Creator of Death: True Darkness

Creator of Death: True Darkness
The Agreement: Wise Man



Beberapa saat sebelumnya.


"Tok tok,"


Suara ketukan pintu membuyarkan pikiran Colline sesaat, ia lantas bangkit dan berjalan ke arah pintu.


Colline lantas membukakan pintu kereta dengan ruangan yang super besar itu.


Pintu terbuka, nampak dihadapannya seorang pemuda berambut navy dan dengan setelan formal nampak tersenyum.


Ia lantas sedikit membungkukkan tubuhnya dan tersenyum manis.


Colline menjadi bingung sesaat.


"A ah, maaf dik. Kelihatannya kau salah mendatangi kereta"


Raka memiringkan kepalanya sesaat, dan dengan polos bertanya


"O oh? Bukankah ini kereta Yang mulia Theodore?"


"E eh? Ini memang benar, tapi apa yang membawamu untuk bertemu rajaku?"


"Hmm? Kupikir aku membuat janji dengan beliau haha" ucapnya riang.


Colline tertegun sejenak, bagaimanapun, itu agak tidak masuk akal bagi seorang anak untuk bertemu pria dewasa sepertinya kan?


Theodore melangkah menuju pintu tempat Colline dan Raka berdiri.


"Ah, kelihatannya aku memiliki seorang tamu disini."


"E eh? Yang mulia, anak ini mengatakan bahwa ia memiliki janji dengan anda"


"Oh? Benarkah?"


Sesaaat setelahnya, sesosok pria tua nampak datang dengan terengah engah. Ia lantas membungkuk memberi penghormatan.


"Hamba memberi salam pada yang mulia Theodore, ini tuanku, Yang mulia Azalea."


Colline dan Theodore nampak terkejut.


"Menarik."


Raka tersenyum riang, sementara Theodore menatapnya dengan sedikit tekanan.


"Ah. Bukankah agak tidak sopan bagi anda untuk tidak membiarkanku masuk?"


Theodore lantas tersenyum dan mempersilahkan Raka dan Edward untuk memasuki karavan miliknya.


Ia mengarahkan kedua tamunya itu ke sebuah ruangan dengan dekorasi yang tampak seperti ruang pertemuan sederhana.


"Ah. Jika begitu aku akan duduk"


"Duduklah, anggap saja ini permintaan maafku atas ketidaksopananku tidak menyambut anda."


"Um, anda berlebihan yang mulia Theodore."


"Huh, baiklah. Kelihatannya aku sudah terlalu bertele tele dengan anda, tuan Azalea"


"Oh? Lalu? Apa yang anda inginkan"


Theodore enegakkan tubuh tingginya. Aura kuat segera merembes dari tubuhnya.


Aura intimidasi yang begitu kuat segera menerpa mereka, meskipun begitu, Raka nampak terduduk dengan tenang seolah olah tak terjadi apa apa pada dirinya.


"Ah. Kurasa anda cukup handal dalam mengendalikan aura ya, yang mulia Theodore" ucap Raka seraya menyesap teh yang disiapkan Theodore.


"Oho? Kau tak terpengaruh ya? Kelihatannya kau cukup menarik, tidak memang pantas untuk menjadi seorang pemimpin trading group yang cukup mendominasi"


"Pfft. Lagi lagi anda terlalu berlebihan, yang mulia Theodore"


Theodore menyipitkan matanya, menatap lekat pemuda dihadapannya.


Nampak di penglihatannya, Raka dengan selubung kabut pekat berpendar.


'Oh? Aku tak bisa melihat kekuatan anak ini ya? Sekuat apa sebenarnya ia? Meskipun tidak sekarang, dapat kupastikan setidaknya potensinya tidak terbatas di masa depan nanti, dan tentunya akan sangat menguntungkan untuk bekerjasama dengannya' Theodore berkata lirih dalam hatinya.


"Haih, bagaimanapun, fondasi dasar dalam sebuah hubungan adalah kepercayaan, bukan begitu Tuan Azalea"


"Yeah, kurasa aku sependapat dengan anda, yang mulia Theodore. Karenanyalah aku meminta kerjasama ini darimu. Tentunya karena anda adalah orang yang benar benar tahu akan konsekuensinya" Raka berkata tajam.


Ekspresi Theodore kembali meregang, ia nampak lebih santai dibandingkan sebelumnya.


"Baiklah, karena ini adalah kerjasama, aku akan meminta beberapa hal darimu terlebih dahulu, tuan Azalea"


Raka mengangguk tenang dalam hal ini.


"Baiklah, pertama, aku tidak akan mendukungmu dengan kekuatan penuhku. Kedua, anda ataupun saya tidak punya hak untuk ikut campur urusan pribadi masing masing tanpa keinginan dari pihak yang bermasalah, katakanlah jika aku tidak memintamu untuk ikut campur, maka kau dilarang ikut campur. Ketiga, kehidupan kita masing masing tidak akan mempengaruhi bagaimana berjalannya kerjasama ini" Ucapnya dengan senyum hangat.


"Ah, anda benar benar seorang pemerhati ya, yang mulia.. aku juga berpikir begitu. Baiklah, aku menyetujuinya. Disamping itu, aku juga memiliki kesepakatan denganmu"


"Oh? Katakanlah"


"Pertama, terlepas dari siapa saya dan siapa anda, kita adalah pihak yang bekerjasama. Kedua, terlepas dari apa yang saya ataupun anda lakukan, kita tidak punya hubungan selain kerjasama ini. Keduanya tidak akan saling berpengaruh. Keempat, saya tidak menginginkan dukungan anda atas diri saya sendiri. Tapi atas negri saya. Meskipun begitu, apa yang saya lakukan kedepannya adalah atas nama Azadys, bukan negri saya"


"Anda benar benar membuatku tertarik, tuan Azalea. Tidak, haruskah aku memanggilmu Yang Mulia Pangeran Arcnight?"


Colline terkejut mendengar ucapan tuannya. Bagaimanapun, nama itu sudah lama tak didengarnya. Nama dari sebuah kerajaan yang berkuasa atas kekuatan benua ini.


"Kurasa kita sudah sepakat" ucap Raka tersenyum sederhana.


Ia lantas memberi isyarat pada Edward dibelakangnya.


Edward melangkahkan kakinya dengan sebuah kotak ditangannya. Ia lantas membungkukkan badannya dan mengulurkannya pada Theodore.


Theodore memberi isyarat pada Colline untuk mengambil kotak itu.


"Ah, baiklah.. kuharap anda menepati janji anda, yang mulia Theodore" Ucap Raka seraya bangkit dari duduknya.


"Yah, anda tak perlu mengkhawatirkannya, tuan Azalea" Theodore lantas bangkit dan mempersilahkan Raka.


"Colline"


"Baik yang mulia"


"Hmm, sebagai penghormatanku, biarkan Colline mengantarkan anda" Ucap Theodore dengan ramah.


Raka mengangguk menyetujuinya, "aku tidak akan sungkan"