BETWEEN LOVE OR OBSESSION

BETWEEN LOVE OR OBSESSION
Bab 45 (dia tetap pemenangnya)



saat ini bian sedang berada di rumah theya tapi sedari tadi ia di buat bingung karena theya lebih banyak diam dan melamun tidak seperti biasanya.


"kamu ada masalah? " tanya bian sambil menepuk bahu theya menyadarkan nya dari lamunan


"ahh... enggak kok" theya sedikit terkejut dengan tindakan bian yang tiba-tiba menepuk bahunya


"kamu tau kan aku paling gak suka dibohongin? " theya paham betul sifat bian seperti apa tapi theya tetap diam tampa menanggapi sampai tiba-tiba pertanyaan yang bian lontarkan membuat theya menoleh


"masih dia pemenangnya ya?" ucap sang laki-laki sambil tersenyum menatap wanita yang ia cintai


"maaf" satu kata lolos dari mulut sang gadis


"sudah selelah ini aku berjuang, ternyata masih dia pemenangnya padahal kamu tau betul gimana perjuangan aku buat bisa deket sama kamu. kalok kamu tau sifat asli aku mungkin kamu gak mau deket sama aku lagi" ucap sang laki-laki


"mau sejelek apapun sifatmu aku bakal tetep respon kamu, tapi bener kata orang mau se berusaha apapun kita mengikhlaskan seseorang, jika itu berawal dari keterpaksaan maka hasilnya akan sia-sia. Ikhlas itu benar-benar bohong yang"ucap theya, sambil fokus kearah depan tampa menoleh ke arah bian


"theya, sudah tidak ada kesempatan bagiku?"


"silahkan, jika kamu juga ingin pergi sama seperti dia" theya sudah tidak perduli jika akhirnya ia harus kehilangan bian juga.


"kenapa kamu menyuruhku pergi?" tanya bian sambil menatap wajah theya dari samping


"yang menginginkan mu banyak, yang menyukaimu banyak, yang ingin mendapatkan semangat darimu juga banyak" ucap theya lirih


"aku tidak perduli. " bian sama sekali tak memperdulikan mereka yang menyukainya


"kenapa kamu memilih untuk tetap pada hati yang sama?, yang telah melukaimu dengan banyak sayatan? " theya menatap wajah bian dengan pandangan bertanya


"jika itu tentangmu mau luka sehebat apapun aku akan tetap disini, aku tidak perduli dengan orang lain karena orang itu bukan kamu" theya dibuat terharu dengan kata-kata bian. bagaimana bisa ada laki-laki yang masih mau bertahan dengan wanitanya padahal wanita itu masih menyimpan rasa pada masa lalunya, semua wanita pasti ingin memiliki sosok laki-laki sepertinya karena sosoknya sabar walaupu ia tahu dihati orang yang ia cintai tak ada namanya.


"tentu"


"kamu sangat mencintainya bukan? " theya mengernyit bingung mendengar pertanyaan theya


"lalu?"


"mengapa kamu menolak nya untuk datang lagi ke hidupmu, apa dia jahat? " ucap bian dan mendapat senyum tipis dari theya


"dia baik, dia tak pernah membohongiku tentang wanita, itu setauku. Dia bahkan tak pernah menyepelakan semua hal kecil tentangku dan aku mencintainya, tapi sayangnya keyakinan kita berbeda itu yang membuatku mau tak mau harus melepaskannya" bian tersenyum mendengar jawaban theya, sebaik itu ternyata gambaran sosoknya pada ingatan theya.


"bian. mereka bilang jangan membaca buku yang sama untuk kesekian kalinya" bian menatap gadis disampingnya dengan pandangan bertanya


"mengapa?" tanya bian kearah theya


"karena endingnya akan tetap sama" theya tersenyum diakhir kalimat


"kamu pernah mencobanya?, bagaimana hasilnya? " tanya bian


"yaa, aku gagal dengan kesalahan yang sama, bahkan lebih buruk dari yang pertama" theya melirih diakhir kalimat


"lalu? sekarang apa kamu percaya dengan apa yang orang lain katakan? " bian menatap theya


"tidak, tidak sepenuhnya" ucap theya


"ku harap kau tidak berpura-pura bodoh. Berhentilah jika bukunya telah selesai kamu baca, karena mengulang beberapa kalipun hasilnya akan tetap sama" ucap bian


"tapi dengan berkali-kali membacanya aku bisa lebih memahami isi buku itu"