
Raka masih terlelap dalam mimpinya, sementara pertarungan didunia luar masih terus berlangsung.
"Evangelion. Apa kau pikir bisa merebut muridku dengan mudah huh?" Ucap Yama membuka percakapan.
"Tsk. Menurutmu? Jika aku bisa mengambil satu, maka seharusnya aku bisa mengambil untuk yang kedua bukan?kawan lama?"
"Ah. Itu benar, yang pertama sudah kuanggap kesalahanku, yang kedua adalah kekuatanku, dan yang ketiga adalah keajaibanku bukan?"
"Kau mungkin tak tahu, tapi dia istimewa, Evangelion. Dan kau tak akan bisa meraihnya, sedikitpun " Ucap Yama berganti serius.
"Jika aku tidak bisa maka kau juga tidak bisa, Yama" Evangelion mengancamnya.
"Oh? Jika begitu apa kau bisa menerangkan atas tindakanmu selama ini? Merebut muridku huh?"
Evangelion terkesiap. Ia benar benar panik saat mendengar jawaban dari Yama.
"Kurasa kau harus mengganti ucapanmu sebelumnya, apa yang bisa Yama miliki, tak bisa kumiliki maka aku harus merebutnya"
Evangelion bergetar menahan amarahnya. Ia kemudian meluncur dan menyerang Yama diam diam.
Pukulan, tendangan, silih berganti antara Evangelion dan Yama.
Mereka benar benar cepat hingga tak satupun diantara mereka yang dapat menangkap gerakan mereka.
Formasi dan serangan sihir pun terus dilancarkan keduanya, saking cepatnya, efek sihir dan formasi tidak bisa dibedakan siapa yang melancarkannya.
Medan pertempuran mereka benar benar hancur berantakan.
Tak ada satupun dari para prajurit yang berani turut masuk dalam pertarungan itu, bahkan sepatah katapun tidak dapat mereka utarakan.
Mereka hanya dapat menonton dan mengagumi pertarungan hebat itu.
Sementara Raka, ia masih tak sadarkan diri dan terlelap dalam mimpinya.
Setelah beberapa lama bertarung, mereka kemudian mundur dan berhenti sejenak.
Nampak keadaan Evangelion yang babak belur penuh dengan luka.
Sedangkan Yama hanya nampak kelelahan dan mengelap keringatnya beberapa kali.
'Tch! Apa aku akan kalah lagi?' Ucap Evangelion dalam hati.
"Oh? Apa kau kelelahan Evangelion??" Ucap Yama tersenyum ramah.
"Tch" Evangelion berdecik kesal.
Sesaat kemudian, nampak 10 bayangan putih muncul dan mendarat di samping Evangelion.
Mereka adalah para bawahan Evangelion, beberapa dari mereka adalah mantan murid Yama yang membelot darinya.
Yama menggigit bibirnya kesal, bagaimanapun, diantara mereka adalah orang orang yang sempat ia percayai, dan sekarang ia harus melawannya sebagai seorang musuh.
"Ahaha, Yama! Aku ingin lihat bagaimana kau mengingkari janjimu sendiri! Sebagai seorang guru, kau memiliki janji untuk tidak menyakiti muridmu, apapun yang mereka lakukan bukan? itu yang kau katakan padaku saat itu"
Yama hanya terdiam. Sementara tiga dari mereka maju dengan cepat mendatangi Yama.
Pertarungan kembali terjadi, kali ini tiga orang melawan satu orang. Tentu jika dia adalah orang biasa maka dia akan kewalahan mengahadapi musuh musuhnya sekaligus.
Tapi tidak bagi Yama, serangan seperti ini sama sekali tidak ada apa apanya baginya
Dia terus bertahan untuk tidak menyerang dan melukai mantan murid muridnya,
bagaimanapun ia sudah berjanji pada masing masing dari orang tua mereka yang telah wafat.
Ingatan Yama melayang kesaat saat pertama ia bertemu dengan Raka.
Bagaimana ia bertemu dengan seorang budak kecil yang sekarat.
Tentang bagaimana ekspresi yang terlukis diwajah mungil Raka.
Tentang bagaimana perasaannya saat ia dipanggil dengan sebutan guru oleh murid kecilnya itu.
Dimata Yama yang sudah memiliki banyak murid sebelumnya, perasaan ini memang bukanlah hal yang baru baginya.
Tapi tetap saja, pertemuannya dengan Raka justru menimbulkan kesan tertentu.
Dia bukanlah muridnya yang terkecil ataupun yang terbesar.
Dia juga bukan muridnya yang terjenius ataupun terbodoh.
Dia juga bukanlah murid yang terkuat atau terlemah miliknya.
Atau bahkan murid tersopan atau termenyebalkan baginya.
Baginya, Raka adalah murid yang biasa biasa saja.
Tapi, perasaan yang tumbuh selama ia menjadi gurunya adalah yang terkuat.
'Anak ini adalah muridku yang berharga. Tidak ada kelebihan yang berarti darinya.'
'Tapi bukan berarti ia tak memilikinya. Satu satunya kelebihan darinya adalah, perasaan saling memiliki yang ia miliki'