Creator of Death: True Darkness

Creator of Death: True Darkness
Little Monsters: Revenge




"Apa kau akan melawanku dengan menghukum cucuku huh!?" Tanya seorang wanita tua yang datang dari lorong.


Disampingnya nampak Bobby yang menggandeng tangan neneknya.


Dia adalah Rumia, ibu suri kerajaan Azasky.


Semuanya terperanjat saat melihat Bobby yang menggandeng tangan neneknya itu.


Dibelakangnya ada Butler Qin.


"Bobby!" Ucap Queensha berlari dan memeluk putranya erat.


Sementara Albert nampak bangkit dari tempat duduknya.


"Ah. Ibu.. bisakah kau melepaskanku? Anakmu akan mati jika kau memeluknya seperti ini" ucap Bobby.


"Kau tidak apa apa kan? Apa ada yang terluka?" Tanya Queensha khawatir.


"Hmm? Apa kau mengira putramu baru pulang dari neraka huh!?" Ucap Rumia dengan sinis.


"Apa maksud ibu?"


"Huh.. putramu itu merengek dan datang padaku, memintaku untuk mengurangi jatah belajarnya" Ucap nenek itu datar.


Sudut mulut Bobby berkedut, "ah itu.."


'Nenek! Bisakah kau memberiku alasan yang lebih bermartabat lagi!?' Gerutunya dalam hati.


"Ah. Aku baru menyadarinya, tapi Glad, Rietch, Struitch, dan Kleid, apa yang terjadi pada kalian?" Tanyanya polos.


"Aih.. kami senang jika yang mulia baik baik saja" ucap Glad.


"Hmm? Memangnya aku kenapa?"


"Yang mulia! Kami sama sekali tidak marah saat anda meninggalkan kami! Tapi setidaknya anda bahkan tidak mau mengakui bahwa anda pergi bersama kami!" Ucap Rietch tajam


"Rietch! Hentikan!" Bentak Glad.


"Bobby! Jelaskan padaku" sentak Albert.


"Kalau begitu menurut anda apa yang harus saya jelaskan? Apakah saya harus menjelaskan apa apa yang sebenarnya bahkan tidak pada tempatnya!?"


"Ya yang mulia.. ini tentang hutan kematian, aku tidak tahu apakah anda memang tidak mengingatnya atau anda berpura pura" ucap Glad tenang.


"Hmm? Hutan kematian? Apa maksudmu soal pedang Phthartic?"


"Iya! Itu memang benar yang mulia! Anda mengingatnya"


'Mau bagaimanapun kau tetap bodoh ya!'


"Yah. Pada awalnya aku memang berniat kesana sih,"


"Lihat! Yang mulia! Yang mulia pangeran sendiri mengakuinya!" Seru Count Struitch.


"Apa maksudmu Count? Apa anda tidak memperhatikan kalimatku? Aku berkata pada awalnya, Count"


"Jadi? Apakah kau benar benar kesana?" Tanya Albert.


"Ya. Itu rencanaku. tapi Aku masih menyusun rencanaku, yah.. awalnya aku berniat mengajak ayah untuk kesana, setidaknya, jika pedang Phthartic tidak ada, aku bisa melatih ilmu pedangku kan?"


"Hm... kalau begitu bisakah anda menjelaskan tentang anda yang tidak ada dikamar anda? Yang mulia Pangeran?" Ucap Count Kleid


"Hmm? Bukankah sudah kukatakan? Aku menemui nenek..aku juga mendengar dari Pangeran Arcnight jika ia pernah beberapa kali melewati hutan kematian, jadi meskipun tidak jelas, aku berniat mengajaknya juga.. jadi, aku datang ke kamarnya untuk mengajaknya, tapi saat aku kesana, ia tertidur.."


"Emilia, apa Pangeran Arcnight sedang tidur saat ini?"


"Izin menjawab pertanyaan anda. Ya, yang mulia pangeran Arcnight merasa tidak enak badan, jadi beliau mengatakan padaku bahwa ia akan tidur lebih awal.. itu juga alasannya mengapa beliau tidak hadir saat ini"


"Apa itu benar? Butler Qin?"


"Ah. Itu benar yang mulia.. jika anda tidak percaya anda bisa bertanya pada salah saru diantara prajurit ini yang mulia, bukankah ada salah satu dari kalian yang melihatku keluar dengan kereta kerjaan bukan?"


"Itu benar yang mulia, hamba melihatnya, tapi hamba sama sekali tidak menyangka jika yang mulia pangeran ada disana"


"Apakah itu sudah membuat kalian puas menuduh cucuku huh!?"


"I ini.. tidak mungkin" gumam keempat bocah itu.


"Ya yang mulia! Ini salah kami yang tidak menggali kebenarannya!" Ucap orang tua keempat bocah itu.


Sementara prajurit yang menuduh Bobby nampak gemetar.


"Baiklah, hari ini adalah peringatan untuk kalian!"


"Aku akan mengurangi 1/6 wilayah kalian agar kalian tidak terlalu sibuk kedepannya, untuk keempat tuan muda, aku berharap ini menjadi pengajaran untuk kalian, berlaku baik dan patuhlah terhadap peraturan yang ada, mulai sekarang kalian akan dikenai wajib belajar selama tiga tahun! Kemudian, untuk para Countess dan istri Marquiss, kalian akan kukurangi perizinan memgikuti perkumpulan kalian, awasi putra putri kalian dengan baik.. adapun untuk prajurit, kau diberhentikan dan akan diblokir dari istana.. kelak, kau tidak diizinkan datang untuk bekerja ke istana, itu sebagai hukumanmu yang lancang dalam menyuarakan pendapat yang tidak jelas.. dan untuk hukuman karena memfitnah keluarga kerajaan, kau akan dipenjara selama lima tahun!"


"Ta tapi yang mulia.. saya.." ucap prajurit itu.


"Bawa dia ke penjara" titah Albert.


Dengan itu, masalah terselesaikan dengan baik.


...●●●...


Albert menghela nafasnya panjang.


Ini adalah hari yang berat baginya sebagai seorang raja sekaligus seorang ayah.


"Sigh. Aku tahu itu kau, masuklah."


Albert terduduk lemas dengan tangan kanannya yang mengurut lembut keningnya


Sementara itu, sebuah siluet nampak bertengger di pepohonan merunduk dan turun menuju sebuh jendela dekat Albert duduk


Hap!


Sebuah wajah yang tak asing bagi Albert.


Ia menarik nafasnya panjang dan tersenyum.


"Yah. Anda benar benar seorang pemerhati, yang mulia Albert"


Albert tersenyum masam.


"Sigh. Berhenti bercanda! Kejadian hari ini, kau mengetahuinya kan? Dan juga kelihatannya kau sudah turun tangan ya, kembali memikirkannya, kau begitu menakutkan"


Wajah yang tersenyum itu terkejut dan melebarkan kedua manik mata birunya.


Tapi itu hanya sebentar, sesaat berikutnya ia kembali tertawa kecil.


"Yah. Aku akan benar benar menjadi seorang pembohong jika aku mengatakan aku tidak terlibat, yang mulia"


"Tsk. Kau monster! Bahkan kau tahu? Sekarang aku ragu jika kau adalah seorang remaja berumur 15 tahun, Raka"


"Yah. Jika kukatakan aku berumur 40 tahun apakah kau akan percaya huh?"


"Kau bercanda! Baiklah. Katakan apa maksudmu"


Anak itu lantas menyodorkan sehelai kertas.


"Ini?" Albert mengangkat alisnya.


"Ah. Bolehkah aku memanfaatkan koneksimu? Aku ingin mengundang nama nama itu kedalam pelelanganku".