BETWEEN LOVE OR OBSESSION

BETWEEN LOVE OR OBSESSION
Bab 52 (penjaga)



bian terus memikirkan tentang perkataan biru barusan, sebenarnya siapa kakak tertua theya mengapa ia tak mengenalnya. tapi ditengah keterbingungan bian tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang


"kok kamu masih disini sih? " ucap theya sambil duduk di dekata bian


"gak papa, males aja masuk ke dalem entar diajak berantem sama ayah kamu" sebenarnya bukan itu alasan ia tak masuk ke dalam rumah lagi tapi ia tak ingin theya khawatir


"kamu tadi ngomongin apa sama kak biru?, kok kayak serius gitu" tanya theya penasaran


"kita lagi ngomongin tentang kakak kamu yang paling tua" bian melirik kearah theya yang awalnya penasaran jadi menampilkan wajah senang nya


"kamu ngomongin kak gema? " ucap theya dengan nada antusias


"kamu bisa ceritain sama aku gimana sosok kak gema?" mendengar pertanyaan bian yang seolah ingin lebih jauh mengenal kakaknya, theya mengangguk dengan antusias


"kak gema itu orangnya baik, dia selalu jaga theya, tapi ayah suruh kak gema buat nungguin perusahaan ayah yang ada diluar negri tapi biarpun kayak gitu kak gema tetep jagain aku" ternyata gema adalah sosok penjaga bagi theya, theya sepertinya benar-benar sangat menyayangi gema sebagai kakak


"gimana kamu tahu klok kak gema selalu jagain kamu? " tanya bian


"karena kak gema ngutus beberapa orang buat jagain theya dari jauh" bian paham ternyata gema sangat menjaga theya sebagai sosok gadis bukan adik


"keliatannya kamu sayang banget ya sama kak gema? " theya menganggukan kepalanya sebagai jawaban


"sebentar lagi kak gema bakal pulang, pokoknya kamu sama dia harus deket ya... kayak kamu deket sama kak biru dan kak dion" bian mengangguk sebagai jawaban, sebenarnya ia ragu sosok gema akan menerimanya karena gema sangat senyayangi theya, bahkan rasa sayang gema sepertinya sudah masuk tahap obsesi sama sepertinya, tapi obsesi gema itu tak wajar bagaimana mungkin seorang kakak bisa mencintai adiknya se berlebihan itu? sepertinya ia tak bisa menyingkirkan sosok gema karena theya sangat menyayanginya.


"theya jadi ikut bian ketemu bunda? " sebenernya alasan bian datang kerumah theya hari ini adalah untuk mengajaknya bertemu sang bunda


"yaudah ayok pergi" bian dan theya memasukin rumah untuk meminta izin.


"ma, pa bian izin bawa theya buat ketemu bunda"


"silahkan, Hati-hati ya" ucap amira sedangkan danuar hanya diam saja


singkat cerita bian dan theya sudah memasuki area pemakaman. theya dibuat bingung mengapa bertemu bunda di pemakaman bukannya mama diah kemarin baik-baik saja


"kok kita ke sini sih? bukannya ke rumah kamu" theya benar-benar bingung


"nanti aku ceritain" bian turun dan berjalan membukakan theya pintu mobil sambil menggenggam sebuket mawar biru ditangannya.


setelah theya sudah turun dari mobil bian pun menggenggam tangan theya menuju salah satu nisan disana. setelah sampai di nisan tersebut bian menjongkokkan dirinya diikuti oleh theya, theya menatap nama yang tertera diatas nisan tersebut


"anastasya putri itu siapa bian?, trus bunda dimana?, kenapa kita ke sini? " theya melontarkan pertanyaan beruntunnya


"bian itu punya dua ibu, yang satu itu bunda dan yang satu itu mama diah, dan makam yang lagi kita datengin sekarang ini makamnya bunda bian, namanya bunda tasya. sedangkan mama diah tu mama tiri bian" ternyata hidup bian itu rumit dan theya baru tahu itu.


"kenapa kamu gak pernah cerita sama aku?" theya merasa bahwa bian terlalu banyak menutupi rahasia dari dia


"maaf... aku belum sempat cerita ke kamu" bian sama sekali tak ada niat menyembunyikan nya dari theya, ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk cerita.


"aku ngerti, aku harap setelah ini gak ada lagi yang kamu sembunyiin"