
setelah perdebatan yang terjadi antar bian dan fino di kantin, sekarang bian dan theya sedang berada di taman belakang sekolah dan sedang duduk di kursi panjang dengan jarak di antara mereka. bian saat ini sedang di marah habis-habisan oleh theya karena tidak bisa menahan emosinya dan berakhir memberi fino pukulan keras yang menyebabkan fino mengalami luka memar pada pipinya dan sudut bibir fino yang sedikit robek. theya benar-benar tak habis pikir dengan kekasihnya ini untung saja saat kejadian itu berlangsung tidak ada guru yang melihat ,jika ada guru yang melihat sudah di pastika bian akan berakhir di ruang BK dan mungkin akan mendapat kan hukuman
" aku minta maaf. habisnya di bikin aku kesel sayanggg" rengek bian mencoba membela diri
" ngeles trus kamu ya... aku tu gak suka kamu kayak gitu ,aku takut kamu masuk BK, aku takut nama kamu jelek. bisa gak sih kamu ngerti! " ucap theya sedikit naikkan nada bicaranya. bian terkejut dengan bentakan theya dan seketika iya menunduk
theya tahu apa yang akan terjadi selanjutnya sudah bisa di pastikan bahwa bian menangis karena dapat theya lihat bahu bian yang bergetar dan terdengar suara sesenggukan. theya yang merasa bersalah karena memarahi bian, theya mencoba duduk lebih dekat dan menarik bian ke dalam pelukanya sambil mengusap punggung tegap laki-laki tersebut
" udah ya jangan nangis lagi " ucap theya memberi bian kalimat penenang
" a..aku kan gak salah hiks...harusnya kamu marahin dia hiks.. hiks" ucap bian dengan nada sesenggukan
" tapi kamu marahin aku hiks....aku gak suka kamu marah theya, aku takut kamu benci aku" ucap bian sambil manatap wajah sang kekasih dengan air mata yang masih berlinang dan hidung yang merah karena menangis. jujur theya gemas dengan kekasihnya ini ingin rasanya iya masukan ke karung dan di lempar ke sungai saking gemasnya (autor: jangan gitu dong kasian biannya. gimana klok lempar ke jurang?)
bian semakin dilanda ketakutan karena theya diam saja dan tak meresponnya
" kamu kenapa diem aja?... kamu beneran benci aku? " ucap bian yang sebentar lagi akan mengeluarkan tangisannya
" ehhh enggak kok enggak. udah ya jangan nangis lagi aku gak bakal benci kamu kalok kamu gak ngulang hal yang sama" ucap theya panik karena tangis bian yang akan meledak sebentar lagi. bian memberikan anggukannya dan kembali memeluk theya erat dengan kepala yang berada di dada gadis tersebut. iya nyaman jika dipeluk oleh theya jika bisa iya ingin theya memeluk nya setiap hari karena bian tak pernah merasakan pelukan dari siapapun karena dari kecil orang tuanya tak pernah memberinya pelukan jangankan pelukan orang tuanya bahkan tak pernah ada waktu untuknya karena mereka berdua sibuk kerja yang menyebabkan mereka jarang di rumah. bian sedari kecil hanya diurus oleh pembantunya yang bernama bik asih dari kecil bian selalu di urus oleh bik asih. bian juga sudah menganggap bik asih seperti ibunya. begitulah kisah singkat hidup bian jujur bian beruntung bertemu dengan theya sekarang karena baginya theya adalah rumah tempatnya pulang sekarang, hidup yang awalnya hitam putih jadi berwarna semenjak theya hadir. bian tak akan melepaskan theya untuk siapapun karena theya itu miliknya dan selamanya akan begitu ,bian juga tak segan-segan menghabisi orang yang menghalanginya dan theya.