Creator of Death: True Darkness

Creator of Death: True Darkness
The Agreement: View point




"Kelihatannya kau masih bingung, Cheryl"


"E eh? Ah.. itu.." Cheryl mengangguk polos.


"Sigh.. apa kau sama sekali belum menyadarinya?"


Alpha menghela nafasnya dan memberi isyarat mengarah ke rambutnya.


"Eh?" Cheryl termenung sebentar.


Sesosok bayangan secara tiba tiba muncul dipikirannya, itu adalah penampilan orang yang berbicara dengan Alpha terakhir kali di lelang tadi.


"Tu tunggu! Biru! Apakah rambut pria tadi biru!?" Seru Cheryl kemudian.


Alpha mengangguk membenarkan ucapan Cheryl.


"Rambut biru kehitaman, apakah itu artinya dia dari klan kuno Asteric?"


"Ah. Itu benar, coba kau ingat ingat lagi tentang Klan Asteric dan anggotanya"


"Hmm.. ini,, apa mungkin?" Mata Cheryl nampak membesar.


"Arcnight!"


"Ah.. itu benar, aku mungkin tidak akan menyadari maksudnya jika dia tidak muncul saat itu, Bagaimanapun, Asteric adalah klan yang diburu, keberadaannya yang misterius, hanya ada sedikit orang yang berani secara terang terangan menunjukkan rambut navy itu.. dan yang cukup mungkin adalah Rishmalia Arcnight"


Cheryl masih tertegun memikirkan ucapan rajanya itu. Bagaimanapun, semua yang diucapkan Alpha pada dasarnya benar dan tidak dapat disanggah.


Sementara Alpha lantas melemparkan pandangnya ke arah kejauhan. Menatap kekosongan.


Suasana menjadi hening beberapa saat.


"Yang mulia, jika begitu.." ucap Cheryl memecah keheningan dengan tatapan serius.


"Ya. Kedua pangeran harus mampu menyelesaikan kerjasama ini, apapun taruhannya"


●●●


Sementara itu, ruang nomor 457.


Seorang pria berambut pirang rapih nampak bangkit dari duduknya.


"Yah, sudah diputuskan.. Serkan," Ucap pria itu yabg tak lain adalah Richard.


Seorang wanita berkulit cerah, dengan setelan formal nampak sedikit membungkuk hormat, Colline.


"Hamba menghadap paduka"


"Kuserahkan tugasku padamu" ucapnya seraya melangkah keluar melewati Edward.


"Salam hormat kepada anda, yang mulia"


"Katakan pada tuanmu, aku ingin bertemu dengannya"


"Hamba mendengar perintah" ucap Edward.


"Colline"


Edward membalas dengan membungkuk hormat.


"Ah. Dan juga, terimakasih karena sudah mendampingiku mengikuti acara yang menakjubkan ini" ucapnya selangkah kemudian.


●●●


"Yang mulia, apa anda serius dengan ini? Maksudku,," Ucap Colline yang turut mendampingi rajanya di dalam kereta.


"Yap, kau tak perlu meragukan keputusanku dalam hal ini, Colline.. cukup lakukan hal yang kuperintahkan, itu sudah cukup bukan?"


"Ah.. itu benar yang mulia.. tapi, apakah ini tidak mencurigakan, maksudku,,"


"Joseph"


"Menghadap paduka Sylvania"


"Laporkan penyelidikanmu soal grup trading ini"


"Ah. Dari apa yang saya selidiki, grup Azadys pertama kali muncul di kota Ryuo, Azasky. Dan melakukan transaksi pertamanya dengan sebuah toko artefak sihir bernama An Luo. Semenjak itu, Azadys banyak muncul di berbagai transaksi baik itu skala kecil maupun skala besar. Tidak ada kepastian tentang identitas siapa yang mendirikan, atau siapa yang memimpin grup Azadys. Baik itu tentang asal mula nama, kapan didirikan secara pastinya, apa tujuannya, atau siapa siapa anggotanya, bahkan siapa yang memimpin tidak ada informasi yang mencantumkannya."


"Hmm, begitukah? Jadi seolah olah mereka tidak pernah ada tapi masih berdiri ya. Jadi bisa dipastikan, bahwa baik itu orang orang yang berdiri di belakangnya maupun orang yang terlibat secara mendalamnya benar benar hebat dan dalam ya"


"Ah. Itu benar, setidaknya itu yang menjadi informasi pentingnya, yang mulia"


"Oh? Apa kau yakin jika hanya itu yang harus kau laporkan, Joseph?"


"E eh? Ah.. itu benar yang mulia"


Ekspresi Theodore nampak berubah, sosoknya yang mulanya nampak santai kini menjelma menjadi seseorang dengan fluktuasi aura yang menekan.


"Joseph, apa tujuanku memberimu perintah mengumpulkan informasi ini?"


Joseph menegang, bagaimanapun, Theodore bukan tipe raja yang mudah terbawa emosi, ia adalah raja dengan etika dan kebijaksanaan luar biasa. Tapi apa yang ia hadapi saat ini adalah situasi dimana raja yang tidak pemarah ini marah, dan itu bukan suatu hal yang baik.


"Mohon petunjuk anda, yang mulia hamba merepotkan"


"Tsk. Aku tidak ingin kau mengulanginya lagi, Joseph. Aku tahu akan kewaspadaanmu, tapi kau harus ingat, hidup itu seperti dua mata koin yang berbeda, dan hanya orang bodoh yang melihatnya dari satu sisi tanpa melihat sisi lainnya."


Ya, itu benar. Pada kenyataannya Azadys memang suatu organisasi dengan asal mula yang kelabu dan banyak rumor buruk tentangnya. Tapi bagaimanapun, bisnis dijalankan berdasarkan kepercayaan. Jika memang organisasi ini bukan organisasi yang terpercaya, mungkin akan meragukan jika organisasi ini telah menjalin kerjasama dengan banyak tokoh yabg berpengaruh di benua ini, bahkan salah satu diantaranya adalah Ruler of seven Cardinal yang keberadaannya tak main main. Itulah yang saat ini dipikirkan oleh Theodore.


"Hamba memohon pengampunan dari anda, yang mulia"


Theodore hanya menghela nafasnya berat.


"Hmm? Joseph, mundurlah.."


"Sesuai titah anda, yang mulia"


Theodore lantas bangkit dari duduknya,


"Hmm? Keributan apa didepan?"


"A ah, itu.. yang mulia, nona Colline sepertinya sedang berbicara dengan seorang pemuda"


"Oh? Aku penasaran"