
tepat saat jam istirahat berbunyi theya beserta ke 2 temannya bersiap-siap untuk menuju ke kantin tapi tepat saat iya berjalan keluar kelas theya terkejut dengan kehadiaran bian dan teman-temannya. bian tanpa sepatah katapun langsung mengenggam tangan theya menuju kekantin tanpa menghiraukan tatapan dari orang-orang sekitar saat sampai di meja yang ia tuju bertepatan dengan teman - teman mereka yang menyusul di belakang
" yan itu adek gue jangan lo tarik kyak lagi main tarik tambang dong" ucap dion
"iya lu seenaknya aja narik temen kita kek gitu gak sopan tau" ucap sindi dan di beri anggukan oleh ririn
" dia punya gue jadi gue bebas mau apain dia" ucap bian. mereka berusaha mencerna kata-kata bian
" adek gue bukan barang yang bisa lo klaim seenaknya" ucap dion yang jengkel dengan temannya yang seenaknya bilang bahwa adik kesayangannya adalah hak nya
" adek lo emang buka barang. gue suka sama adek lo dan dia harus jadi milik gue"
" bian lu gak berubah ya" ucap lio
" mulai sekarang tehya punya gue. dia pacar gue" ucap bian mantap
" lu gak bisa seenaknya kayak gitu bian. lu harus tanya theya dulu dia mau gak jadi pacar lo" ucap dafa yang menatap theya kasihan karena iya tau dari awal watak sahabatnya yang satu ini
bian langsung menatap theya
" kamu mau jadi pacar aku? jawabanya hanya yes or iya" dion beserta teman-temnnya di buat bengong dengan ucapan bian itu tidak terdengar seperti pernyataan cinta, tapi itu terdengar seperti paksaan
theya bingung ingin menjawab apa karena kedua pilihan itu sama saja menurutnya
" kenapa pilihannya sama? harusnya yes or no, bukan yes or ya" ucap theya
"bian adek gue tertekan" dion jengah tengan tingkah bian yang menjadi jadi
" gue gak suka di tolak yon dan lo tau itu. jadi apa jawabannya dear?" ucap bian sambil menatap theya
"tampa aku jawab kamu juga udah tau bian. aku gak bisa nolak jadi buat apa kamu masih tanya jawabannya apa" ucap theya pasrah ia pasrah karena apabila iya menolak bian pasti bian akan tetap memaksa
" mulai sekarang kamu milik aku. jadi jangan coba-coba lari, sayang" ucap bian dengan nada mengancam
theya sadar dengan keputusannya iya tau ini salah tapi iya juga takut bila harus melanggar bian karena dia merasa bian akan melakukan hal di luar nalar
" bisa-bisanya bian nembak cewek gak ada romantis-romantisnya" ucap dafa yang di balas anggukan oleh lio
" temen kita udah laku rin. tapi dengan cara gak elit" ucap sindi dengan perasaan hampir tak percaya
" adek kesayangan gue udah gak jomblo lagi. gue gak nyangka dia bakal pacaran sama si balok es" ucap dion yang masih tak percaya
tampa mereka sadari ada yang melihat semua kejadin itu sambil berkata dalam hati
" semoga lu bisa ngerubah sifat bian ya. gue yakin bian juga bisa sembuh dari traumanya semoga lu kuat " ucapnya membatin sambil trus menatap dua pasangan yang baru jadian di hadapannya iya percaya bahwa theya bisa mendampingi bian sampai iya sembuh dari traumanya
(kira-kira siapa ya yang membatin kek gitu? )