
Disebuah ruangan, nampak sebuah meja makan besar, dengan kursi kursi berwarna emas tertata rapi.
Diatasnya nampak sejumlah hidangan besar dengan aneka makanan dan minuman ala kerajaan. Begitu mewahnya.
Raka berjalan beriringan dengan Albert, mereka memasuki ruangan yang didalamnya sudah terdapat tiga orang yang duduk dengan tenang diatas kursinya masing masing.
Dia adalah Queensha yang nampak tengah mengiris sebuah apel ditangannya.
Disampingnya nampak dua orang anak. Yang satunya seharusnya seumuran dengannya, ia anak laki laki dengan rambut pirang emasnya dan mata merahnya. Disampingnya nampak seorang gadis kecil berambut coklat manis dan mata ungu berysia sekitar lima tahunan.
Raka memandang mereka berdua dengan intens.
Mereka berdua nampak berebut sebuah apel yang sudah dikupas oleh ibu mereka.
Sementara Raka hanya tersenyum heran.
Albert duduk dan menghela nafasnya panjang. Begitupun Queensha.
Sementara Raka terdiam dengan raut bertanya tanya.
Raka kemudian berdiri dibelakang kursi disamping kedua anak yang nampak bertengkar itu.
Dihadapannya kedua pasangan itu terlihat dengan raut wajah rumit memandangi kedua putra putrinya yang masih bertengkar.
"E eh? Apakah ini yang mulia pangeran dan putri kerajaan Azasky? Dan juga, bolehkah saya duduk disamping kalian?" Sapa Raka
Kedua anak itu tidak mendengarnya dan masih terus bertengkar satu sama lain.
Keduanya tak menghiraukan sapaan Raka.
Raka nampak tersenyum menahan emosinya,
Sementara Albert dan Queensha nampak menggelap menahan emosinya.
Kemudian Queensha memberi isyarat pada Raka untuk duduk saja tanpa mempedulikan mereka.
Raka kemudian menarik kursinya dan duduk dengan tenang.
Slap!
Sebuah bayangan biru nampak menembus apel
Apel yang diperebutkan kemudian terbelah menjadi dua,
Merasakan aura amarah dari kedua orang tuanya, keduanya berhenti dan menatap kedua orang tua mereka.
"Yang mulia pangeran dan putri? Bisakah kalian berhenti merebutkan sebuah apel tak berguna itu huh!?"
Albert mengangguk.
"Dan juga bukankah apel itu sudah dibelah menjadi dua?" Ucapnya menambahi peringatan istrinya.
Mereka berdua mengangguk dengan kompak.
Keduanya kemudian memutuskan untuk memakan apel itu dengan cepat. Meskipun ibu mereka nampak ramah, tapi pada dasarnya itu adalah sebuah ancaman bagi mereka.
Sementara Raka hanya tersenyum kecil tidak tahu apa yang perlu ia lakukan.
"Raka, kau juga makanlah.." ucap Queensha menyadari pandangan Raka yang terarah pada kedua putra putrinya.
Boby yang baru sadar akan kehadiran seseorang disamping adiknya meliriknya dalam.
"Ssst!" Bisik boby berusaha menyadarkan adiknya.
Tapi Stelia tak peduli.
Raka yang merasa diperhatikan menunjukkan ekspresi rela matinya, bagaimanapun, ada apa dengan intensitas perhatiannya, diperhatikan oleh pelayan saja sudah cukup merinding baginya.
Ya, para pelayan yang mendampingi nampak memperhatikan dan bertanya tanya tentang siapa anak yang duduk dihadapan raja dan ratu ini?
Queensha yang sadar akan isyarat Raka untuk melepaskannya dari perhatian menahan tawanya.
Ia tersenyum.
"Hah.. inilah yang terjadi jika kalian berdua tidak memperhatikan dan peka yang mulia pangeran dan putri" ucapnya menghela nafasnya panjang.
"Maaf, yang mulia Ratu" ucap keduanya.
"Ini adalah Raka, pangeran kedua kerajaan Arcnight, mulai saat ini dia adalah saudara kalian dan kalian adalah saudaranya, dia kembali untuk menyelesaikan masalah miasma yang menimpa keluarganya, dimasa depan, kalian harus membantunya" ucapnya.
Raka mengangguk
"Terimakasih, yang mulia raja dan ratu yang mau membantu keluargaku" ucapnya tulus
"Kakak!" Ucap Stelia seraya membalik tubuhnya terkejut.
Meskipun ia duduk bersebelahan, sedari tadi ia belum melihat pria disampingnya karena masih takut dengan omelan ibunya.
"""Eh? Stelia? Apakah kau pernah bertemu dengannya?""" Ucap ketiga orang itu terkejut.
Raka terkejut dan tersenyum melihat wajah mungil dihadapannya.
"Ah. Kami bertemu saat acara lelang" ucap Raka.
Stelia mengangguk dan mulai menceritakan segalanya.
Raka hanya tersenyum pasrah saat itu.
Sementara Albert dan Queensha bertatapan.
'Ini memang takdir! Pada dasarnya kami sudah menemukannya bahkan sebelum dia menemukan kami!' Seru mereka dalam hati.
Sementara Bobby nampak masih memandang lekat sosok anak seumurannya itu.
'Ini.. Deja Vu' gumamnya dalam hati.