
Slap!
Sebuah belati melesat dengan cepat menyabet tangan pria itu. Alvan menghindar dan mundur beberapa langkah.
"Aargh! Sialan! Siapa! Siapa yang menyerangku!?" Pria itu mengerang kesakitan.
Sementara Alvan nampak bingung sesaat.
"Oh? Sakit? Kukira kau sudah sebegitunya menginginkan uang hingga tak punya rasa sakit lagi" ucap sesosok pemuda dengan jubah hitam terduduk di sebuah dinding yang cukup tinggi.
Thud!
Pemuda itu turun dari tempatnya, menengadahkan wajah putihnya yang begitu cantiknya, dengan surai hitam kebiruannya.Dan mata biru kristalnya yang terbuka lebar, dengan sebuah senyum terpasang di wajah dengan aksen cantiknya tepat dihadapan Alvan dan pria itu.
Alvan terkejut, "War warna rambutnya, navy?"
Sekilas ia teringat dengan ucapan ayahnya, tentang kaum berambut navy yang langka.
"Hmm?" Pemuda itu- Raka menoleh ke arah sumber suara. Dihadapannya pemuda sebaya dengannya dengan surai coklat dan kulit gelap dengan mata emas nampak terkejut.
"Oh? Menarik" Raka tersenyum sederhana.
Pria itu lantas memanfaatkan situasi yang terjadi dan mencoba kabur dari keduanya.
'****! Bagaimana bisa datang orang ini!? A aku, tidak bisa melawannya.. kekuatannya, diluar nalar! Kemana dua pria bodoh itu sih!? Kenapa mereka lama sekali!?' Ucapnya dalam hati.
"Hmm? Ada apa? Bukankah terlalu cepat bagimu untuk pergi?"
"Gasp! A anu,, hais, biarkan aku pergi, jika tuan tuan memiliki kepentingan.. a aku.. aku tidak ingin mengganggu,"
Dash!
Raka menendang sebuah dinding didekatnya. Sebuah retakan yang cukup besar terbentuk di dinding itu.
"Menurutmu? Siapa yang mengizinkanmu pergi huh!?" Ucap Raka tajam.
"Ah! A anu.. bisakah kita berbicara dengan tenang, maksudku, yah kita tidak ada dendam sebelumnya.. biarkanlah pria malang ini pergi ya"
"Oh? Tidak ada dendam ya? Apa menurutmu setelah mengacau diwilayahku, kau bisa pergi begitu saja? Jika memang benar begitu, pemerintahan Qrystial bisa dipastikan akan runtuh dalam sekejap mata"
"Ah! I ini.. hamba memo.."
Belum sempat menyelesaikan ucapannya. Tangan kecil Raka segera melesat mencengkeram erat leher pria dihadapannya.
"Katakan pada tuanmu, urusannya adalah denganku, bukan dengan yang lainnya. Jika ingin menghancurkanku, datanglah kehadapanku.. hutang ini, akan kubalas dengan darahnya!"
Pria itu terkejut dan menunjukkan ekspresi tertantangnya.
"Keugh! Ternyata itu anda, yang mulia.. jika begitu, aku tidak akan sopan"
Boom!
Pria itu meledakkan dirinya. Sembirat darah membasahi sekitar.
Tring.. tring..
Giok itu terjatuh pelan bersamaan dengan darah yang berceceran.
Alvan terkejut, bukan hal yang asing baginya melihat eksekusi atau kematian seseorang dalam pertarungan. Tapi, melihat seseorang meledakkan dirinya, itu adalah hal yang baru bagi dirinya.
Pria itu meledakkan tubuhnya sendiri, sedari daging, tulang, hingga organ dalamnya tak bersisa. Semuanya menjadi merah darah.
"Ba bagaimana bisa" Alvan terbata bata.
Raka berdiri mematung, tangannya nemoak mengelap darah merah yang membasahi tubuhnya.
"Kau benar benar menjijikkan, Joey".
"Ka kau, apakah tidak apa?" Suara Alvan mengejutkan Raka.
Ia lantas berbalik dan mengulurkan giok masih dengan darah yang berlumuran.
"Ah, maaf terlambat. Tapi, selamat datang di Qrystial, yang mulia Pangeran Alvanava Aonaran Koga," Raka tersenyum.
"A ah! Ka kau? Mengenalku?"
Raka hanya tersenyum dan memiringkan wajahnya.
"Ah, dan juga.. maaf karena membiarkanmu melihat adegan menjijikan ini" ucap Raka dingin seraya melirikkan matanya yang penuh amarah ke sekumpulan noda darah merah.
"Hmm? Benar juga aku lupa mengenalkan diriku sendiri ya haha.. aku.."
"Alvan!" Sebuah suara familiar memanggil Alvan. Alvan lantas menolehkan wajahnya kearah dua orang yang berlari setengah mati.
"Apa kau tidak apa!?" Tanya Nauval dengan nada khawatir sembari memutar putar tubuh adiknya itu.
Sementara Tasya nampak membungkukkan badannya mengambil nafas.
"Tsk. Kau benar benar be.. Kau!?" Tasya terkejut saat mengalihkan pandangnya pada Raka.
Raka hanya tersenyum ramah pada wanita itu.
Tubuh Nauval membeku tatkala melihat pemuda seumuran adiknya dihadapannya itu.
"Hmm? Apa kakak mengenalnya?" Tanya Alvan polos.
"Kuh! Kau bodoh!" Ucap Tasya sengit.
"Ah, jika tidak salah kau.."
"Hormat kepada yang mulia, maaf kami terlalu lama!" Sebuah suara muncul mengejutkan mereka berempat. Nampak dari arah berlawanan dua sosok bayangan dengan jubah hitam berlutut menghadap Raka.
"Sigh. Tidak perlu dipikirkan" Raka menghela nafasnya.
"A anu.. apa anda baik baik saja yang mulia!?" Tanya seseorang diantara mereka.
"Menurutmu huh!?" Dengus Raka dingin.
"Tsk. Menurutmu tuan kalian itu apa huh!?" Sebuah suara ringan mengejutkan mereka.
"Ka kakak! Apakah ini darah orang itu!? Hei! Kalian, berikan jubah kalian!" Ucap seorang anak berusia 10 tahunan itu pedas.
"Ba baik pak!" Mereka berdua lantas berdiri, melepas jubah mereka dan memakaikannya pada Raka untuk menggantikan jubahnya yang terkena ceceran darah. Tak lupa mereka sedikit membersihkan sedikit rambut Raka yang ternoda. Sementara itu, Raka hanya terdiam.
"Ah. Terimakasih" ucapnya.
"Ka kau! Bukankah kau!?" Alvan terkejut melihat anak yang tadi kabur dari ketiga pria itu.
"Alvan, kau mengenalnya?" Tanya Nauval terkejut.
Alvan mengangguk. "Dia adalah anak yang mencuri tas kita tadi, dan setelah kuikuti, dia berhenti disini dan memberikan tasnya pada tiga orang tadi. Lalu, pria yang mati meledakkan diri itu, dia memanfaatkan gioknya untuk memerasku. Dan dia menginginkan status kebangsawanan di kerajaan kita kak. Tapi sebelum itu, aku berusaha untuk membuat anak itu lolos dulu. Hei, bukankah ibumu sakit!?"
Anak laki laki itu sedikit tersenyum masam.
"ah.. ini" ucapnya seraya menggaruk rambutnya yang sebenarnya tidak gatal.
Raka hanya menggelengkan kepalanya heran.
"Sigh.. baiklah, walaupun agak telat dan tidak seharusnya. Tapi kuucapkan selamat datang kepada para utusan raja Alph, yang mulia pangeran pertama, tuan putri mahkota, serta pangeran kedua kerajaan Koga. Aku Raka Azalea Putra Arcnight, pangeran kedua kerajaan Arcnight. Keberadaanku disini sebagai Akara, tuan Azadys serta pemilik kota ini. Dan juga, ini Ryanhard Aprhaciel, wakil ketua divisi intelijen Azadys." Ucap Raka sedikit membungkukkan badannya hormat.
Sudut mulut Alvan berkedut. "Ha hah!? Kau! Kau orang yang dimaksud ayah!? Tapi bukankah kau.." ucapnya tersekat.
Nauval membungkam mulut adik kecilnya itu. Ia hanya bisa tersenyum menahan malu. "Yah, senang bertemu denganmu, pangeran kedua Arcnight. Karena anda memanggil kami pangeran dan putri, maka seharusnya anda tidak keberatan jika kami memanggil anda pangeran bukan?" Tanya Nauval sopan.
"Hmmm mmmp hmph!.. hah hah" Alvan terkejut saat tangan kakaknya membungkam mulutnya.
Sementara Anastasya nampak berdiri mematung, masih dengan ekspresi tak percayanya.
"Yah, baiklah, kalau begitu ada baiknya jika kita membicarakan kesepakatan di tempatku" ucap Raka memecah keheningan.
...●●●...
Merekapun akhirnya pergi menuju balai pemerintahan Qrystial. Raka menuntun ketiganya ditengah keramaian kota.
Dibelakangnya nampak Ryan dengan ekspresi lugunya tersenyum sementara ketiga penerus masih menunjukkan ekspresi tak percaya mereka. Dibelakang mereka, dua orang pengikut Raka yang nampak tersenyum senyum bangga dengan pemimpin muda mereka.
Raka menghentikan langkahnya didepan sebuah bangunan tinggi dengan eksterior yang nampak semi kuno. Begitu pintu terbuka, hiruk pikuk kesibukan didalamnya teredam, terganti dengan penghormatan dari seluruh orang didalamnya. Mereka membungkuk sopan saat Raka berjalan melewati mereka tanpa ragu.
'Tunggu! Bukankah dia seumuran denganku!?' Pikir Alvan dalam hati.
'Yah, orang berbakat memang beda' ucap Nauval.
'Gah! Adik bodohku itu adalah pangeran yang berbakat kan? Tapi apa apaan dengan anak ini? Dia seumuran dengan Alvan tapi pencapaiannnya ini.. aku takut aku tidak bisa menyamainya'
Raka berhenti di sebuah ruang, ia membuka pintu, menuju ruang kerjanya.
Ia lantas mempersilahkan ketiganya untuk duduk. Dan mulai membuka percakapan.
"Baiklah, dengan ini kita bisa memulai kesepakatannya" ucap Raka.