BETWEEN LOVE OR OBSESSION

BETWEEN LOVE OR OBSESSION
Bab 23 (penjelasan bian)



Bian menatap kepergian theya dengan wajah sendu ini semua memang terlalu cepat tapi inilah yang ia inginkan, ia ingin theya tetap bersamanya dengan cara mengikat theya dalam ikatan pertunangan


" jadi sekarang bagaimana?. kamu mau tetap melanjutkan pertunangan ini? tanpa persetujuan anak saya? " ucap danuar menatap bian, ia meragukan bocah tengil dihadapannya ini bagaimana putri satu-satu nya nanti apakah akan bahagia?, apakah kebutuhanya akan perpenuhi. danuar sangat-sangat meragukan sosok bian kerena bian itu jauh dari kriteria mantu idaman danuar jika dipikir pikir membadingkan bian dengan laki-laki manapun bian sudah pasti menang kaya tapi soal muka ya lebih gantengan dia lah dari pada bocah ini {autor: Pd amat om om satu ini:)}


" cihh... kalok boleh jujur kamu itu gak layak jadi mantu saya, kamu jauh dari kriteria mantu idaman " ucap danuar yang masih menatap bian dari atas sampai bawah. danuar sedang berfikir apa yang membuat theya bisa menyukai bocah ini


" mata om aja yang minus, semua orang bilang kalok saya itu justru mantu idaman" ucap bian menyombongkan dirinya, ingatkan bian kalok orang yang sedang dia ajak debat ini tu calon mertuanya


" idaman darimananya ganteng aja kamu enggak dari segi apa idaman yang kamu maksud" ucap danuar sambil menyipitkan matanya meneliti penampilan bian


" saya kaya, saya punya perusahaan sendiri, saya juga ganteng kalok om bilang saya gak ganteng berarti mata om buta" jawab bian sambil melipat kedua tanganya kedepan dada menyombongkan diri


" bocah kurang ajar enak aja kamu bilang saya buta. saya gak bakal restuin kamu sama anak saya " ucap danuar dengan nada marah


" saya bisa bawa kabur anak om kalok saya mau. owh iya cowok yang om sebut bocah ini udah bisa buat bocah " ucap bian santai dan mendapat tatapan tak suka dari danuar Bisa-bisanya danuar yang tak terkalahkan didunia bisnis bisa dikalahkan adu mulut oleh bocah yang sayang nya akan menjadi menantunya ini


" kalok bukan karena papamu saya males jodohin anak saya sama kamu" bian hanya menatap tak minat pada danuar, ia beranjak dari duduknya lalu menuju kekamar gadisnya ia malas berdebat dengan laki-laki tua itu


dari arah belakang danuar sudah meneriaki nama bian tapi bian bodo amat ia terus melanjutkan jalanya kekamar gadisnya


" dasar anak kurang ajar kalok theya gak cinta sama kamu udah saya bunuh kamu" ucap danuar dengan nada berteriak


" maafin anak gue ya dia emang gitu" ucap agas jujur ia tak enk dengan danuar. ingatkan agas untuk menghukum bian sampai rumah karena sudah membuatnya malu didepan sahabatnya.


bian sampai didepan pintu kamar gadisnya dan membuka pintu tersebut tanpa permisi karena ia merasa ia berhak melakukan itu. sampai didepan ranjang sang gadis dapat bian lihat theya sedang menutupi semua tubuhnya menggunakan selimut


bian mendekat ke arah theya lalu mengelus pelan kepala gadisnya


" cupcupcup jangan nangis ya. maafin aku gak ngomongin dulu sama kamu" ucap bian sambil menelus punggung sang kekasih


" kamu jahat. kenapa sih main seenaknya aja nentuin keputusan " ucap theya sambil memukul dada bidang sang kekasih


bian yang mendapat pukulan dari sang kekasih hanya bisa tertawa karena pukulan yang di berikan theya itu sama sekali tidk sakit bagisnya


" yaudah oke aku minta maaf ya. aku ngelakuin itu semua ada sebabnya sayang, aku mau kita tunangan biar kita punya hubungan yang lebih jelas lagi. aku cuma mau supaya kamu tetep sama aku, kamu tau kan kamu itu punya aku?." tanya bian diakhir kalimat


" iya aku tau. maafin aku juga ya jadi gak ngertiin kamu " ucap theya merasa bersalah


" udah ya gak udah dibahas lagi " tangan bian terus mengelus rambut panjang milik theya


" aku ngantuk mau tidur bayu" ucap theya dengan nada sedikit merengek


" yaudah perbaikin dulu dong masa mau tidur sambil duduk" ucap bian menguraikan pelukan mereka


" mau tidur sambil peluk mau" theya sudah ngantuk karena terlalu banyak menangis


" yaudah selamat bobok tuan putri " ucap bian sambil terus menelus rambut sang kekasih


tak lama bian mendengar dengkuran halus dari theya ia merasa bahwa theya sudah memasukin alam mimpi, ia lalu mengecup pucuk kepala gadisnya


" apapun bakal aku lakuin biar kamu bisa tetep sama aku. aku gak bakal biarin di antara kita berdua ada penghalang karena apapun penghalangnya bakal dipastikan bahwa itu gak bakal bertahan lama " selesai mengucapkan kalimat itu bian memejamkan matanya dan ikut tertidur bersama sang kekasih