Creator of Death: True Darkness

Creator of Death: True Darkness
Naughty Boy: Who are the real bullies?




"Ah. Kukira siapa? Ternyata Tuan muda Rietch, Kleid dan tuan muda Struitch. Selamat pagi, bagaimana kabar kalian hari ini?" Ucapnya formal.


"Ah. Pagi juga! Syukurlah jika kau mengenal kami, bagaimanapun kami akan memaklumimu jika kau tidak mengenal kami" ucap Rietch terharu.


"Ya! Kau tahu? Kita adalah para bangsawan yang pemurah loh" lanjut Struitch bangga.


Sementara Kleid hanya mengangguk angguk setuju.


'Hah!? Kenal kepalamu! Jika aku tidak bertanya pada Pak Tua Qin tempo hari pastinya aku takkan mengenal kalian sih, toh kalian beruntung masih bisa kuingat' ucap Raka dalam Hati.


"Yah. Apapun itu, kau benar benar beruntung bisa bertemu dengan kami hari ini, pangeran Arc"


'Hoo.. kalian tidak menganggap statusku sebagai pangeran ya? Bahkan kalian merasa kalian lebih tinggi bagiku kan?' Gumam Raka dalam hati.


"Ahaha.. kurasa begitu, dan juga, dimana tuan Glad dan yang mulia pangeran Azasky?" Tanya Raka polos.


"Oh? Tuan Glad dan pangeran sedang beradu pedang di dojo."


"Yah. Karena kita bertemu disini bagaimana menurutmu jika bergabung dengan kami?" Ucapnya dengan ekspresi licik.


"Huh?"


Rietch lantas maju selangkah sejajar dengan Raka.


"Bukankah kita punya niat yang sama? Arcnight? Berhenti berpura pura dan buka topengmu itu.. kami tahu kau sama dengan kami" bisiknya.


Raka terdiam. Ekspresinya menggelap, namun tak berapa lama ia tersenyum dan mengangkat wajahnya.


"Oh? Anda benar benar orang yang hebat, tuan Rietch.. hanya bertemu beberapa kali tapi anda bisa menebakku dengan benar." Ucap Raka dengan ekspresi liciknya.


Rietch terkejut mendengar ucapan Raka.


Ia menoleh dan bertatapan dengan Raka.


Sementara Struitch dan Kleid nampak tersenyum bahagia.


'Licik!'


'Bahaya'


'Aku harus pergi'


'Ini tidak benar'


'Ada yang salah dengannya'


'Apa apaan ekspresi itu'


'Dia bukan orang yang baik'


'Dia'


'Ibliss'


Seketika pikiran Reitch buyar saat melihat ekspresi Raka.


Secara mendadak, instingnya melakukan pertahanan diri. Memperingatkan otaknya untuk berstimulasi dengan tubuhnya.


Tapi apa yang tidak diketahui adalah, Raka mengambil perhatiannya, menyebabkan tubuhnya kehilangan kontrol dan terpaku sesaat. Seolah olah ia tidak bisa memalingkan pandangnya dari ekspresi Raka.


Raka lantas memalingkan wajahnya, dan kembali melangkahkan kakinya.


Ia tertawa kecil.


"Yah. Aku minta maaf sebelumnya, tapi orang rendahan seperti kalian tidak pantas untuk membuatku membuka topeng, Tuan Rietch"


"A apa maksudmu!" Ucap Kleid dan Struitch.


"Tsk. Cari saja artinya sendiri, lagipula kurasa tuan Reitch bisa mengerti ucapanku kan?" ucap Raka melewati kedua tuan muda itu.


Keduanya meluncurkan tinjunya kearah Raka. sesaat sebelum mengenai tengkuk Raka yang sedikit lebih tinggi dari mereka, Raka menoleh dengan tatapan dan senyum ramah.


"Ah. Dan juga katakan pada guru etika kalian, untuk memperbaiki etika kalian, lakukan sebelum terlambat" ucap Raka ramah.


Seketika kedua orang itu melayangkan pandangnya pada sosok Raka yang berjalan melewati mereka.


'Gawat!'


'Bahaya'


'Jangan lihat'


'Cepat menghindar'


Sama seperti Rietch, intuisi mereka kembali bergejolak.


Sementara Raka kembali melangkah maju tanpa menghiraukan mereka bertiga yang tubuhnya nampak bergetar hebat.


Raka terus melangkah seolah olah tidak terjadi apa apa padanya.


'Yah. Ini adalah hari yang indah jika tidak ada trio k*tu itu kan?' Gumamnya dalam hati.


Sementara itu, di balik sebuah tembok nampak seorang pria tua dengan satu kacamata yang menggantung di mata sebelah kananya tertawa kecil memandangi punggung Raka yang semakin menghilang.