BETWEEN LOVE OR OBSESSION

BETWEEN LOVE OR OBSESSION
Bab 18 ( minggu )



minggu pagi yang cerah theya saat ini sedang siap-siap karena ia ingin pergi piknik dengan bian. awalnya theya ingin malas-malasan dirumah tapi bian tiba-tiba menelfon nya dan mengajak theya pergi piknik


theya turun ke bawah dan mendapati keluarganya sedang berkumpul di ruang keluarga


" mau kenapa Princess? " tanya danuar pada sang anak


" theya mau pergi piknik sama bayu ayah" jawab theya dengan antusias tapi lain halnya dengan danuar, dion, biru, dan mama theya mereka merasa theya jarang dirumah dan sering keluar bersama bian theya jarang menghabiskan waktu dengan mereka tapi mereka tak boleh egois karena kebahagiaan theya sekarang bukan hanya mereka tapi juga bian


" yaudah Hati-hati ya " ucap danuar. theya berjalan kearah keluarganya dan berpamitan


" theya pergi dulu ya bye bye" theya berlari kecil menuju pintu keluar rumahnya dan mendapati mobil bian di pagar luar rumahnya dengan bian yang bersandar pada salah satu pintu mobil, theya lantas berlari menuju mobil tersebut. bian yang melihat kekasihnya berlari langsung menampilkan raut wajah marah ia takut jika theya terjatuh


saat theya sampai didepan bian ia langsung memeluk sang kekasih


" ayo berangkat" ucap theya dengan nada bersemangat tapi jawaban yang didapat theya bukan seperti yang ia bayangkan


" siapa yang suruh kamu lari kayak tadi" ucap bian dengan nada dingin dan menatap mata sang kekasih dengan marah. theya yang menyadari kesalahannya lantas menuntuk ia tak berani menatap wajah bian. bian yang melihat theya menunduk lantas membuang nafasnya kasar karena ia tak tega melihat kekasihnya seperti ini


" lain kali jangan kayak gitu ya. aku takut kamu jatuh" ucap bian menurunkan nada bicaranya agar tak sedingin tadi sambil tangan yang mengusap rambut panjang theya


" aku minta maaf" theya mengucapkan kata itu dengan nada sendu


" udah gak papa lain kali jangan diulangin ya. sekarang ayo kita berangkat" ucap bian membukaan pintu mobil untuk sang kekasih setelah itu ia juga masuk kedalam mobil dan menjalankan mobil tersebut


singkat cerita mereka sampai disebuah taman yang lumayan ramai. mereka berdua turun dari mobil dan memilih tempat yang teduh lalu menggelar kain sebagai alas duduk bian juga mengeluarkan beberapa makanan dan minuman untuk mereka berdua. bian dan theya duduk tenang sambil menikmati pemandangan didepannya dan juga makan bekal yang bian bawa tadi. selesai menikmati makananya bian menaruh kepanya pada paha theya dan theya mengelus rambut bian.



" janji jangan tinggalin aku ya" ucap bian dengan nada memohon, theya yang awalnya mengelus rambut bian menghentikan kegiatanya sebentar


" iya aku gak bakal ninggalin kamu kecuali kalok kamu yang ninggalin aku duluan" jawab theya sambil kembali melanjutkan kegiatannya mengelus rambut bian


" aku gak akan ninggalin kamu " bian mengubah posisi tidurnya jadi menghadap theya


" aku cuma butuh bukti bayu" bukanya theya tak percaya dengan kekasihnya ini tapi yang ia butuhkan sekarang hanya bukti bukan janji


" iya aku bakal buktiin ke kamu klok aku gak bohong " ucap bian yakin


" aku mau tidur. usapin terus ya kepalanya" ucap bian sambil menuntun tangan theya menuju kepalanya,bian memposisikan kepalanya menghadap perut theya dan memeluk perut itu dengan tangan kekarnya. bian mulai mengantuk dan memejamkan matanya dan theya masih setia mengelus rambut bian


" cepet banget tidurnya. kayaknya begadang deh tadi malem" ucap theya, theya berusaha melepaskan pelukan bian dari pinggangnya tapi bian justru mengeratkan pelukan tersebut


" hmmm jangan dilepasss biarin aja kayak gini" ucap bian lalu melanjutkan tidurnya. theya hanya bisa pasrah biarkan saja bian tidur dulu kelihattanya ia sangat kelelahan


" jika aku adalah bahagia mu maka meneteplah tapi jika aku adalah rasa sakitmu maka beritahu aku agar aku bisa memperbaiki sifatku, jika nanti saat aku sibuk mengubah diri dan kamu menemukan wanita yang lebih dariku maka pergilah. aku tak apa" theya tak bisa memaksa bian menetap jika suatu saat bian menemukan wanita lain disaat mereka masih bersama. theya harap bian tak berpura-pura mencintainya karena ia benci kebohongan, ia lebih baik mengikhlaskan bian dengan wanita lain dari pada dia harus hidup dalam belenggu kebohongan karena pada dasarnya sesuatu yang ditutupi dengan kebohongan itu tak akan menciptakan kebahagiaan tapi justru sebaliknya yang ada hanya kesengsaraan.


" gimana ya jika suatu saat aku liat kamu sama cewek lain. ngebayangin aja aku udah mau nangis apalagi klok aku liat sendiri pasti hancur aku" theya masih senantiasa mengelus rambut bian yang sedang tertidur lelap


" klok boleh egois aku maunya kamu tetep sama aku. boleh gak sih kayak gitu? " theya menatap lurus kedepan dengan pandangan sendu


" bahagia terus ya, walaupun besok bukan aku yang jadi alasan kamu bahagia aku bakal coba ikhlas" salahkah theya membayangkan sesuatu yang belum terjadi?


apapun endingnya nanti theya akan pasrah. theya merasa bahwa bian tak lama akan bersamanya.