
Mata Alvan berbinar binar.
"Sihir tanah, Konstruksi" ucap Alvan. Selangkah kemudian, tanah disekitarnya nampak bangkit dengan formasi dan membentuk patung patung menyerupai manusia dari tanah.
'Yosh! Dengan ini tinggal memasukkan kristal memorinya.'
Ia lantas merogoh saku celananya dan mengambil sebongkah bola kristal seukuran tenis dengan kilap warna emas. Dengan sedikit usaha, ia memecahkan bola kaca itu ditengah tengah sekumpulan patung.
Crash!
Bola itu pecah mengeluarkan asap dan aroma ilusi.
"Siapa itu!" Ucap sebuah suara berat.
"Hmm? Apa ada tikus yang kemari?" Tanya suara ringan kemudian.
"Hah, kebetulan," Alvan mengangkat tudungnya dan dengan sedikit usaha, ia berlari tergesa gesa.
"B- Bos! Disana! Ada patroli!" Ucap Alvan berpura pura panik. Ia nampak menunjuk ke dinding tempat patung patung tanahnya berada.
"Apa katamu!? Tsk! Sialan" pria kekar dan seorang pria paruh baya dengan pisau itu lantas berlari menuju ke tempat Alvan menunjuk.
"Tsk. Pangeran kedua Koga memang menakjubkan" sebuah suara ringan mengejutkan Alvan.
Ia lantas menengokkan wajahnya ke berbagai arah, seolah olah tengah mencari sesuatu.
"Berhenti berpura pura, pangeran Alvan, atau giok berharga ayahmu akan kuhancurkan" ucap seorang pria dengan aksen sama seperti pria lainnya.
"Sigh. Merepotkan. Siapa sebenarnya kau?" Tanya Alvan curiga.
"Oh? Suatu kehormatan bagiku yang tak dikenal ini ditanyai oleh pangeran demi dwarf"
"Katakan apa maumu!" Tanyanya sengit.
"Yah, barang yang sudah diambil tidak bisa dikembalikan. Beli barangmu" ucap pria itu licik.
"Tch! Kau bercanda!?"
"Tidak, aku tidak bercanda, setidaknya beli dengan harga sepadan bukan?"
Pandangan Alvan membeku pada sesosok bayangan. Ia adalah anak berusia sekitar 10 tahunan dengan jubah hitam dan beberapa luka lebam di wajahnya. Ia nampak sedikit sedih dan putus asa.
"Baiklah, dengan syarat bebaskan anak itu"
"Berapa harganya?
'Kuh! Apa pria ini tidak bisa diajak kompromi huh!?' Gerutu Alvan dalam hati
"Ti tiga ribu koin emas!" Jawab Alvan kikuk.
Tanpa pria itu sadari, sedikit manik mata Alvan nampak bergerak seolah memberi isyarat pada anak itu. Anak itu menyadarinya, ia mendongakkan wajahnya dan mata coklatnya nampak membelalak.
"Kekeke, jangan bercanda. Yang mulia Alvan, apa anda mempermainkanku!? Bukankah anda tidak punya uang saat ini?"
"Kau sialan! Kau tahu kalau aku tidak punya uang tapi kai masih memintaku untuk membeli!" Ucap Alvan geram.
Swosh!
"Keugh! Sial! Anak itu kabur!"
Pria itu bereaksi, ia lantas berusaha untuk mengejar anak itu, tapi dicegah oleh Alvan.
"Kita masih punya urusan disini" ucap Alvan tajam.
"Tch!" Pria itu berdecik kesal.
"Yang mulia.. menurutmu berapa harga yang sepadan untuk pakta ini? Tiga ribu? Enam ribu? Atau justru tiga ratus ribu. Tahukah kau? Aku bisa mendapatkannya dengan mudah tanpa dirimu."
Alvan terkesiap, "A apa maksudmu!?"
"Yah. Kurasa jika aku menjualnya pada istana Baal, mereka akan memberiku sepuluh kali lebih mahal dari penawaranmu, dan bahkan mungkin aku bisa menjadi salah seorang bangsawan disana."
"A apa? Apa kau benar benar serendah itu? Dia adalah iblis!?"
"Memangnya kenapa jika dia adalah iblis? Asalkan dia memberiku keuntungan, maka aku akan mengikutinya dengan senang hati"
"Tch. Dimana harga dirimu sebagai manusia"
"Fufufu. Apa gunanya harga diri jika kau tak memiliki harta hah? Tapi, kurasa jika anda mau memberiku kehormatan di kekuasaan anda, saya bisa mempertimbangkannya. Dan lagi, saya bisa membantu anda menyingkirkan saudara saudari anda"
"Haha, apa kau bilang? Kau mau aku menyingkirkan saudara saudariku huh? Jangan mimpi! Tak sekalipun dalam hidupmu kuizinkan menyentuh mereka!"
"Tch. Membosankan! Baiklah, kurasa aku benar benar harus menghubungi istana Baal"
'Sial! Kerjasama ini terlalu penting! Aku tak bisa melepaskannya begitu saja, ini semua menyangkut kehidupan banyak orang di Koga.'
"Tu tunggu!"
"Hmm?"
"Berikan giok itu, mulai sekarang kau adalah bangsawan Koga!" Ucap Alvan tajam.
"Kekeke, anda benar benar cerdas, yang mulia Alvan" ucap pria itu terkekeh.
"Tapi aku hanya memiliki kesepakatan denganmu, tidak dengan dua orang bodoh itu" ucap Alvan.
"Puih! Siapa yang peduli, yang mulia Alvan"
"Kau!? Kau bahkan tidak pedulu dengan temanmu?" Alis Alvan berkerut rumit.
"Yah, bahkan jika harus hidup dengan memakan mereka pun aku sama sekali tak keberatan"
"Jika begitu, berikan giok itu padaku!"
"Hoo, apakah anda masih ingin bermain main denganku, yang mulia.. bagaimana jika kau mengingkarinya? maksudku, yah.. tidak ada bukti kau memberi gelar kebangsawanan bukan?"
"Lalu apa maumu ba*ingan!" Ucap Alvan geram.
"Ah, dengan kekuasaan anda saat ini, bukankah anda punya hak untuk meminta yang mulia Alph untuk mengirimkan kereta? Dengan begitu aku bisa datang ke kerajaan lebih awal dan disaat yang sama anda bisa mendapatkan giok ini, yang mu.."
Slap!
Sebuah belati melesat dengan cepat menyabet tangan pria itu. Alvan menghindar dan mundur beberapa langkah.