Creator of Death: True Darkness

Creator of Death: True Darkness
Qrystial City Awakening




Dua tahun kemudian.


Kota kecil Qrystial perlahan lahan berubah menjadi kota kecil penuh peradaban.


Mulai dari sektor perdagangan, pendidikan, kesenian, hingga kemiliteran. Kota ini menjelma menjadi kota penuh cahaya hingar bingar kehidupan.


Tahun ini, tahun kedua setelah perang besar.


Seperti rencana yang dibuat sebelumnya, berita kematian Raka sebagai Diablo tersebar dengan luas.


Bersamaan dengan berita kematian itu, berita tentang penyatuan kota Ryent dan kota Qrystial juga tersebar.


Semenjak itu, kota kecil Qrystial sudah berkembang dan banyak mengalami perubahan.


...●●●...


"Hei apa kau sudah dengar berita soal Nightingale?" Ucap seorang pria bangsawan dengan cawan bir yang masih ditangannya.


"Hoo? Apa maksudmu soal pelelangan besar itu?" Sahut pria bangsawan di hadapannya.


"Tentu saja, menurutmu apa lagi huh!?"


"Yah, tempat itu sedang naik daun bukan?"


"Uhm.. memangnya ada apa dengan tempat itu?"


"Hah.. itu tentang keluarga Kaelmiff.. kudengar putra termudanya membuat masalah dengan pelelangan itu akhir akhir ini" Ucap pria bangsawan membuka topik.


"Uhm? Apakah dia bodoh huh!?" Ucap pria satunya lagi dengan serius.


"Huh.. yah itulah yang kupikirkan, tapi bagaimanapun itu mungkin saja jika dia adalah putra bungsu Kaelmiff." Ucapnya mengakhiri percakapan.


"Ah, permisi, maaf mengganggu waktunya"


Kedua pria itu menoleh secara serempak. Nampak dihadapan mereka seorang remaja pria berusia belasan tahun berdiri dengan jubah hitam panjangnya. Remaja itu tersenyum hingga matanya nampak menyipit ramah.


"O oh?" Mereka tersadar dari lamunan mereka fan merespons remaja itu.


"Ah, sebenarnya, apa yang terjadi dengan Azasky? Kelihatannya ini lebih ramai dibanding biasanya" ucap remaja itu.


"Hoo, nak kelihatannya kau orang baru ya disini?" Ucap salah seorang pria.


Remaja pria itu hanya tersenyum mengiyakan.


"Hoho pantas saja kau nak!" Ucap pria itu renyah.


"Kalau begitu saya akan duduk disini mendengar cerita dari tuan.."


"Huh, pasti yang kau maksud adalah tentara tentar itu bukan?" Ucap pria itu mengarahkan pandangnya keluar ke arah pasukan yang nampak sibuk berlalu lalang.


Remaja itu mengangguk membenarkan.


"Ah. Ini tentang kerajaan tetangga kita, Arcnight"


Remaja itu terdiam sejenak dengan ekspresi yang nampak terlihat serius.


"Ah. Itu benar! Akhir akhir ini kerajaan yang hilang itu nampak kembali menunjukkan eksistensinya. Karena itu, keluarga kerajaan memutuskan untuk membatasi kegiatan kita diluar Azasky."


"Oh? Apa itu benar?" Ucap remaja itu.


"Tentu saja benar. Biar bagaimanapun, jika kerjaan itu kembali muncul, itu artinya perisai yang membagi kerajaan arcnight dengan dunia luar mulai berubah. Jika itu yang terjadi maka miasma kemungkinan besar akan menjangkit." Ucapnya dengan ekspresi merinding.


"Jadi begitu ya," ucap remaja itu puas. Ia kemudian berterimakasih dan berjalan pergi keluar dari bar itu.


"Kai" Ucap remaja itu.


"Hormat kepada yang mulia," sesaat kemudian muncul seorang pria dengan rambut putihnya memberi hormat pada remaja itu.


"Katakan pada Alice untuk segera mengambil stempel yang kupesan."


"Baik yang mulia."


"Sesuai titah yang mulia".


"Pergi".


Setelah beberapa saat, ia nampak berhenti dan membuka tudungnya. Nampak helaian rambut hitam dengan kilauan biru berterbangan ditiupkan oleh angin. Mata biru gelap langitnya nampak begitu cemerlang dengan serius memperhatikan lalu lalang orang orang. Bibir mungil dengan warna merah cerah mengatup dan sedikit menunjukkan lengkung senyumnya.


Ya, dia adalah Raka, pangeran kedua kerajaan Arcnight dan pemimpin ghost monarchy.


Meskipun sudah dibubarkan, pada kenyataannya mayoritas mantan anggota ghost monarchy masih mengabdi pada Raka.


Tahun ini, adalah tahun ketiga etelah perang besar. Raka sendiri sudah berumur 15 tahun, bahkan beberapa bulan lagi akan menginjak usia 16 tahun.


Terhitung 10 tahun semenjak ia terpisah dari keluarganya. Dan tergitung sudah 6 tahun sejak pertemuan pertamanya dengan gurunya, Yama.


...●●●...


Raka melangkahkan kakinya memasuki mansion tempat ia tinggal dan mengurus organisasi selama ini.


Nampak para pelayan dan penjaga menunduk hormat tatkala ia memasuki mansion.


Raka hanya terus berjalan tanpa memberi balasan apapun.


Krieet..


Ia membuka pintu ruang belajarnya.


Nampak sebuah kursi dan meja belajar tersusun dihadapan ruang itu, sejajar dengan jendela luas yang menyajikan gemerlapnya kota.


Nampak pula jejeran lemari penuh buku buku yang tersimpan dengan rapih memenuhi ruang itu.


Raka melangkah dan mendudukkan tubuhnya diatas kursi itu.


Ia kemudian mengambil selembar kertas putih dan sebuah pena kecil dengan ukir emas diatasnya.


Sesekali ia melihat keluar jendela.


Dan kemudian meneruskan menulis.


Tok. Tok.


Terdengar suara ketukan pintu.


"Masuklah". Ujarnya dingin.


"Saya Alice, ingin mengantarkan stampel yang anda minta, Yang mulia"


"Oh? Tentu."


Alice kemudian masuk dan menyerahkan sebuah kotak kayu kecil berwarna hitam.


Sesaat setelahnya, Alice kembali keluar.


Ruangan kembali menjadi sunyi.


Beberapa saat kemudian, ia mengambil kotak hitam yang berada di sudut meja dan membukanya.


Nampak sebuah stampel berbentuk phoenix dan naga dengan corak merah dan emas itu tersimpan di dalam kotak itu.


Raka meraihnya dan mengamati stampel itu lekat.


Setelah beberapa lama ia kembali menulis.


Pena kecil dengan corak emas nampak menari nari dengan terampil diantara jari jemari Raka.


Mata cemerlangnya nampak berkedip kedip sesekali dengan lembut. Suasana ruang itu begitu sunyi.


Setelah beberapa saat menulis, ia meraih stampel dan mencelupkan stampel itu ke bak tinta.


Raka memejamkan matanya sebentar, memutar kursinya tepat kearah jendela luas dibelakangnya.


Ia memandangi keadaan disekitarnya dengan begitu lekat.