Creator of Death: True Darkness

Creator of Death: True Darkness
Darkside 2




'Yang mulia, kali ini hamba sudah senang dapat bertemu dengan yang mulia, tapi kemunculan jubah putih si*lan itu membuatku muak, jadi yang mulia, anda berhati hatilah terhadap Evangelion, hanya pakaiannya yang berwarna putih, tapi tidak dengan jiwanya.. anda tenang saja, anda tetaplah tuan saya yang tak tergantikan'


Ucapan Side menggema dalam benak Raka.


Raka terkejut dan merasakan adanya kebenaran dalam ucapan iblis musuhnya itu.


Tapi kenapa? Kenapa iblisnya justru memihak padanya? Dan bahkan terasa seperti memuja muja dirinya. Perkataannya sebelumnya memanglah benar, tapi itu hanyalah perasaannya saja saat melihat ada tatapan kebencian Side kepada Andreas.


"Ah, aku mengamatimu, Akara.. kau benar benar diluar ekspektasi." Ucap pria berjubah putih yang dipanggil Evangelion itu.


"Ya yang mulia, di dia" Ucap Andreas dengan merangkak memohon padanya


Krakk..


Terdengar suara retakan dari tubuh Andreas.


"Ya yang mulia inii"


"Kau sudah tak berguna, Andreas"


Ucap Evangelion dengan senyum licik.


"Apa anda sedang mengancamku? Tuan Evangelion?" Ucap Raka tenang.


"O oh? Kau benar benar lulus penilaianku, Akara"


"Kau seharusnya mengerti bukan? Apa konsekuensi dari merusak mainanku? Aku sedang berwelas asih padamu, bergabunglah denganku, dan aku akan menuntunmu menuju puncak tertinggi diatas semua oramg didunia ini" Ucap Evangelion mengulurkan tangannya.


Raka bereaksi, ia melangkah maju dan hendak meraih tangan Evangelion.


Evangelion menatapnya penuh dengan hasrat dan tatapan licik.


Namun, berbeda dari yang dipikirkan Evangelion, Raka justru menarik tangan Evangelion dan menatapnya dengan tajam.


"Oh? Apa menurutmu aku adalah boneka lemah yang sama dengan Andreas huh?" Ucap Raka tersenyum penuh arti.


Evangelion balik menatapnya dengan marah.


Raka melepas genggamannya dan kembali mundur.


Raka masih menatapnya dengan serius.


"Kekeke.. baiklah.. jika kau tidak mau maka aku hanya bisa menekanmu dan menunjukkan apa konsekuensi dari melawan hukum mutlak"


Ucap Evangelion dengan tatapan liciknya.


Evangelion mengangkat tangannya, seluruh tanah bergetar dan piringan formasi mengepung Raka.


Ketiga Jendral bereaksi dan mencoba untuk menyerang Evangelion.


Namun, perbedaan kekuatan terlalu besar, Evangelion menyerang mereka dengan sekali serang. Dalam sekejap, tubuh mereka terpental dan masing masing dari mereka meuntahkan sejumlah darah.


Raka bereaksi, dia mundur beberapa langlah dengan cepat. Tapi terlambat baginya, formasi sudah mengepungnya dan tidak ada jalan keluar baginya.


Ia menggigit bibirnya panik, ia tahu seberapa bahayanya formasi ini baginya, Rantai penyiksa.


"Akara, biar kutanyakan sekali lagi, apa kau mau bergabung denganku?" Ucapnya manis.


Raka menatapnya dingin, masih dengan tatapan kebencian dalam dirinya. Ia tak mengerti, tapi sebuah perasaan marah dan benci bergejolak dalam dirinya.


'Nonius'


sebuah nama melintas dalam benaknya.


Keugh! Raka tertunduk dan meremas jantungnya nyeri.


Ia berlutut lemas sembari terus meremas jantungnya. Seteguk darah merah menetes dari sudut bibir kecilnya.


Evangelion menyeringai. "Hah, akara.. jika seandainya kau mau bergabung denganku kau tak perlu merasakan rasa sakit ini, Akara.. jadilah mainanku dan akan ku beri segalanya dalam hidupmu" ucapnya penuh kebusukan.


"Kau brengs*k!" Ucap Raka mencoba menahan rasa sakitnya.


Namun tetap saja, mau seberapa keras ia berusaha, rasa sakit itu terus bertambah.


Tersirat dalam benaknya sebuah perasaan aneh, dan banyak nama nama melintas dalam pikirannya.


'Nonius dan Raka'


'Jesslyn dan Chelsea'


'Rome dan Boby'


'Cecilia dan Lucia'


'Arrgh.. si*lan apa apaan ini!' Teriaknya dalam hati.


Jantungnya meradang, tubuhnya benar benar limbung, pandangannya buyar.


Ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi.


Sebuah suara berbisik padanya.


'Terlelaplah dan temui aku, alasanmu'


Prang..


Sebuah pedang menusuk formasi itu hingga pecah. Sebuah bayangan familiar tersaji dihadapannya.


"Ma master.." ucap Raka lemah.


"Maaf ya, aku benar benar bodoh hingga tak berpikir dia akan datang dan berniat merekrutmu, Evangelion" ucap Yama dengan tatapan dingin.


"Ti tidak, pergilah.. jika anda ugh" Raka mencoba berdiri, namun lagi lagi tubuhnya tak mampu bertahan.


"Terlelaplah,," ucap Yama mengelus Rambut muridnya itu.