Creator of Death: True Darkness

Creator of Death: True Darkness
Sekutu




Beberapa waktu berjalan,


Albert pun memenuhi permintaan Raka untuk menghubungi beberapa nama yang sengaja Raka cantumkan dalam list.


Meskipun pada dasarnya, Albert sama sekali tak memahami maksud sebenarnya dari Raka.


Tapi ia cukup memahami anak ini, dan tanpa sadar menaruh banyak kepercayaan padanya.


...●●●...


(SYLVANIA)



Disebuah negri dengan gedung gedung tinggi dan lalu lalang penduduknya.


Kota ini, Sylvania-kotanya orang orang dengan intelektualitas dan gudangnya teknologi.


Disebuah ruang di gedung itu.


"Yang mulia, maaf mengganggu waktu anda, tapi yang mulia Albert telah mengirimi anda sebuah undangan" Ucap sesosok wanita dengan jas abu abu, berpadu dengan rok ketat berwarna abu abu, dan sentuhan legging hitam.


Rambut hitamnya nampak ditekuk rapih,


Sementara itu, nampak dihadapannya sesosok pria dengan rambut pirang pendek dengan sebuah kecamata terpasang di mata kanannya.



Senyuman ramah nampak menghias wajahnya ditengah tengah tumpukan kertas kertas.


"Ah. Colline, ada apa?"


"Maaf mengganggu waktu anda, yang mulia, seseorang mengirimkan sebuah surat lagi."


"Sigh. Aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Tapi bisakah mereka berhenti mengirimiku surat surat itu?"


"Seperti biasa, kembalikan saja"


"Ah.. ini, saya takut jika undangan ini tidak bisa dikembalikan, yang mulia"


Wanita muda itu lantas mengulurkan surat yang terdiri dari dua lembar kertas.


Pria itu menerimanya, ia lantas mengangkat alisnya bingung.


"Hmm? Lampiran ini.. dari Azasky?"


Colline mengangguk.


"Yah. Entahlah.. aku juga tidak tahu, Colline "


Colline lantas membungkukkan badannya dan berbalik meninggalkan ruangan itu.


...●●●...



...


(ALKIRIA)


Sementara itu, disuatu tempat di Timur benua, nampak lalu lalang pedagang disuatu tempat dengan bangunan tinggi dan eksotisnya.


Kota itu begitu ramai oleh suara tawar menawar dan candaan para pedagang. Kota ini, Alkiria-kota pusatnya bisnis dibenua Oxmage.


Disebuah gedung tinggi,


"Fufu, yang mulia Richard, anda terlalu baik hati,,"


Ucap seseorang pria paruh baya dengan perawakan pendek, rambut hitam yang nampak menipis dibagian tengahnya.


Serta tubuh penuh lemak yang bahkan terkesan menutup sedikit matanya sehingga terlihat begitu sipit dengan disertai kumis tebal menghias wajahnya-Saudagar kaya.


"Yah. Anda terlalu berlebihan, Tuan Stele."


Seorang pria dewasa dengan rambut biru mudanya tersenyum licik. Pria itu memiliki paras tampan dengan dilengkapi jas berwarna biru tua senada dengan rambut birunya yang mengkilap.


Sorot matanya nampak begitu angkuh, dengan siratan perasaan menghina.



Meskipun begitu, pria gemuk itu nampak tidak terpengaruh olehnya.


Dibelakangnya berdiri seorang wanita bertudung hitam dengan membawa sebilah belati.


"Hahahaha!" Kedua pria itu lantas tertawa sekencang kencangnya.


Tak lama setelahnya, nampak seorang remaja pria dengan kacamata menghiasi wajahnya yang begitu polosnya mengetuk pintu.


"Masuklah, Serkan"


"Ya yang mulia, hamba Serkan, mengantarkan surat untuk anda" pria muda itu nampak membungkuk dengan hormat. Ia nampak masih belia, dengan kisaran umur 15 hingga 16 tahun.


"Stele, menurutmu kali ini rakyat jelata seperti apa yang mengirimkan surat rendahan untuk mengajukan permintaan konyolnya?"


"Ah. Hamba juga tidak tahu, yang mulia.. yang pasti, dengan bekerja sama dengan anda, orang itu pasti akan bangkrut sebentar lagi" ucapnya sedikit meninggi seolah olah mengatakan kebanggaan.


"Pfft.. hahaha" mereka lagi lagi tertawa dengan keras.


Ia melambaikan tangannya sembari memegangi perutnya akibat tertawa.


"Baiklah.. sini"


Pria muda itu lantas menyodorkan surat beramplop putih.


"Hmm? Azasky?" Wajahnya berubah, menjadi sedikit serius.


"Pelelangan ya, aku penasaran pelelangan seperti apa yang pantas untuk kulihat,"


"Oho? Bukankah itu adalah lambang dari Azadys Trading Group?"


"Ha? Azadys?"


"Ah. Itu adalah kelompok dagang antar kerajaan yang akhir akhir ini cukup popular diantara para pedagang"


"Yah, yang mulia Richard, anda tahu bukan? Rahasia dagang seperti ini sangat berharga?" Ucap pria gemuk itu dengan tatapan licik.


"Tsk. Kau benar benar membuatku muak, Stele"


"Yah. Bagaimanapun, usahaku akhir akhir ini menjalin kerjasama dengan Azadys dan anda tahu? Itu cukup memuaskan untuk disebut sebagai kerjasama"


Richard melambaikan tangannya santai.


"Oh? Ceritakan lebih banyak soal mereka. Dan juga, kau tahu konsekuensinya jika kau berani berbohong"


"Sesuai perintah tuanku. Hamba tidak berani, yang mulia"


...●●●...


(KOGA)



Disuatu tempat di timur laut, di pegunungan tinggi dengan dihiasi bangunan bangunan kokoh berbahan dasar kayu dan semen.


Kerajaan ini-Koga,


Dengan demi dwarf sebagai mayoritas penduduknya.


Mereka kebanyakan bekerja sebagai penempa dan ahli dalam konstruksi.


Disebuah bangunan yang nampak tinggi,


Tok tok


"Maaf mengganggu waktu istirahat anda, yang mulia" ucap seorang wanita berambut ikal pendek dengan kulit kecoklatan eksotis.


Ia nampak memakai pakaian formal, dengan mata berwarna kuning.


"Ah. Tidak apa, Cheryl, masuklah.."


Seorang pria paruh baya dengan rambut hitam gelap dan kulit coklat gelapnya nampak duduk sembari memijit pelan keningnya yang mengerut.


"Disini hamba mengantarkan sepucuk surat dari yang mulia Azasky"


Sudut mulutnya berkedut. "Hoo? Aku sama sekali tidak menyangka bahwa pak tua sialan ini akan mengirimiku surat seperti ini!?"


"Yah. Yang mulia, mau anda mengeluh seperti apapun, anda tetap harus menerimanya kan?"


Sigh. Pria itu menghela nafasnya


Ia kemudian mulai membaca satu persatu kata yang tertulis diatas surat tersebut.


Ia mengerutkan keningnya sedikit heran.


"Cheryl."


"I iya!"


"Siapa orang yang mengirimi surat ini!?"


"E eh? Bukankah itu yang mulia Azasky?"


Sudut mulutnya berkedut. "Tsk. Aku tidak akan bertanya padamu jika itu benar benar terjadi"


Ia lantas mengembalikan surat itu kembali,


Bola mata Cheryl berputar, "I ini?"


"Bu bukankah ini Azadys Trading Group yang sedang naik daun?"


"Hmm?"


"Ceritakan padaku" Ucapnya sedetik kemudian.