
obsesi gema pada theya sudah mendarah daging, obsesinya trus bertambah setiap hari gema trus mengawasi gerak geriknya dari jauh hingga ia tak leluasa untuk bergerak, sama seperti sekarang gema dan theya sedang berada di halaman rumah diikuti dengan dion dan biru
"bisa stop ngikutin kita?" gema sudah jengah dengan tingkah mereka berdua
"kita berhak ngikutin kalian" timbal biru tak mau kalah
"gua juga butuh waktu berdua sama theya" ucap gema sambil menimpali keduanya
"kita gak perduli" kali ini diin yang menjawab
"STOP!!.... sampai kapan kalian mau berantem trus?" theya sudah lelah dengan perdebatan ketiga kakaknya, ketiganya yang mendengar teriakan theya seketika ciut, mereka bertiga tak ada yang berani berkutik
"theya capek tiap hari ngeliat kalian berantem terus, theya mau kalian akur" setelah menyelesaikan ucapannya theya meninggalkan ketiga kakaknya.
"gara-gara kamu, theya jadi marah sama kita berdua" ucap biru menatap gema dengan pandangan tak suka
"semenjak kamu dateng hubungan kita berdua dan theya gak pernah akur" ucap dion dengan nada tak suka, gema diam saja tampa menggubris ucapan keduanya sampai dion dan biru meninggalkan nya sendirian.
"gimana caranya buat nyingkirin mereka berdua biar gak gangguin waktu gue sama theya terus" gema mencoba berfikir agar bisa menyingkirkan biru dan dion
"theya itu cuma milik gue, dah gue gak mau berbagi" gema duduk sambil bersandar di sebuah pohon besar yang terletak di halaman rumah tersebut sampai tiba-tiba theya datang dengan seorang bocah laki-laki sambil bergandengan tangan, hal itu sontak membuat gema panas
"kak gema... kenali ini gabriel temen theya" theya dengan antusias mengenalkan gabriel dengan gema, gabriel mengulurkan tangannya ingin berkenalan dengan gema tapi gema sama sekali tak menggubris nya
"kak gema, itu gabriel nya mau kenalan sama kakak" mendengar ucapan theya dengan berat hati gema menerima uluran tangan dari gabriel
"kenalin saya gabriel temen nya theya" gabriel melepas uluran tangan tersebut setelah berkenalan dengan gema
"kalian ngobrol dulu berdua ya, aku mau ngambil minum bentar" theya meninggalkan kedua laki-laki yang umurnya tak jauh berbeda itu, tapi sepertinya theya salah karena meninggalkan mereka berdua
"saya tau anda suka theya" gabriel memecah keheningan yang sempat tercipta
"iya gue suka dia" gema menjawab tampa beban
"saya juga suka dia, saya harap kita bisa bersaing dengan sehat" gema menoleh kearah gabriel
"kalok bisa saling membunuh kenapa harus secara sehat?" ucap gema dan mendapat kekehan dari gabriel
"hahaha... ternyata anda sama seperti saya, tapi bedanya anda bermain secara terang terangan" gema hanya diam mendengar ucapan gabriel
"gue lebih suka main secara terang terangan dari pada main rapi tapi masih keliatan" sindir gema pada gabriel
"saya akan terus mempertahankan milik saya" ucap gabriel sambil menepuk bahu gema
"gue juga kayak gitu... apa yang dari awal milik gue maka selamanya akan jadi milik gue" ucap gema tak mau kalah
"sebelum anda datang, theya sudah lebih dulu mengenal saya dan saya juga tahu dia menyukai saya" ucap gabriel dengan nada sombong, tapi memang benar yang gabriel katakan theya memang menyukainya
"gue gak perduli, mau dia suka sama siapa pun. dia tetep milik gema"