Creator of Death: True Darkness

Creator of Death: True Darkness
Destruction




Raka meletakkan tubuh gurunya dengan perlahan lahan. Ia pun mencabuti satu persatu pedang dari tubuh gurunya.


Evangelion tertawa.


"Tch. Benar benar adegan yang mengharukan, aku benar benar tersen.."


Splassh..


Sebuah pedang dengan cepat melesat melewati lehernya.


Glup. Ia menelan ludah.


Nampak dihadapannya seorang anak berusia 12 tahun dengan bayangan gelap berdiri teguh menggenggam pedang yang perlahan menghitam.


Zsrrt..


Kilatan merah darah melesat dari tempatnya berdiri.


Sebuah bayangan hitam muncul dihadapan Evangelion dengan tiba tiba.


Evangelion bereaksi. Ia dengan cepat mengangkat tombaknya menangkis serangan Raka.


Raka mundur beberapa langkah.


"Nonius.." Bisiknya.


Sebuah bayangan gelap kembali mencuat dari mata Raka.


Kini dihadapan Evangelion, nampak dua mata yang berlainan menatapnya dengan tajam.


Biru dan merah.


Ia melesat dengan cepat menyaingi angin dan mendaratkan tebasan tepat ditubuh sebelah kiri Evangelion.


Crashh.


Pedang itu menebas lengan kiri Evangelioan.


Evangelion meringis kesakitan.


Kali ini ia tidak bisa menghindar.


Evangelion melambaikan tangannya. Puluhan formasi berputar dibawah kaki Raka.


Criiing..


Rantai rantai merah kehitaman yang sama seperti sebelumnya kembali mengepung Raka.


Raka hanya terdiam.


"Ahahaha lihatlah sampai mana kau bertahan huh!? Iblis!" Evangelion tertawa puas.


Crack.. crashh


Rantai hitam kemerahaan itu pecah dan hancur seketika.


Kabut merah bercampur aura hitam kelam menenggelamkan Raka kedalamnya.


Evangelion terkejut. Ekspresinya berubah drastis.


Ia benar benar panik saat ini.


Sementara sekelebat bayangan hitam dengan mata merah dan biru berjalan dengan cepat ke arah Evangelion.


Raka terus menebas tubuh Evangelion tanpa ampun.


Saat ini hanya membunuhnyalah satu satunya cara untuk melampiaskan amarahnya.


"Tch. Jika dibiarkan aku akan benar benar mati."


Ia kemudian mengucapkan sebuah mantra.


Dengan menggunakan mata pisau di tombaknya, ia menggores tangannya dan meneteskan darahnya ke sebuh artefak.


Ia mundur perlahan dan dengan cepat membuka pintu dimensi.


Raka merasakan sebuah nafas panas dari artefak itu.


"Mundur!"


Ia memberi aba aba kepada semua orang untuk mundur dan sebisa mungkin menghindar dari artefak itu.


Bum


Benar saja, sesaat kemudian, artefak itu menyala dan meledak dengan sendirinya menghasilkan ratusan formasi berwarna merah pekat.


Formasi itu tersebar dan saling berputar membentuk konstelasi mana yang sangat besar.


Raka menghela nafasnya berat. Saat ini emosinya berangsur angsur membaik.


Sebuah pergerakan kecil tertangkap. Mereka adalah keenam pengikut jubah putih yang tersisa dan mencoba kabur dengan banyaknya luka.


"Oh? Ada apa? Apakah kalian merasa hidangan kami tidak pantas? Sehingga kalian pergi sebelum menghabiskannya huh!?" Ucap Raka.


Mereka terkejut dan tidak berani menoleh kearah Raka.


"Evangelion mengirimiku sebuah hadiah yang cukup besar, dan dia juga meninggalkan kalian untukku bukan? Jadi sebelum kalian mencoba pergi, bukankah lebih baik meminta izin dariku?" Ucap Raka seraya tersenyum ramah.


"Kuh! A ah.. adikku, bagaimana ya? Aku mengatakannya, anu,, kami sebenarnya ditipu oleh Evangelion, jika kami tahu kami disini untuk membunuh guru tentu saja kami akan menolaknya.. huhu.. aku sangat sedih guru.. kami benar benar murid yang tidak berguna huhuuu..."


Ucap ketiga pengikut seolah olah merasakan kesedihan.


"A ah.. ji jika kau mencari siapa yang mengajak dan mempengaruhi kami merekalah orangnya!" Ucap ketiganya seraya menunjuk ke arah ketiga rekan yang lainnya.


Ketiga orang lainnya terkejut dan mencoba menampik alasan tidak berguna dari ketiga orang sebelumnya.


"Eric! Apa yang kau katakan! Beraninya kau mengkhianati kami!" Ucap salah seorang yang nampak lebih tua diantara mereka.


"Tch! Diamlah kau tak berguna!" Bisik Eric seraya mencekik leher pria itu.


Ekspresi Raka berubah, sembirat hawa dingin terpancar jelas darinya.


Kini keenam orang itu nampak bertengkar.


"Hancur" ucap Raka lirih.


"Keugh!!" Eric dan kedua temannya terkejut dan memuntahkan banyak darah dari mulutnya.


Mereka tertunduk lemas. Seluruh tulang dan otot di tubuh mereka terasa seperti tak bisa digerakkan.


Detik berikutnya seluruh pembuluh darah dalam tubuh mereka pecah dan jantung mereka bergejolak tanpa henti.


Dengan tatapan marah mereka menatap ke arah Raka.


Raka hanya menunjukkan tatapan dinginnya.


"Apa menurut kalian aku begitu bodohnya sampai percaya jika kalian masih memiliki perasaan huh!?"


Ucap Raka dengan tersenyum.


"Yah, jika kalian ingin meminta maaf maka temuilah guru" Bisik Raka.


Raka mengibaskan tangannya tak peduli.


Crashh.


Tubuh mereka hancur seketika menyisakkan darah merah di mana mana.


"Ada apa? Apakah kalian sama sekali tak mencoba berdalih?" Ucap Raka melayangkan pandangnya pada ketiga orang rekan eric yang tersisa.


Mereka tidak bisa menyembunyikan reaksi mereka yang gemetar ketakutan.


'Bagaimana bisa anak sekecil ini menjadi iblis sekuat ini?' Pikir mereka.


#Ketika Author menulis ini, satu satunya kalimat yang terlintas dikepala author adalah "Jangan panggil aku anak kecil paman!" dan itu membuatku agak resah dengan pemikiranku 😂


*Sedikit imaji buat readers 😋


Raka X Nonius