
Anak itu setinggi 1,6 meter dengan rambut hitam kebiruan yang lurus dibelah menyamping, sorot matanya yang cemerlang disertai manik biru laut dalam dengan kilauannya.
Wajahnya terasa tidak asing!
Dia tersadar, dan secara refleks bertanya.
"Ka kau! Kau Raka, apa itu benar!?" Serunya terkejut.
Raka tersenyum dan nampak memiringkan wajahnya heran.
"Tidak salah lagi! Kau benar benar Raka bukan!?" Ucap Albert, kali ini dengan ekspresi takjubnya.
Raka hanya tersenyum sembari menunjukkan ekspresi bertanya tanyanya.
"Yosh! Aku benar benar yakin kau adalah Raka!" Ucapnya dengan mata berbinar binar.
"U um? Bisakah kau berhenti mengatakan bahwa aku Raka?" Ucap Raka dengan nada bertanya tanya.
"U uhuk uhuk! Baiklah.. aku terlalu antusias tadi" ucapnya sembari terbatuk batuk.
"Baiklah. Sudah cukup temu kangennya, ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan pada anda, yang mulia Azasky" ucap Raka menjadi lebih formal.
"Oh? Aku penasaran tapi sebelum itu ada baiknya jika kau menjelaskan tentang semua ini padaku" ucap Albert sembari duduk di sebuah kursi yang terpajang di ruangan itu.
"E eh?" Raka mencoba mengalihkan pembicaraan, tapi sebelum itu, Albert justru menunjukkan ekspresi seriusnya.
"Haih.. baiklah, aku tidak bisa bercerita lama lama, akan kujelaskan secara ringkas saja oke?" Ucap Raka mengalah.
"Yang pertama, mungkin yang ingin anda ketahui adalah alasan kenapa aku masih hidup bukan begitu? Kemudian yang kedua, alasan kenapa aku tidak pernah mencoba kembali kepada keluarga azasky setelah selamat, yang ketiga, alasan kenapa aku berada disini, dan yang keempat alasan kenapa aku tidak pernah muncul setelah kabar kematianku menyebar. Bahkan sama sekali tidak memberitahu keluarga Azasky, bukan begitu?" Ucapnya.
Albert mengangguk dengan ekspresi cemberut membenarkan ucapan Raka.
"Hfft.. baiklah, yang pertama adalah, saat peristiwa itu terjadi, aku dilindungi oleh para knight dan maid yang bahkan berkorban nyawa, mereka mengorbankan diri dan mendorongku kearah sungai sehingga aku bisa lolos dari sergapan iblis"
"Jawaban yang kedua dan yang keempat, alasannya adalah setelah kejadian itu, aku dibawa oleh para pedagang budak untuk dijadikan budak. Dan kemudian alasan kenapa aku tidak pernah memberitahu siapapun itu karena aku sempat kehilangan ingatanku untuk beberapa waktu. Dan ingatanku kembali 7 tahun yang lalu. Alasan aku tidak memberi kabar tentang itu adalah karena beberapa alasan keamanan, dan kukira kau pasti mengetahuinya lebih dari padaku"
"Kemudian alasan kenapa aku berada disini sebenarnya alasannya cukup sederhana tapi rumit. Alasannya adalah karena aku pemilik tempat ini dan bisnis ini"
Albert merenung dan mendengarkan ucapan remaja kecil dihadapannya itu.
Beberapa kali ia tercengang saat mendengarkan jawaban Raka. Bagaimanapun, ia sama sekali tak menyangka akan ada kejadian kejadian seperti ini yang menimpanya.
Sigh. Albert menghela nafas berat. Saat ini kepalanya dipenuhi banyak tanda tanya dan perasaan bercampur aduk hadir dalam dirinya.
"Ugh.. baiklah. Ada begitu banyak cerita yang masuk dalam otakku sekaligus." Ucapnya sembari memijit dahinya pusing.
"Jadi. Apa hal yang membuatmu menghubungiku secara mendadak ini?" Tanyanya.
"Ah. Ini soal keluargaku." Ucap Raka.
"Aku mendengar jika barier pembatas antara Arcnight dan negara negara lainnya mulai terbuka."
"Oh? Lalu?"
"Aku ingin tahu pilihan apa yang akan kau ambil, Yang Mulia Albert" ucap Raka kembali formal.
"Hmm.. aku akan terkejut jika pertanyaan itu hadir dari Archian lainnya, tapi itu tidak mengejutkan jika kau yang mengatakannya."
"Agak sulit untuk menjawabnya, bagaimanapun itu bahkan tidak bisa dipastikan apakah itu benar benar jawabannya atau bukan. Semuanya tergantung situasinya, Raka."
"Tidak, kelihatannya aku harus memanggilmu, yang mulia pangeran kedua, Arcnight"
"Lanjutkan" ucapnya.
"Jadi, jika anda bertanya apakah aku akan memilih membiarkan barier itu terbuka dan menolerir apa yang akan terjadi atau, apakah justru aku akan memilih memusnahkan Arcnight, bukan begitu?"
"Maka jawabannya adalah aku akan memusnahkannya. Itu karena kau bertanya padaku sebagai seorang pangeran dan raja, tapi akan lain jadinya jika kau bertanya padaku sebagai keponakan dan paman,"
Raka mengangguk setuju menyetujuinya.
Ia lantas tersenyum.
"Itu lebih melegakan" ucapnya dengan menunjukkan sorot matanya yang perlahan lahan menyipit.
Albert merinding melihatnya.
'Sebenarnya apa yang terjadi selama ini hingga membuat anak ini memiliki aura yang begitu menakutkan.'.
"Kalau begitu, aku akan memberi sebuah kerjasama, bagaimana?" Ucapnya tersenyum ramah.
...●●●...
Albert tinggal di mansion pelelangan itu selama tiga jam, sementara istri dan kedua anaknya pulang terlebih dahulu.
Setelah beberapa lama, ia nampak keluar dari ruangan Raka dengan langkah yang tegas dan sorot mata serius.
Edward yang berjaga diluar ruangan cukup terkejut saat melihat raut ekpresi Albert yang nampak menegang sesaat. Terlepas dari itu, Edward membungkukkan badannya memberi hormat.
Setelah beberapa lama,
"Edward, panggil semua orang untuk berkumpul" ucap sebuah suara dingin memerintahnya.
"Sesuai kehendak anda, yang mulia" ucapnya sebelum pergi.
Setelah beberapa lama, Raka keluar dari ruangnya dengan setelan jas panjangnya.
"Hormat kepada yang mulia" ucap kelima orang itu dihadapan Raka.
Raka menundukkan pandangnya kearah kerumunan orang orang yang nampak membungkukkan badannya menghormat.
"Cukup. Terimakasih." Ucapnya singkat.
"Aku ucapkan terimakasih dan selamat atas acara hari ini" ucapnya dengan senyum tenang.
Semua orang memerah bahagia.
Clap clap clap!
Raka kemudian memberi tepuk tangannya, dibalas sorak sorai semua orang dengan penuh semangat.
"Kalian sudah berusaha cukup keras. Beristirahatlah malam ini, semuanya boleh melakukan apapun untuk mengobati rasa kesalnya! Asalkan tidak merugikan orang lain" Ucapnya dengan tatapan bahagia.
"Yeay!" Ucap semua orang dipenuhi kebahagiaan.
"Kalau begitu, selamat menikmati malam ini!" Ucap Raka.
Ia lantas meninggalkan tempatnya berdiri dan kembali kearah lorong lorong panjang meninggalkan soarak bahagianya.
Sesaat setelah melangkah raut wajahnya berubah menjadi lebih serius.
'Ayah, ibu, semuanya! Bertahanlah selama mungkin!'