
harusnya kita tak saling mengenal, harusnya kamu tidak menyukaiku saat itu, seharusnya aku tak mencintaimu sedalam ini:) .
dipermainkan takdir itu gak enak. takdir mempertemukan kita tapi takdir juga yang membuat kita berpisah.
andai saat itu aku menerima mu masuk ke hidupku saat aku masih belum selesai dengan masalaluku mungkin kita masih berkomunikasi sampai sekarang.
membiarkan orang tulus sepertimu pergi adalah hal paling bodoh yang pernah kulakukan. aku membiarkan mu pergi bukan karena aku tak menyukaimu, aku hanya takut menyakitimu karena aku belum selesai dengan masalaluku.
tapi kenapa kamu pergi disaat aku udah sembuh?. aku mau egois kali ini, aku mau kita balik lagi
ayo balik... aku butuh kamu
aku hancur lagi setelah kamu gak ada, aku ngelanggar semua hal yang kamu larang dulu biar dapet perhatian kamu lagi
minta maaf aja ternyata gak cukup ya... hubungan kita ternyata emang gak bisa balik lagi kayak dulu dan itu semua karena kebodohan aku:)
...****************...
"harusnya kita enggak ketemu" bian menatap gadis yang sangat ia cintai dengan pandangan lembut
"terlambat. kenapa kamu baru bilang sekarang? " ucap bian sambil mengelus rambut sang gadis
"aku belum selesai dengan masalaluku bian... aku akan menyakitimu jika kamu terus bersamaku" theya menyingkirkan tangan bian pada pucuk kepalanya
" aku udah biasa sakit theya... aku lebih baik sakit hati tapi bersama kamu daripada aku samasekali enggak sama kamu karena enggak sama kamu itu lebih buat aku sakit" bian menampilkan senyum tulusnya seolah ia baik-baik saja
"kamu berhak bahagian bian...harusnya kamu gak suka sama aku"
"aku bakal buat kamu sembuh dari masa lalumu, aku bakal bantu kamu "
"aku takut kamu pergi setelah aku selesai dengan masalaluku" theya menatap bian sedih, bagaimana bisa ada laki-laki setulus bian
"aku gak akan pergi kemana-mana, aku bakal trus disini sampai kamu sembuh" ucap bian sungguh
lain halnya ditempat lain ada seorang pria yang sedang mengamuk disebuah ruang dengan minim cahaya
"klok kamu Terima dia, lalu bagaimana dengan aku?... aku gak mau berbagi sayang" gabriel menggila setelah melihat layar komputer nya yang memperlihatkan percakapan theya dan gabriel
"parasit itu harus segera disingkirkan... harusnya dari awal aku bunuh saja dia"
"aaargghhh... harusnya aku yang bersama mu bukan dia" jika gabriel tau dari awal akhirnya akan seperti ini maka ia lebih memilih membunuh abian dari pada harus kehilangan gadisnya
gabriel mengambil ponsel nya lalu menelfon bawahannya
"kita jalankan rencana kita" setelah mengucapkan kalimat singkat itu, gabriel mematikan sambungan telfon tersebut.
...----------------...
saat pertemuan bian dan theya yang rumit tadi. bian mengantarkan gadis itu pulang dengan selamat
selesai mengantar theya, bian memutuskan untuk langsung pulang tampa mampir terlebih dahulu
tapi saat meninggalkan pekarangan rumah theya, bian melihat ada dua mobil hitam yang mengikutinya dari belakang
"dasar hama" bian menambah laju kecepatannya lalu membawa mobilnya kearah are gang sempit.
saat sudah sampai bian keluar dari mobilnya dan dua mobil yang lain mengikuti. kedua mobil itu berhenti dan mengeluarkan 4 orang berpakaian hitam
"aku tahu siapa yang menyuruh kalian" abian mengeluarkan sebuah pistol dari sakunya
"kamu mempermudah pekerjaan kami" ucap salah satu dari 4 orang itu
tak lama setelah ucapan tersebut ada orang yang menembakan obat bius pada abian
"sial...persiapan mereka matang juga ternyata" pandangan bian mengabur lalu tubuhnya tak lama jatuh ke tanah tak sadarkan diri
dari salah satu mobil yang mengikuti abian keluarkan seorang pria
"kamu terlalu mudah" ucap nya sambil menatap tubuh tak sadarkan diri bian.