
Raka kemudian menceritakan semua pengalaman hidupnya selama ini. Dan apa yang akan ia lakukan kedepannya.
Groarr..
Terdengar sebuah suara menyeramkan datang dari kedalaman hutan.
Mereka tersadar dan berdiri serempak.
Secara refleks, mereka saling berpunggungan, Bobby dengan pedangnya, dan Raka dengan kedua belatinya.
Keduanya bersiap bertarung.
Sesaat kemudian, puluhan monster kembali mengepung mereka.
Secara bersamaan mereka meluncur dengan cepat dan
Splash..
Satu persatu kepala monster itu jatuh bergelimangan ke tanah.
Setelah beberapa lama, suasana begitu mencekam.
Seekor monster besar muncul dihadapan keduanya, tanpa aba aba, mereka meluncur dengan dua arah berbeda, membentuk garis silang dan saling menebas.
Monster itu mengaum keras sebelum tubuhnya terbelah menjadi empat menyilang.
Sebuah kerjasama yang hebat!
Auman monster itu mengundang banyak monster lainnya untuk bergabung, mereka berdua mundur dan menetapkan taktik.
"Kita harus cepat kembali! Paman dan bibi dalam masalah"
"Apa maksudmu?"
"Menurutmu?"
"Tsk. Jangan bilang kalau.." Bobby menggigit bibirnya geram.
Raka mengangguk.
"Aku akan membakar mereka, setelah itu kita kembali"
"Kita tidak bisa lebih cepat untuk kembali! Butuh waktu 2 hari untuk kembali ke istana."
"Oh? Lalu bagaimana kau datang kesini dalam hitungan menit huh!?"
"Tsk. Pada awalnya aku membawa dua artefak teleportasi, satu untuk datang, satu untuk kembali, tapi sialnya mereka menggunakan artefak itu untuk pulang tanpaku"
"Kau menyedihkan dan bodoh"
"Aku tahu. Tapi ini bukan waktunya untuk mengejekku tau!" Protesnya
"Oh" Raka hanya menatapnya sederhana
"Tsk."
"Tunggu! Bagaimana kau datang sebelumnya?"
"Jika kau datang dengan teleportasi; seharusnya kau membawa satu lagi kan? Tentunya jika kau tak bermaksud kabur dari kedua orang tuaku"
"Menurutmu? Kau boleh mmebandingkanku sewaktu waktu.. tapi jangan bandingkan isi otakku dengan isi otakmu Bobby,,"
"Kuh! Kau ini"
"Aku datang dengan teleportasi.. tapi aku tidak membawa artefaknya"
"Kau bodoh! Kalau begitu apa yang harus kita lakukan!?"
"Menurutmu? Apakah kau perlu memakai kuda jika kau bisa berlari dengan cepat?"
Mata Bobby berbinar binar saat mendengarnya
"Tsk. Kau menyebalkan"
"Kalau kau ingin pulang serahkan peran ini padaku, setelahnya aku akan tidur dan kau jarus menyelesaikan tugas terakhirmu" ucap Raka.
"Tentu. Kau kaptennya!" Ucap Bobby.
Bobby mundur selangkah dari tempatnya.
Sementara itu, Raka nampak mengubah arah berdirinya menyamping, ia mengangkat tangan kananya dan
Bum!
Ribuan formasi dengan kilap biru berputar dan meledak dengan api biru membakar puluhan monster.
Monster monster itu meraung.
Beberapa detik berikutnya wilayah itu mengering dengan sisa abu dimana mana.
Crash..
Itu merobek dimensi!
Raka menoleh dan memberi isyarat pada Bobby.
Bobby lantas melangkah linglung, ia benar benar terkejut.
Keduanya lantas memasuki ruang dimensi.
"Aku sama sekali tidak pernah berpikir jika kau bisa melakukannya" ucap Bobby.
"Haih.. batasku adalah dua, setelah itu aku akan terlelap cukup nyenyak.. jadi persiapkan dirimu, pertunjukkan terakhir kau yang akan melakukannya sendiri." Ucap Raka tersenyum pahit.
Bobby mengangguk dan berterimakasih.
...●●●...
Beberapa waktu yang lalu, diistana.
Queensha tak bisa menyembunyikan rasa paniknya.
Sementara Albert menggelap, ia benar benar kehabisan cara menghadapi keempat bangsawan rubah ini.
Sementara para bangsawan lainnya nampak tersenyum licik.
Albert mengerahkan beberapa tentaranya untuk menyisir hutan hitam di kegelapan malam.
"Hormat kepada yang mulia Azasky!" Ucap mereka serempak.
"Bagaimana hasilnya!" Tanya Albert seraya bangkit dari singgasananya.
Semua mata tertuju pada para prajurit itu, mereka nampak membawa keempat teman Bobby. Tuxedo mereka nampak sedikit bercak darah dan robek. Menandakan mereka baru saja bertarung.
"Putraku!" Ucap keempat Countesa dan Marquiss saat mendapati putra mereka pulang.
Pupil Queensha menyusut,
'Bagaimana dengan anakku? Dimana dia?' Gumamnya dalam hati.
"Ah.. Theo, Waldo, Ken, Erick,, dimana pangeran?" Tanya Queensha.
Keempat anak itu berakting seolah olah bingung.
"Ma maaf yang mulia, pangeran, dia bukankah sudah pulang?" Tanya Theo Glad berpura pura polos.
"A apa maksudmu!?" Ucap Queensha dengan nada tinggi.
Keempatnya bertingkah seolah olah mereka takut.
Pandangan sinis terhadap Queensha tak terelakkan
"Maaf, aku terlalu impulsif.. tapi bisakah kalian mengatakan apa yang terjadi?"
"Yang mulia Ratu.. yang mulia pangeran pergi mengajak kami untuk mencari pedang Phthartic di hutan kegelapan, kami sudah mencoba mencegahnya, tapi yang mulia bilang bahwa ini adalah tugas mulia.."
"Kami pergi, kemudian, tanpa disangka kami bertemu segerombolan serigala hitam, kemudian.." Glad memotong ucapannya, seolah olah ada yang mengganjal hatinya.
"Apa yang terjadi?"
"Biar saya lanjutkan, yang mulia.."
Ucap seorang prajurit.
"Tidak! Itu.."
"Anda tidak perlu takut tuan muda, itu karena yang mulia pangeran yang mengajak mereka, dan kemudian meninggalkan mereka sendirian"
"Pada saat itu, tuan muda Glad memutuskan untuk memberi Lempeng teleportasi itu kepada yang mulia, dengan maksud agar yang mulia pulang terlebih dulu"
"Terserah jika yang mulia ingin menghukumku" ucap prajurit itu.
Queensha menggigit bibirnya kesal.
Ia adalah ibunya, dialah yang mengenal putranya lebih daru siapapun, tentu ia akan marah saat putranya dituduh sesuatu yang tidak mungkin baginya
"Hufft.. baiklah, kalau begitu apa hukuman yang pantas terhadap pangeran, marquiss Glad?"
"Albert!" Sentak Queensha.
Albert hanya menghela nafasnya berat.
Bagaimanapun, ia adalah seorang ayah yang buruk jika ia menghukum putranya, tapi ia akan menjadi raja yang buruk jika mengabaikan hal seperti ini.
Pada dasarnya Queensha tahu betul akan hal ini, tapi tetap saja, ia tak terima hal itu terjadi.
Sementara keempat bangsawan hanya tersenyum licik.