
hari ini sama seperti hari sebelumnya dimana bian selalu mendatangi rumah theya, menemani gadis itu agar ia tak merasa sendirian. sedangkan theya, ia selalu mengurung diri dikamar menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian gabriel.
"ayo makan dulu" gabriel datang dengan nampan berisi beberapa makanan untuk theya
"kapan kamu dateng?" theya yang awalnya fokus pada jendela luar jadi menoleh
"baru aja tadi, aku beliin kamu bubur buat sarapan" theya mendudukan diri di tepi ranjangnya sambil menerima semangkok bubur dari bian
"kamu udah? " pertanyaan theya mendapat anggukan dari bian.
singkat cerita theya selesai dengan sarapannya dan bian yang akan membereskan semuanya.
"bian, kenapa kamu begitu mencintaiku?" bian yang awalnya fokus pada layar hpnya jadi menatap theya dengan pandangan bertanya
"kenapa kamu bertanya sesuatu yang enggak akan pernah bisa aku jawab?" bian tak bisa menjawab pertanyaan theya karena bagi bian mencintai seseorang itu tidak perlu alasan
"maksudmu?" theya tak mengerti dengan ucapan bian
"kamu tau apa itu cinta?" tanya bian kearah theya
"kamu bisa jelasin buat aku? " theya tak bisa mendeskripsikan apa itu cinta jadi ia bertanya balik kearah bian
"tak ada orang yang bisa mendeskripsikan cinta dengan baik, namun satu hal yang pasti, cinta tak pernah mempunyai alasan untuk pemiliknya. cinta se misterius itu" theya membenarkan ucapan bian karena memang pada dasarnya tak ada orang yang bisa mendeskripsikan cinta
"kapan kamu bisa nerima aku? " bian selalu mengucapkan kalimat yang sama jika bertemu theya, bian selalu berharap jawaban yang ia dapat akan berbeda dengan jawaban yang biasa theya berikan
"aku pergi dulu ya, mau ngurus beberapa kerjaan" bian mendekat kearah theya dan mencium pucuk kepala gadisnya, theya sama sekali tak menolak karena ia sudah terbiasa dengan perlakuan bian.
bian turun ke lantai bawah menuju halaman rumah theya. sesampainya dihalaman bian berjalan kearah mobilnya dan membawa mobil itu dengan kecepatan tinggi.
saat ini bian sampai di sebuah toko bunga langganan nya, ia berencana akan pergi menemui wanita yang ia sayang. saat memasuki toko bunga tersebut sang pemilik toko tersenyum ramah kearah bian
"beli mawar biru lagi mas?" bian memberikan anggukan pada sang penjual, penjual tersebut sudah hapal dengan pesanan bian karena setiap ke toko tersebut bian pasti membeli buket mawar biru. saat pesanan sudah jadi bian membayar buket itu dan berjalan meninggalkan toko tersebut.
singkat cerita bian sampai di sebuah pemakaman yang tak jauh dari rumahnya, ia berjalan keluar dari mobil lalu mendekati salah satu nisan disana. di nisan tersebut tertulis sebuah nama "anastasya putri".bian mendekati makam itu dan berjongkok disana, makan yang terlihat rapi dengan bunga krisan yang tumbuh disamping makam tersebut
" maaf maa... bian baru bisa dateng lagi, bian bawain buket favorit mama" bian meletakan buket mawar biru itu diatas makam tersebut
"bian udah nemuin cewek yang bian suka ma, dia juga suka mawar biru kayak mama" bian tersenyum sambil mengelus nisan yang bertuliskan nama ibunya
"kapan-kapan bian bawa dia kesini ya. dia mirip kayak mama, dia wanita yang berhasil buat bian jatuh hati" bian terkekeh diakhir kalimat saat membayangkan wajah theya
"apa jatuh cinta sesakit ini?, tapi gak papa asal dia tetep sama bian, bian gak masalah klok harus sakit hati" bian akan mempertahankan theya bagaimanapun caranya, ia tak mau kehilangan theya sama seperti ia kehilangan ibunya
"bian minta doa mama ya, supaya bian sama dia bisa terus sama-sama" bian tersenyum kearah nisan tersebut
"bian bakal jaga dia maa. bian janji" bian menghentikan usapan nya pada nisan tersebut
"bian pulang ya maa, bian usahakan bakal ke sini sering-sering. bian janji secepatnya bakal bawa dia ketemu mama" bian berdiri dan pergi meninggalkan makam tersebut.