
Bian membuka matanya pelan sepertinya tadi ia tertidur disamping bankar theya. ia menatap wajah theya yang masih menutup mata
" kamu kapan bangunnya sih? " setelah bian mengucapkan itu tiba-tiba tubuh theya kejang. bian yang panik langsung keluar sambil memanggil dokter
tak lama dokter datang lalu masuk keruangan theya. Bian berjalan untuk duduk dikursi tunggu dengan pandangan mata kosong tapi hati nya tak tenang memikirkan keadaan gadisnya.
dokter yang menangani theya tak kunjung keluar membuat suasana diluar ruangan semakin khawatir, disini sudah berkumpul keluarga theya dan juga keluarga bian menanti dokter yang tak kunjung keluar.
" pa, mama takut theya kenapa napa" danuar sedari tadi menenangkan istrinya yang trus menangis memikirkan keadaan putri sematawayangnya, disana juga ada dion dan biru yang sama khawatir nya. tapi tak lama dokter keluar dari ruang rawat theya
" saya minta maaf" ucap sang dokter sambil menunduk kan kepala.semua orang yang ada disana seketika takut dengan kalimat selanjutnya yang akan dokter itu lontarkan
" cepat kasi tau kabar gadis saya, saya gak perlu kata maaf anda" dokter tersebut mengangkat kepalanya dan melihat kearah bian
" bian tenangin diri kamu " ucap agas
" saya minta maaf sebelumnya karena gagal menyelamatkan nyawa pasien" ucapan dokter tadi langsung membuat amira menangis keras dipelukan suaminya, danuar menatap kedepan dengan pandangan kosong penuh kesedihan
" gak, gak ini gak mungkin kan pa? " tanya amira pada danuar, danuar tak merespon pertanyaan istrinya karena hatinya seakan hancur saat mendengar ucapan dokter tersebut. diah selaku ibu bian mencoba menenangkan amira
" adek gue gak mungkin meninggalkan?, ini semua pasti cuma mimpi" ucap biru lirih seakan masih tak percaya dengan apa yang baru ia dengar, dion hanya bisa diam sambil mencoba menyakinkan dirinya bahwa itu semua bohong
" gak ini pasti cuma mimpi, gak mungkin theya ninggalin gue" bian terduduk lemas dilantai seolah kehilangan pijakannya
" kamu harus kuat neriman semua ini" ucap agas menepuk bahu sang anak, mencoba menenangkan bian. ia juga sedih saat mendengar ucapan sang dokter
" papa tau ini pasti berat buat kamu" agas sedih melihat kondisi bian..
Hari itu juga theya di makamkan. amira dan danuar sudah mencoba mengikhlaskan putri mereka.
" kamu yang tenang ya disana. mama sama papa bakal ikhlasin kamu" ucap amira lirih
sama halnya dengan biru dan dion mereka juga mencoba mengikhlaskan theya
"tenang disana ya dek. kakak pasti bakal sering kesini bareng kak dion" ucap biru memadang peti jenazah sang adik yang mulai tertimbun tanah
tapi lain halnya dengan bian, ia benar-benar tidak bisa mengikhlaskan gadisnya. tepat setelah semua orang menarus bunga dikuburan theya satu persatu dari mereka mulai meninggalkan tempat itu
" kamu masih mau disini? " tanya agas pada sang anak dan mendapat anggukan dari bian. setelah mendapat jawaban dari sang anak agas langsung meninggalkan tempat itu.
kini hanya bian yang tersisa disana dengan membawa buket bunga berwarna putih. bian mendudukkan dirinya mensejajarkan pada makam sang gadis dan menaruh buket bunga tersebut
" kamu ingkar janji" tangan bian bergerak mengelus nisan tersebut
" kenapa kamu gak ajak aku?, kita udah janji bakal sama-sama terus. kamu tau aku gak bisa tanpa kamu" tangan bian beralih memegang gundukan tanah merah didepannya, tangan bian meremas gundukan tanah tersebut seolah menyalurkan rasa sesak dihatinya
" aku salah apa sama kamu sampek kamu hukum aku kayak gini?, ayo balik lagi kita omongin sama-sama, biar aku minta maaf ke kamu" air mata nya sudah tak bisa lagi terbendung.
" aku udah pernah bilang sama kamu kalok kamu itu dunia aku, kamu itu alasan aku hidup. gimana aku bisa hidup sekarang kalok alasan aku hidup aja udah gak ada" bian benar-benar hancur setelah kepergian theya. orang yang bian jadikan sebagai alasan untuk tetap hidup sudah tidak ada, bian kehilangan cahayanya. semua hal-hal indah yang sudah bian rencanakan seketika lenyap karena dunianya sudah tidak ada