Creator of Death: True Darkness

Creator of Death: True Darkness
Three Successors of Koga: Trouble




"Kakak, apa kau yakin jika tujuan yang dikatakan ayah itu disini?" Ucap seorang gadis berusia 18 tahunan dengan kulit coklat eksotis dan mata emasnya. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai ditiup angin. Dia adalah putri tertua raja Alph, Anastasya Aonaran Koga.


"Hmm? Entahlah, tapi yang jelas kita harus berusaha" jawab seorang pria berambut hitan dengan kulit gelap eksotis lembut. Dia adalah putra sulung raja Alph, Nouval Aonaran Koga.


Dibelakang mereka ada seorang pemuda berambut hitam dengan kulit gelap, mirip keduanya. Yang nampak sedang melirik dan memperhatikan sekitarnya. Dia adalah putra kedua Raja Alph, Alvanava Aonaran Koga.


"Oi! Alvan! Bisakah kau tidak diam saja!? Setidaknya, bantu aku mencari tempat pertemuan itu!" Ucap Anastasya dingin menghadap pemuda dibelakangnya.


"Guh! Bagaimana aku bisa membantumu kak!? Kau saja ribut tidak ajak ajak" Gerutu Alvan pada kakak perempuannya itu.


"Kauuu!" Anastasya nampak marah dan hendak meraih kerah baju Alvan, sebelum Nouval yang ada disebelahnya menarik baju bagian belakangnya.


"Ah, sudahlah, Alvan, bisakah kau mencari informasi? Setidaknya kau cukup hebat dibandingkan denganku" ucap Nouval hangat.


"Tentu!" Balas Alvan antusias. Ia lantas berpaling kearah Anastasya dan menunjukkan separuh lidahnya mengejek.


"Tch! Hanya mencari informasi saja!"


"Haeh, kalian ini benar benar tidak bisa akur ya" ucap Nouval menengahi adik adiknya.


Keduanya lantas menepi ke sebuah penginapan, sementara Alvan nampak berbincang bincang dengan para pedagang seraya nampak menawar.


Tak berapa lama, ia kembali.


"Bagaimana?" Tanya Nouval penasaran tatkala Alvan kembali.


"Ah, bagaimana ya, informasinya sedikit membingungkan" Jawab Alvan sembari menggaruk rambutnya yang sebenarnya tidak gatal.


"Tsk! Bilang saja tidak dapat informasi"


"Tch! Iri bilang aja"


"Apa kau bilang!?" Protes Anastasya kesal.


"Ah.. sudah, apa informasinya?" Tanya Nouval penasaran.


"Jika kita bertanya ke beberapa pedagang tentang siapa yang memimpin kota, mereka pasti akan menyebut nama Tristan. Tapi saat aku berkata jika aku memiliki urusan dengan pemimpin Azadys, mereka akan menjawab Akara. Dan itu cukup membuatku bingung," ucap Alvan serius.


"Yah, aku paham, maksudmu, pasti ada ketimpangan informasi disini kan? Menurut informasi dari ayah, pemimpin Azadys kemungkinan besar memiliki basis kepemimpinan di Qrystial, tapi para penduduk mengenal seseorang bernama Tristan sebagai pemimpin kota ini bukan?" Ucap Anastasya membalas.


Alvan mengangguk membenarkan.


"Itu artinya, jika tidak ada ketimpangan informasi, maka hanya ada satu kemungkinan tersisa, yakni ada dua kepemimpinan di kota ini. Satu yang dikenal Tristan, dan satu yang dikenal Akara" Jawab Nouval menanggapi ucapan adik adiknya.


Keduanya sepakat mengangguk membenarkan ucapan kakaknya.


"Pertanyaannya, kemana kita akan pergi? Haruskah ke balai pemerintahan, atau ke rumah lelang Azadys?" Tanya Alvan.


"Ugh.." Ekspresi keduanya menjadi suram.


Kruyuuuk...


Sebuah suara mengejutkan ketiganya. Alvan tertawa kecil.


"Ah, aku sedikit lapar" ucapnya polos.


"Kau ini! Urusan kita saja belum sele.."


"Ayo kita makan" ucap Nouval menengahi.


"Yeay!" Ucap Alvan girang.


Merekapun memutuskan untuk mencari sebuah rumah makan untuk mengganjal perut mereka.


Hari sudah cukup petang saat mereka keluar dari rumah makan dan memutuskan untuk kembali mencari orang yang disebut Akara- Raka.


Baru beberapa langkah sebelum sesosok bayangan berlari dan merebut tas berisikan uang milik mereka.


Anastasya bereaksi dengan cepat. ia lantas berusaha menggaet jubah pria itu, tapi kecepatannya masih kalah.


"Kakak! Tasnya!" Teriak Anastasya mengejutkan Nouval dan Alvan. Keduanya lantas berpaling menghadap Anastasya dan secara bersamaan berlari dengan cepat mengejar bayangan itu.


Tapi tetap saja, bayangan itu terlampau cepat dibandingkan dengan kecepatan lari mereka.


"Tsk! Sial! Alvan, jangan hiraukan aku. Setidaknya dapatkan tas dan isinya kembali" ucap Nouval terhenti.


Sementara Anastasya nampak menyusul mereka dari belakang.


Alvan mengangguk, "Baiklah, aku akan mengejar pencuri itu. Kak Tasya, tolong jaga kakak"


"Hosh hosh, apa yang kau katakan huh!? Dia adalah kakakku! Cepat pergi sana!" Protes Anastasya dengan cepat.


Sementara Nouval hanya tersenyum masam.


Alvan berbalik dan berlari lebih kencang, ia menembus kerumunan dengan sangat baik. Hingga langkahnya terhenti di suatu gang gelap dengan suara yang berisik.


"Haha! Bukankah ini keberuntungan? Bisa mendapat tangkapan dari orang orang luar yang kaya?" Ucap sesosok dengan suara beratnya.


'Dia adalah pria kekar' Ucap Alvan dalam hati.


Yah, ini adalah kemampuan Alvan untuk menyatukan indranya dengan benda benda keras disekitarnya, baik itu kayu, maupun batu.


"Keke! Itu benar, siapa yang menyangka jika kota kecil dan terpencil seperti ini mendatangkan banyak turis dan saudagar, yang pasti mereka kaya haha!" Ucap sebuah suara serak kemudian.


'Dia seharusnya pria tua'


"Yah, bagaimanapun kita cukup beruntung dapat lolos dari pengintaian pemerintah Qrystial, kudengar mereka melarang adanya kriminalitas terhadap orang luar." Ucap sebuah suara ringan turut menanggapi ucapan kedua rekannya.


'Dia orang normal pada umumnya'


'Aneh, kenapa aku tidak menemukan pria berjubah itu!?'


"Hiks hiks" sebuah tangisan kecil mengejutkan Alvan.


"Tch! Berhenti menangis! Bukankah kau bekerja untuk mengobati ibumu huh!? Jika begitu cepat pergi dan kembali bekerja"


'Aku belum bisa menyatukan penglihatanku dengan objek, tapi aku bisa mendengarkannya'


'Apa mungkin suara tangisan itu adalah bayangan berjubah? Sial! Aku tidak bisa mendengar suaranya dengan pasti, dan sulit untuk kesana mengambil tas bukan?' Ekspresi Alvan merumit.


Bagaimanapun saat ini apa yang ada ditasnyalah yang terpenting. Itu adalah giok pakta perjanjian ayahnya dengan seorang bangsawan dari Arcnight.


"Oh ya! Kebetulan kau disini Mike!" Seru suara berat.


"Hmm? Memangnya ada apa?" Tanya suara ringan.


"Yah, itu. Disana ada satu barang lagi, kelihatannya cukup berharga tapi kami takit jika menjualnya, identitas kami ketahuan" ucap suara serak.


"Oh? Bukankah ini sebuah giok pakta? Jika aku lihat dengan benar seharusnya ini dibuat dari giok darah hewan legenda, dan di selubungi oleh giok hijau dari motifnya yang halus, seharusnya ini pekerjaan demi dwarf. Kerja bagus. Untungnya kalian tidak terkecoh. Jika seandainya benda seberharga ini dijual, meskipun itu mahal, tapi jika kita menjualnya ditempat yang salah itu akan berbahaya" Ucapnya tenang.


'Gawat! Jika seandainya pria itu tidak memberitahu yang lain mungkin aku bisa mengecoh mereka. Tapi apa apaan dengan analisis tajamnya, meskipun dia belum menebak Arcnight, dua sudah menebak Koga! Berpikirlah, ayolah Alvan'


'Coba kau pikirkan, jika itu adalah kak Tasya, strategi apa yang akan dia lakukan?'