Creator of Death: True Darkness

Creator of Death: True Darkness
Welcome to Yourself, Raka




Kesadaran Raka mengabur,


Ia terlelap dalam kegelapan.


Sebuah suara kembali memanggilnya,"Raka! Bangunlah!"


Raka membuka matanya, nampak sebuah ruangan gelap dengan pemandangan familiar tersaji dihadapannya.


'Malaikat, iblis, dan kekangan'


Itulah yang ia pikirkan saat itu. Ia kembali mengingatnya, sebuah kejadian yang takkan pernah ia lupakan.


Pertemuan awalnya dengan seorang wanita yang cantik bagaikan malaikat.


Pertemuan dengan sesosok bayangan yang menyerupai dirinya.


Dan tentang kekangan emas yang mengekang iblis itu.


Ia termenung sekejap.


'Ini.. ada apa dengan perasaan ini? Tempat ini membuatku jauh lebih tenang.'


Ia menatap sekelilingnya, begitu gelap.


Setelah memantapkan hatinya, ia mulai melangkah.


Sebuah langkah mengubah dimensi itu.


Pemandangan yang sama tersaji dihadapannya. Sebuah dimensi penuh langit berbintang menyambut kedatangannya.


Dimensi itu benar benar luas, sama seperti yang ia ingat tempo lalu.


Matanya memandang sekeliling, sebuah sudut hitam kembali menarik perhatiannya.


'Sudut itu ya? Apa mungkin 'dia' disana?' Ucapnya dalam hati.


Tergambar jelas dikepalanya, bagaimana iblis itu berbicara dan mengancamnya.


Deg!


Jantung Raka berdentum. Disaat yang sama ia kehilangan pijakan dan terjatuh kedalam suatu kolam yang dingin.


Ugh..


Raka tidak bisa bernafas, reaksi kejut membuatnya panik dan kehilangan arah sejenak.


Ia memejamkan matanya dan menenangkan pikirannya sejenak


'Tenanglah Raka! Tenanglah!' Ucapnya menyemangati dirinya sendiri.


Sesaat kemudian dia berhasil menangani serangan paniknya,


'Dingin, dingin seperti biasanya,, tapi ia begitu tenang'


Raka terus terjatuh semakin dalam, meskipun begitu sebuah ketenangan hadir dalam jiwanya.


Semakin dalam ia terjatuh, semakin dingin dan gelap suasananya.


'Gelap, ini benar benar gelap'


'Guru! Apa yang harus ku lakukan? Berfikir! Berfikirlah diriku!'


Deg!


Keugh!


Raka menahan sakitnya, ia terus meremas jantungnya yang terus berdenyut.


Darah merah terus menyembur dari mulutnya.


Ia terus menutup mata sembari menahan rasa sakit yang terus menghujam jantungnya.


Ia masih terus jatuh kedalam dan lebih dalam lagi. Hingga, sebuah sentuhan menyadarkannya.


Raka membuka matanya terkejut.


Nampak dihadapannya seorang wanita berambut hitam tersenyum manis dihadapannya.


Ia begitu cantik, tapi sesaat kemudian sebuah tatapan menyeramkan datang darinya,, mencengkeram erat wajahnya dan membisikkan sebuah kata,"Nonius, kau tahu? Kau sama sekali tak pantas untuk Jesslyn"


Raka terkejut dan sebuah ingatan mengenai bayangan itu samar samar diputar di kepalanya.


Ugh..


Dan tanpa sadar sebuah nama terucap dari bibirnya,


"Ce Cecilia?"


"Tidak! Aku bukan Cecilia" Bayangan wanita itu berganti menjadi sebuah bayang bayang seorang pria dengan rambut pirangnya.


"Siapapun aku, kau tak pantas untuk mengetahuinya, dasar bocah jalanan!"


Lagi lagi sebuah ingatan merasuk dalam pikirannya, kali ini ia teringat tentang pria itu,


"Ka kau? Rome?"


"Ah, kakak, bagaimana mungkin diriku ini dipanggil Rome?"


Bayangan itu kembali berganti, kini dihadapannya nampak seorang gadis kecil. Dari kedua mata cantiknya mengalir air mata tanpa henti. Tapi wajahnya justru menunjukkan sebaliknya, ia tersenyum kejam.


"Nonius, apakah kau lupa pada adik yang kau bunuh huh?" Ucapnya didekat telinganya masih dengan terus mencengkeram wajah Raka.


Sebuah ingatan tragis kembali berputar dalam kepalanya. Sebuah ingatan dimana sebuah pengorbanan yang disalah artikan.


"Kinai, a aku"


"Cukup! Kau benar benar anak yang tidak berguna" sebilah belati tertancap ke perut Raka, bayangan itu telah berganti menjadi sosok pria paruh baya dengan mata merah.


Darah merah kembali menyembur deras.


U ugh..


Raka menahan rasa sakitnya lagi, kali ini ingatan kembali berputar dengan sangat cepat.


"A ayah.. maafkan a aku" Ucap Raka sembari menahan rasa sakit.


"Oh? Apa yang kau sesali? Sayang" Ucap seorang wanita cantik dengan rambut peraknya.


Ingatan kembali berputar. "Ka kau?"


...●●●...