusnya aku yang meminta maaf atas kegaduhan yang sedikit membahayakan kalian tadi. Ini adalah kelalaian kami." Ucap Raka hangat.


"Ah, dan juga" Nauval merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah giok. Giok yang sama yang diperebutkan sebelumnya.


Raka melirik giok dengan corak dua primordial beast yang terukir diatasnya. Corak itu terasa sedikit familiar baginya, tapi bukan sebagai Raka, melainkan sebagai jiwanya yang dahulu- Nonius.


"Ini adalah giok tanda persahabatan pendahulu kami dengan leluhur anda. Dimata ayah kami dan para bangsawan di negri kami, giok ini adalah pengingat atas bantuan yang diberikan leluhur anda, yang belum sempat kami balaskan. Karenanyalah, kami ingin mengembalikan giok ini. Kedepannya, saat anda menjadi pangeran Arcnight, dan anda mengalami suatu kesulitan yang membutuhkan bantuan kami. Kami harap anda tidak akan sungkan sungkan. Giok ini, kedepannya akan jadi tanda persahabatan antara dua negara."


"Baiklah, aku tidak akan sungkan" ucap Raka sopan.


"Baiklah, sampai jumpa di pertemuan para raja" ucap Nauval kemudian.


Raka hanya membalasnya tersenyum.


"Hmm? Ada apa? Apa ada yang ingin kau tanyakan?" Tanya Raka saat menyadari tatapan dari Alvan.


Alvan terkejut. "A ah, tidak apa. Aku hanya sedikit bingung haha" ucapnya kikuk.


"He hei!" Anastasya sedikit memarahi adiknya karena sedikit tidak sopan.


"Haha, tidak apa.. diluar forum, bertingkahlah seperti biasanya." Ucap Raka menengahi.


"Haha baiklah.." balas Nauval.


"Dan soal pertanyaanmu itu, wajar sih, ada banyak orang yang bertanya tentang itu padaku. Penampilanku ini, ehem! Tidak hanya kelihatannya kok, pada dasarnya jika kalian menelusuri identitasku sebagai Arcian kalian juga akan menemukannya jika aku baru berumur 15 tahun" ucapnya seraya tertawa kecil.


"A apa!? Oops!" Alvan setengah berteriak. Ia lantas membungkam mulutnya erat tatkala merasakan tatapan dingin dari saudarinya, Anastasya.


"Haih, baiklah.. aku berjanji akan berusaha untuk meyakinkan ayah dan bangsawan lainnya untuk membantu anda" ucap Nauval.


"Tak perlu dipikirkan, untuk sementara, aku akan mengirimkan beberapa pasukanku untuk membantu perbatasan kalian."


Ketiganya lantas melangkah pergi. Dengan ini, perjanjian telah dibuat.


...□□□...


"Hormat kepada yang mulia" pria berambut putih nampak berlutut dihadapan seorang pemuda berambut hitam kebiruan. Yang nampak berdiri memandang keluar jendela.


"Katakan" ucap pemuda itu seraya melangkah ke meja kerjanya dan duduk.


"Ada indikasi ini adalah ulah campur tangan Baal" ucapnya.


"Oh? Hentikan penyelidikan" ucapnya dingin.


"Masalahnya tidak semudah membalikkan telapak tangan, hentikan sekarang" Ucap pemuda itu dengan ekspresi tajam.


"Baik!" Ucapnya sesaat sebelum ia menghilang.


"Barto, Louisse, Edward, Alice.. kalian disana?"


"Hormat kepada yang mulia" ucap keempatnya seraya berlutut.


"Beri komando kepada seluruh pasukan untuk bersiaga, perang dihadapan kita" ucap Raka dengan tatapan tajam.


"Baik!" Ucap keempatnya seraya undur diri.


Ruangan itu menjadi begitu hening.


Tak. Tak. Tak.


Pemuda dengan surai hitam itu kini nampak duduk. Jari jemarinya dengan tenang menjalankan satu persatu bidak catur dihadapannya.


"Baal, kurasa takdir kita semakin dekat ya" Ucapnya dengan senyum misterius.


"Haih, Aku sedikit tidak sabaran"


Oh? benarkah? anda benar benar misterius, tuanku.


Sebuah suara dingin berdengung di telinga Raka.


"Hmm? Lalu apa? dan juga, sejak kapan aku mengizinkanmu menjadi bawahanku?"


Whooosh...


Sebuah bayangan hitam kelam lantas muncul dari balik bayangan.


Bayangan gelap dengan mata emas memancar darinya. Dengan senyum kecil, ia nampak sedikit bahagia.


Maafkan hambamu yang lancang, tuanku.. hamba bersedia menerima hukuman apapun itu, bahkan jika saya harus hancur ditangan anda pun, saya dengan senang hati mengagungkanmu, tuanku..


Raka sedikit menyipitkan matanya dihadapan bayangan yang memohon padanya.


"Oh? jika begitu, aku tidak akan sungkan, Beelzebub"


Kekeke..