
selesai dengan acara makan yang penuh dengan drama tadi sekarang theya sedang duduk dikursi mobil bian tapi sedari tadi bian hanya diam, theya bingung dengan sikap bian mood nya suka berubah ubah kek cewek untuk theya sayang klok enggak udah dipastikan bian akan berada ditong sampah ehhh tapi bercada
" kamu kenapa? " theya mulai lelah dengan kesunyian yang tercipta yaudah dia ajak ngomong aja bayik besar ini
" gak tau" jawab bian sambil mengalihkan pandanganya kearah lain tak ingin menatap theya. theya yang sudah mulai kesal dengan sikap bian akhirnya memegang kedua pipi bian lalu diarahkan ke hadapannya jadi sekarang mereka lagi hadap hadapan kek orang main catur {autor : maaf hari ini saya prik 🙏} back to story
bian dan theya saling bertatapan dengan tangan theya yang mengelus rahang tegas milik bian
" kamu kenapa? klok aku ada salah ya ngomong jangan diem kek gini" ucap theya sambil terus mengelus pipi bian, bian yang diperlakukan seperti itu hanya bisa memejamkan mata sesaat lalu membukanya kembali
" aku kesel sama kamu kenapa gak ngabarin aku dulu kalok mau pergi" akhirnya theya tau mengapa bayi besarnya ini gak mau ngomong dari tadi
"yaudah aku minta maaf ya lain kali aku gak gitu lagi" ucap theya sebenarnya kalok dipikir pikir buat apa ngabarin setiap saat itu kan gak penting malah theya rasa bian akan risih jika ia mengabari setiap saat tapi theya salah karena semua kabar yang theya berikan ke bian itu penting buat bian istilahnya kek arus lapor 1x24 jam lah {autor:udah kayak kantor polisi:)}
"janji gak akan kayak gitu lagi? " ucap bian sambil mengangkat jari kelingking nya
" iya janji" theya juga mengangkat jari kelingking dan menautkannya pada bian, terjadilah perjanjian jari kelingking antara dua remaja bucin ini
" ini masih siang gimana kalok kita pilih gaun buat kamu" ucap bian. sontak theya menoleh ia bingung Emang besok ada acara apa sampek pakek gaun segala. dia coba terus mengingat tapi ia tak bisa ingat
" emang besok ada acara apa? " jujur theya sama sekali tidak tahu besok itu acara apa
" besok itu acara ulang tahun perusahaanya papa, papa ngundang kamu buat dateng. aku sebenernya mau kasi tau kamu tapi aku lupa" ucap bian sambil menjalankan mobilnya memasuki parkiran sebuah butik. bian turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk theya dan mengenggam tangan sang gadis {autor: kek orang mau nyebrang aja pakek gandengan segala}
bian dan theya memasuki butik tersebut lalu tak lama ada seorang wanita mendatangi mereka berdua dan membungkukan badannya
" selamat siang tuan muda, gaun pesanan anda sudah saya siapkan" ucap wanita itu sambil menegakkan badannya kembali dan mempersilahkan kedua pasangan itu masuk untuk melihat gaun tersebut
" silahkan anda duduk disini dulu saya akan ambilkan gaunnya" ucap wanita itu membungkukan badannya lalu meninggalkan bian dan theya
tak lama wanita itu kembali dengan sebuah gaun
mata theya berbinar melihat gaun tersebut. theya berdiri dari duduknya lalu mendekatkan diri kearah gaun biru itu
" kamu suka? " tanya bian dari arah belakang theya
" iya aku suka" jawab theya tampa mengalihkan pandangannya dari gaun tersebut
" sukurlah kalok kamu suka. tolong bungkus gaun ini nanti asisten saya yang akan mengambilnya kesini" ucap bian pada wanita itu
" cepet banget pulang" ucap theya menatap bian yang baru memasuki mobil
" orang tua aku udah ada dirumah kamu" ucap bian dan sontak membuat theya terkejut
" hah kok bisa? aku gak tau apa apa loh" theya merasa dirinya tidak tau sama sekali tentang pertemuan dua keluarga ini
" nanti juga kamu tau kenapa mereka kumpul" ucap bian sambil fokus menyetir. saat dilampu merah bian mengeluarkan ponselnya lalu menelfon seseorang
" tolong ambilkan gaun gadis saya dibutik. jangan sampai ada rusak sedikitpun karena itu gaun kesukaan gadis saya, kalau sampai gaun itu rusak gajimu.untuk 5 bulan kedepan ini tidak ada" ucap bian lalu mematikan telfon tersebut tanpa tau bagaimana wajah sekertarisnya yang sudah pucat pasi mendengar penuturan tuan mudanya.
singkat cerita bian sampai dirumah theya mereka berdua turun dari mobil lalu berjalan masuk kerumah tersebut. sampai didalam mereka sudah dapat melihat dua keluarga sedang berkumpul diruang tamu tapi theya merasa seperti ada yang aneh kenapa aura ayahnya dan papa bian dingin sekali
bian dan theya berjalan kearah ruang tamu lalu duduk disalah satu sofa disana
" jadi gimana keputusan kamu theya? " ucap danuar menatap kearah putri satu-satu nya itu. theya bingung dengan pertanyaan sang ayah keputusan apa maksudnya?
" keputusan apa maksud ayah? " ucap theya bingung
" bagaimana keputusan pertunangan kamu apa kamu setuju tentang pertunangan ini? " ucap danuar. lagi-lagi theya dibuat terkejut dengan penuturan sang ayah
" tunggu dulu. theya gak ngerti ini maksudnya apa sih" ucap theya. lalu agas yaitu ayah bian membuka suara
" jadi gini theya. papa berancana menjodohkan kamu dengan bian, kalian tidak akan langsung menikah hanya tunangan saja dulu kerena bian ingin mengikat kamu dalam hubungan yang jelas" penjelasan dari ayah bian sontak membuat theya langsung menatap bian meminta penjelasan
" apa maksudnya semua ini bayu? " tatapan theya seakan meminta penjelasan pada sang kekasih
" aku cuma mau kita berdua punya hubungan yang jelas dan ngiket kita satu sama lain " ucap bian. theya bingung harus menjawab apa ini diluar nalar nya, bagaimana bisa bian mengajukan pertunangan semudah itu padahal bian tau mereka sama-sama masih sekolah. theya tak habis pikir dengn jalan pikiran bian sebenarnya apa yang bian ingin kan ini gila
" kenapa harus tunangan bayu? sebenarnya apa sih yang kamu pikirin" ucap theya dengan nada lelah
" aku cuma mau kamu terus sama aku. toh juga kita cuma tunangan bukan nikah" ucap bian santai karena menurut bian ini tu biasa saja tapi lain halnya dengan Tehya, theya sudah menganggap pertunangan itu setara dengan pernikahan. dengan dua orang bertukar cincin pertunangan itu awal dari janji suci pernikahan dan itu enggak main-main
theya gak mau jika saat mereka sudah bertunangan dan suatu saat mereka merasa sudah tidak cocok lagi lalu memutuskan pertunangan tersebut bagaimana? Theya tak bisa membayangkannya
" kasi aku waktu buat mikirin ini" ucap theya lalu meninggalkan ruang tamu dan berjalan menuju kamarnya
bian paham mungkin ini terlalu cepat untuk theya tapi ini adalah jalan satu-satu nya agar ia bisa mengikat theya agar terus bersamanya