
saat ini gabriel sedang berada didepan pintu rumah theya, ia sudah memikirkan dengan matang tentang ke putusannya.
gabriel mengetuk pintu rumah itu, Tiba-tiba tak lama dari dalam keluar sosok bunda theya, amira yang kaget dengan kedatangan gabriel langsung memeluk tubuh gabriel
"kamu kemana aja, mama kangen riel" amira menangis tersedu sedu di dalam dekapan gabriel
"maafin gabriel ya maa udah pergi tiba-tiba" gabriel mengelus punggung amira. amira menguraikan pelukan mereka lalu menyuruh gabriel masuk.
saat gabriel sudah berada didalam rumah ia melihat sosok theya sedang duduk diruang tamu sambil menonton.
"maa... riel minta waktu buat ngomong sama theya ya" amira yang yang mengerti langsung meninggalkan gabriel dan theya, memberi mereka ruang untuk berbicara berdua.
"theya... riel minta maaf soal kejadian tadi pagi, sekarang riel sadar harusnya dikehidupan theya itu gak ada riel..." theya yang awalnya tak mau menanggapi gabriel seketika menatap gabriel menunggu ucapan selanjutnya yang akan gabriel lontarkan
"riel udah mutusin bakal pergi dari sini, maaf karena gak bisa berhenti suka sama theya. riel bakal pergi buat ngurus perusahaan riel dan riel janji gak bakal balik lagi kecuali kalok theya yang minta riel balik" pandangan theya seketinga buram karena air matanya yang ingin keluar, mendengar penuturan gabriel membuat ia sedih
"apa sesakit itu luka yang aku kasi, sampai kamu lebih milih pergi?. apa aku sejahat itu? " gabriel yang tak bisa melihat theya menangis seketika berjalan mendekat ke arah theya lalu menariknya kedalam dekapannya
"theya gak jahat, theya baik. ini gak sakit theya" gabriel mengusap punggung theya mencoba menenangkan
"jangan nangis ya, riel sakit liatnya. riel lebih baik disakitin berkali kali dari pada liat cewek yang riel sayang nangis" ucapan yang gabriel lontarkan membuat theya semakin tenggelam dalam rasa bersalahnya.
"aku pasti udah jahat banget ke kamu. sampai kamu milih buat pergi lagi" theya terus menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian gabriel
"heyy, sini liat aku. kamu gak jahat oke, kamu baik theya disini aku yang egois karena maksa buat trus sama kamu padahal nyatanya kita gak bisa" gabriel memegang wajah theya dengan kedua tangannya. hati gabriel hancur melihat wajah theya yang penuh dengan air mata
"jangan nangis lagi oke, aku sakit liatnya" gabriel mengusap jejak air mata theya.
"aku minta maaf gabriel, Lagi-lagi aku yang buat kamu pergi dan sakit hati" gabriel menggelengkan kepalanya saat mendengar penuturan theya
"kamu gak perlu minta maaf, disini aku yang salah karena terlalu memaksa. aku sadar mencintai orang yang beda keyakinan sama kita itu berat, karena ujungnya kamu harus memilih antara memaksakan perasaan mu lalu kamu menghianati tuhanmu atau kamu meminta orang yang kamu cinta menghianati tuhan-nya" mata coklat milik gabriel yang selalu menatapnya dengan tatapan yang sama setiap mereka bertemu, tatapan mata yang akan selalu tertuju pada theya
"sama aku banyak sakitnya ya? " pertanyaan yang dilintarkan theya membuat gabriel tersenyum
"enggak sama sekali. sama kamu itu banyak senengnya" jawab gabriel mengelus kepala gadis kesayangannya
"kalok banyak senengnya kenapa kamu pergi?" ucap theya
"karena gak semua sesuatu yang buat kita bahagia harus kita pertahankan, kadang sesuatu yang buat kita bahagia juga harus dilepas klok waktunya udah habis" gabriel menahan rasa gemasnya karena melihat mata sembab dan hidup merah milik theya karena habis menangis
"kamu baru aja balik riel, kenapa mau pergi lagi?. kamu gak bisa terus disini? " theya tak ingin gabriel pergi lagi, bohong rasanya jika theya bilang ia tak menginginkan gabriel tapi ia sadar sekarang ia sudah memiliki bian dan ia tak boleh egois dengan mempertahakan masalalunya (autor: nyatanya orang dari masalalu itu tetap jadi pemenangnya).
"kalok aku trus disini aku jamin kamu dan bian gak bakal bertahan lama. aku tahu kamu sama kayak aku theya" seolah paham dengan apa yang gabriel ucapkan theya menjadi lesu
"biarkan rasa itu tetap ada tapi jangan membuat orang barumu menjadi terluka kerena kamu belum selesai dengan masalalumu" theya mengangguk sebagai jawaban
"aku harap kamu bahagia walaupun bukan aku lagi yang jadi alasan kamu bahagia, kita selesai tapi tenang aja kamu masih tetep jadi tokoh favorit dalam cerita ku" gabriel beranjak dari duduknya lalu memberikan senyum manisnya pada theya
"sampai ketemu lagi gadis kesayangannya gabriel. posisimu gak bakal tergantikan oleh gadis manapun itu janjiku" gabriel meninggalkan ruangan itu menuju pintu keluar. kali ini theya benar-benar kehilangan sosok gabriel
"kamu juga bakal tetep jadi tokoh favorit dalam ceritaku".
...****************...
jangan lupa like ya!!
aku selalu nungguin komentar kalian. makasi buat yang selalu sabar nunggu bab baru update, makasi juga buat yang udah komen ❤❤
semoga kalian gak bosen ya sama ceritanya. AKU SAYANG KALIAN❤