BETWEEN LOVE OR OBSESSION

BETWEEN LOVE OR OBSESSION
Bab 25 (Debat with calon mertua)



pagi ini bian menjemput theya untuk di ajak jalan-jalan. bian menunggu theya selesai siap-siap dihalaman rumah theya karena bian males masuk kedalam rumah ia malas berdebat dengan om-om resek, ya kalian pasti tau lah siapa orangnya


saat sedang asik menunggu tak lama theya datang. bian langsung bergegas mengangkat buket bunga yang akan ia berikan ke theya



" bagus gak" ucap bian lalu memberikan karangan bunga tersebut kearah theya. theya menerima karangan bunga tersebut dengan senang hati


" bagus banget. makasi bayu" ucap theya sambil memeluk sang kekasih, bian juga memeluk theya tak kalah erat


" enak ya pagi-pagi pelukan depan rumah orang. gak takut digosipin tetangga" ucap suara dari arah belakang theya. pelukan theya dan bian terlepas karena suara danuar


bian menatap malas calon mertuanya ini. "klok bukan calon mertua udah gue bunuh mungkin dia" ucap bian dalam hati


" papa kok diluar?" tanya theya pada sang ayah


" gak papa. papa cuma mau ketemu pacarmu aja " ucap danuar santai lalu mendekatkan diri pada bian. theya memundurkan dirinya memberi ruang untuk papanya dan bian mengobrol


" mau kamu bawa ke mana anak saya? " tanya danuar


" mau saya ajak kawin lari" jawab bian santai dan mendapat tatapan tajam dari danuar


" enak aja kamu. klok kamu berani kayak gitu saya potong leher kamu" ucap danuar sambil menggerakan tangannya seperti memotong leher orang. bian hanya melihatnya tanpa rasa takut sedikitpun


" kalok anda mau potong leher saya udah pasti putri anda satu-satu nya bakal nangis. putri anda kan cinta saya" ucap bian sambil menyombongkan diri


" putri saya tu gak cinta sama kamu. dia cuma saya suruh morotin kamu sampek miskin" gimana bisa bapak danuar berpikiran morotin bian yang kaya tujuh turunan


" harta saya Unlimited gak bisa habis. jadi mau seberapa banyak putri anda pakek uang saya gak bakal abis" ucap bian sambil menaruh tangan didepan dada menyombongkan diri


" cuih gitu aja bangga kamu. kalok bukan karena terpaksa, saya gak akan ngerestuin kalian" danuar itu hobi nyarik ribut sama calon mantunya ini. soalnya kalok kata danuar mukanya bian itu ngeselin minta ditonjok {autor: masa ganteng gitu mau ditonjok:)}


" ada gak nya restu anda,gak bakal jadi penghalang buat saya " andai kalok danuar tidak memberi bian restu maka bian akan membawa lari theya


" kamu itu ya jadi anak muda gak tau diri. anak saya pasti kamu pelet makanya bisa suka sama kamu" danuar tak terima dengan ucapan bocah didepannya ini, ia menaikkan sedikit nada bicaranya sambil menunjuk bian


" liat aja kamu, nanti gak saya ijin kan kamu ketemu anak saya lagi" ucap danuar pergi meninggalkan bian dan theya


" udah ya sabar aja papa emang kayak gitu orangnya" theya tak tega karena tiap bian bertemu dengan sang papa sudah dipastikan mereka akan debat


" gak papa kok aku ngerti. sekarang ayo kita pergi" ucap bian membukakan pintu mobil mempersilahkan theya masuk terlebih dahulu lalu setelah sang kekasih masuk ia bergegas kepintu satunya lalu menjalankan mobilnya menjauhi rumah theya.


danuar masuk kerumahnya lalu mendudukkan dirinya disofa ruang tamu dengan perasaan kesal. tak lama biru dan dion datang dari lantai atas lalu ikut mendudukkan diri didekat danuar


" pa, mama kemana? " tanya biru pada sang papa


" lagi pergi arisan dirumah tetangga" jawab danuar dengan nada tak bersahabat


" kalok theya dimana? " sekarang giliran dion yang bertanya karena ia tak melihat sang adik daritadi


" tu pergi dibawa sama bocah ingusan jalan-jalan " jawab danuar dengan nada marah. biru dan dion langsung mengerti siapa bocah ingusan yang dimaksud oleh papanya itu, dan sudah mereka berdua simpulkan bahwa tadi papanya ini habis berantem sama bian makanya mood nya jelek


" habis berantem ama bian ya? " tanya biru pada sang papa, ia ingin tau apa topik pertengkaran mereka berdua tadi


" iya. klok bukan karena restu dari papa mana mungkin mereka bisa sama-sama kayak sekarang" jawab danuar sambil marah-marah. yah sekarang biru dan dion sudah bisa menyimpulkan topik perdebatannya apa. mereka berdua tidak habis pikir Bisa-bisanya bian dan papa mereka tiap ketemu itu berantem aja kerjanya


" udahlah pa, jangan dipermasalahin lagi" ucap biru mencoba menenangkan sang ayah


" sampai kapan papa mau berentem terus sama bian? " tanya dion pada sang ayah


" sampek dia berenti ketemu sama theya" jawab danuar


" pa udahlah. kita ngerti papa cemburu karena theya punya pacar, kita berdua juga sama kayak gitu. tapi coba papa pikir lagi kasian theya jadi gak punya kebebasan. papa mau theya sedih? " tanya biru diakhir kalimat


" papa gak mau theya sedih. tapi papa juga gak suka theya trus sama bian dan gak punya waktu lagi sama papa" ucap danuar dengan nada sedikit sedih. ia senang karena theya sudah menemukan kebahagiaannya tapi ia juga sedih karena sang putri jadi tak punya waktu dengan nya lagi


" kita juga sedih pa, theya jadi gak ada waktu sama kita tapi biarin theya sama kebahagiaannya sekarang. dulu kebahagiaan theya mungkin kita tapi sekarang kebahagiaan theya itu bian dan kita harus dukung theya bahagian" ucap biru memberi penjelasan pada sang ayah. ia juga sama dengan danuar, ia juga cemburu dengan theya karena sekarang theya tak lagi manja dengannya semenjak ada bian. biru ingin theya manja padanya lagi seperti sebelumnnya tapi ia lebih memikirkan kesenangan theya untuk saat ini


" apa yang dibilang sama kak biru itu bener pa, kita gak selamanya bakal ngurung theya dengan kasih sayang yang kita punya. ada kalanya dia menemukan kebahagiaannya sendiri" tambah dion. dion juga sama seperti papanya ia kadang cemburu dengan sikap theya pada bian yang sweet sedangkan dengnnya theya jadi jarang bertemu, ia sekarang juga jarang menjahili theya karena theya selalu bersama bian klok ia menjahili theya didepan bian bisa mati muda ia nanti. karena ia ingat waktu itu lio pernah menjahili theya sampai theya menangis dan berakhir lio babakbelur oleh bian, sungguh lio sangat malang tapi untungnya ia tidak mati muda kan kasian klok mati muda ia kan belum nikah. klok dion ingat itu ia merinding seketika.


danuar sadar akan sikap kekanak kanakannya, ia tak boleh terus seperti itu. ia harus mulai mengubah sikapnya pada theya karen ini demi kebahagiaan putri nya tapi ia tak bisa bersikap baik pada bocah ingusan itu. tapi sudahlah yang penting putri bahagia maka apapun akan ia lakukan.