BETWEEN LOVE OR OBSESSION

BETWEEN LOVE OR OBSESSION
Bab 13 ( bucin )



pagi harinya seperti biasa bian pergi ke sekolah bersama kekasihnya. saat sampai disekolah bian membuka pintu mobil lalu berlari membuka pintu satunya untuk sang kekasih. semakin lama hubungan bian dan theya semakin langgeng. dimana ada bian maka disitu ada theya. satu sekolah sudah mengetahui tentang hubungan keduanya banyak tanggapan mereka yang mendukung karena menurut mereka bian dan theya itu serasi


jujur hubungan keduanya membuat orang lain iri karena setiap hari ada saja tingkah bucin yang bian keluarkan bila didekat theya. bian akan berubah menjadi laki-laki baik dan penurut bila didekat theya


bian jika sudah dihadapkan dengan pawangnya pasti langsung cosplay jadi bayi. untungnya theya sabar dan bisa menerima sifat kekanak kanakan bian yang diluar nalar


kenapa di luar nalar?, ya karena seperti sekarang bian sedang merengek pada theya di koridor sekolah karena sang kekasih mendiaminya bian fikir theya sedang marah padanya tapi sebenarnya tidak, theya tadi sedang fokus dengan hp nya karena sedang membaca novel online. pandangan itu tak luput dari siswa siswi disana. mereka gemas dengan tingkah bian yang jarang bian perlihatkan pada mereka.


theya kaget bian yang tiba-tiba merengek dan dapat di pastikan sebentar lagi ia akan menangis


" kamu kenapa diemin aku padahal aku lagi ngomong sama kamu" ucap bian yang sebentar lagi akan menangis


" aku gak diemin kamu sayang. aku lagi baca novel "ucap theya memberikan penjelasan pada sang kekasih


" aku udah bilang sama kamu klok aku gak suka di diemin " ucap bian lalu memalingkan kepalanya kearah lain. ngambek ceritanya dia (autor: baru gitu doang ngambek gue gantung di pohon toge lo entar) back to story


" aku minta maaf ya sayang. jangan ngambek dong sini peluk" ucap theya sambil merentangkan ke dua menunggu bian memeluknya tapi bian tetap kekeh dia tu mau nya dipaksa dulu emang rada-rada nih bian


" owh jadi gak mau nih yaudah sampek besok aja gak ada peluk buat kamu" ucap theya lalu pergi meninggalkan bian, tenang theya cuma bercanda biar si bayi berenti ngambek


" aaaaa mau peluk ayangggg" ucap bian berlari mengejar theya lalu ia memeluk theya dari belakang. jujur saat ini bian sedang takut karena bian tu paling takut theya marah, bian gak suka theya marah karena kalok theya marah gak bisa dapet peluk puas-puas. bian itu maniak peluk dia bisa gak melakukan apa-apa selain minta peluk ke theya karena menurut bian pelukan bian itu hangat jadi ia enggan melepaskannya


jika bian sudah di peluk theya lalu kepala nya dielus elus oleh theya bisa tidur bian. pokoknya klok dideket theya bian bakal cepet tidur


" udah ngambeknya? kenapa bentar banget? " ucap theya


"gak mau lama-lama entar aku gak bisa minta peluk sama kamu" ucap bian yang masih memeluk theya


"kita bolos yuk? di taman belakang. aku pengen di elus kepalanya ama kamu soalnya tadi malem aku gak bisa tidur" ucap bian dan mendapat anggukan oleh theya


singkat cerita mereka sampai di taman belakang lalu duduk disalah satu kursi taman dengan paha theya yang menjadi bantalan kepala bian ,lalu bian memeluk perut theya jadi muka bian menghadap perut theya


" kamu tau aku paling suka apa? " tanya bian pada theya


" aku gak tau" jawab theya


" hal yang paling aku suka itu kamu dan selamanya akan begitu. kamu itu hidup aku jadi jangan pergi ya " ucap bian


" kalok suatu saat aku gak ada kamu gimana? " tanya theya


" aku hancur kalok kamu gak ada " ucap bian sambil mengeratkan pelukanya


" gak ada yang tau bian bisa aja suatu saat tuhan cabut nyawa aku" ucap theya yang memandang ke arah depan dengan tangan yang masih setia mengelus kepala bian


" kalok gitu aku ikut sama km mati juga biar kita bareng terus " jawaban bian membuat theya tak habis pikir kenapa laki-laki ini dengan mudahnya ingin mati bersamanya


" klok aku gak ada kamu harus bisa hidup tanpa aku" ucap theya mencoba memberi penjelasan agar bayi nya bisa mengerti


" aku udah bilang dari awal theya kamu itu punya aku dan selamanya bakal kayak gitu. kamu mati aku juga mati " ucap bian menekankan setiap kalimat


theya sudah lelah berdebat dengan bayi besarnya ini. sudahlah theya menyerah terserah bian saja biar dia seneng


theya sekarang memilih diam sambil terus mengelus rambut bian, bian pun juga begitu malahan bian sudah tidur. theya yang merasa bian sudah tidur


" aku sayang sama kamu sayang banget malahan. aku takut kamu bosen sama aku, aku takut kamu bakal ninggalin aku, aku takut klok suatu saat aku liat kamu sama yang lain, aku takut kalok suatu saat ada perempuan yang bisa ngasi kamu kebahagiaan yang lebih dari aku. ketakutan aku banyak " ucap theya dengan mata berkaca kaca jujur ia tak bisa membayangkan itu semua tapi semua pikiran buruk itu terus menghantuinya. setelah mengatakan semua keluh kesahnya akhirnya theya memilih diam dan memejamkan matanya menyusul bian ke alam mimpi


tanpa theya sadari bian sebenarnya mendengar semua yang theya ucapkan tadi, jujur bian senang karena theya sangat menyayanginya, bian juga senang karena theya sama dengannya Sama-sama takut kehilangan. pelan-pelan bian mengangkat kepalanya dari pangkuan theya karena ia takut lutut sang gadis saat terbangun nanti sakit. bian menatap wajah gadis cantik yang sedang tertidur dengan posisi duduk


sungguh bian saat ini ingin menghentikan waktu agar bisa lebih lama memandang wajah cantik itu. bian tak pernah bosan memandang wajah itu, wajah yang selalu mewarnai harinya, wajah yang akan selalu ia pandang. bian enggan untuk berpaling karena baginya theya itu segalanya


ketakutan bian saat ini hanya satu ia takut orang itu kembali dan merebut theya, orang yang tak pernah bisa bian benci walaupun orang itu sudah merebut semua hal yang bian suka. bian berharap ia tak kembali dan merebut theya