
kedatangan bian yang tiba-tiba membuat mereka terkejut khususnya theya yang terkejut karena bian tiba-tiba menariknya menjauh dari fino dapat theya lihat sekarang wajah merah bian menahan marah. bian langsung menarik theya pergi dari tempat itu, theya hanya bisa pasrah karena jika ia melawan itu akan berakibat fatal entah itu pada dirinya atau pada fino nantinya. bian menarik theya menuju mobilnya dan menyuruh theya masuk. saat keduanya sudah duduk tenang bian membuka suaranya
" cowok itu siapa?, kenapa dia peluk kamu, aku gak suka liatnya theya, aku cemburu" theya hanya bisa menghela nafas mendengar rentetan kalimat yang dikeluarkan oleh kekasihnya tapi tak ayal ia menjawabnya
" namanya fino dia itu kakak sepupu aku yang baru pulang dari belanda" ucap theya sabar karena dia tau jika iya menjawab dengan nada tegas itu pasti akan menambah masalah
" sorry" ucap bian sambil menundukkan kepala merasa bersalah
" gak papa aku paham kok" . setelah mendengar kalimat itu dari theya, ia membawa gadis itu kedalam dekapannya jujur bian merasa bersalah sudah menuduh theya. theya membalas pelukan bian tapi theya heran karena pundaknya yang sedang bian gunakan untuk bersandar basah. theya langsung menguraikan pelukan itu dan mengangkat wajah kekasihnya. dapat theya lihat disana mata bian yang sudah mengeluarkan air dan hidungnya yang memerah, theya gemas dibuatnya
" kamu kenapa nangis hmm? " ucap theya sambil menahan tawanya
" a...aku ngerasa hiks b... bersalah sama kamu" jawab dian dengan nada sesenggukan karena menangis. theya melihat itu tersenyum dan membawa bian ke dekapannya lagi
" aku ngerti kok. jangan nangis ya aku paham kenapa kamu ngelakuin kayak gitu" ucap theya sambil mengelus rambut belakang bian. bian menikmati usapan rambut itu dia sudah berhenti menangis tapi tak ayal masih ada suara sesenggukan yang keluar dari mulutnya. jujur theya sangat gemas dengan bian saat ini
" udah kan nangisnya lepas ya pelukannya" ucap theya jahil, ia tahu bian menikmati usapan dan dekapan itu
" aaaaa gak mau theyaaa... gak mau" ucap bian merengek
theya suka melihat bian menangis. karena menurutnya itu lucu, theya merasa dia mempunyai bayi ,bukan bayi yang mungil tapi bayi besar
bian yang tidak mendapatkan respon apapun dari theya seketika langsung menangis
" kamu hiks... kenapa diemin aku hiks..." ucap bian sambil sesenggukan jujur ia paling tak bisa jika sudah di diami oleh theya. dan theya dengan jahilnya hanya diam karena ia suka membuat bian menangis
" theya ayo ngomong jangan diem aja hiks.. " ucap bian sambil trus memaksa theya untuk meresponnya. theya yang sudah tidak kuat lagi langsung menarik bian ke dalam dekapannya dan memeluknya
" jangan nangis lagi ya baby. aku cuma lagi ngisengin kamu"
" kamu jahat hiks... aku gak suka di diemin sayang" ucap bian yang masih menangis di dekapan kekasihnya. theya hanya bisa tertawa dengan sikap bian
" jangan pergi ya,aku butuh kamu.. " ucap bian sambil mengeratkan pelukan tersebut
" karena kamu dunia aku" sambung bian. karena jujur bagi bian theya adalah segalanya iya rela memberi semua kekayaannya agar bisa terus bersama theya karena baginya theya menjadi alasan ia tetap hidup dan menjadi alasan ia agar tetap bertahan