
theya dan bian masih berada di makam tersebut dengan theya yang sedari tadi hanya diam
"maa... bian udah nepatin janji buat bawa theya ketemu mama" bian mengelus batu nisan tersebut sambil menatap theya sekilas
"kamu masih marah sama aku? " ucap bian karena sedari tadi theya hanya diam
"aku gak marah sama kamu, tapi aku marah sama diri aku sendiri" jawab theya
"Hai mama tasya... ini theya maaf ya maa karena theya belum bisa jadi wanita sempurna yang buat anak mama bahagia, tapi theya janji bakal belajar mulai sekarang" theya mendekatkan diri ke arah nisan tersebut lalu mengusapnya
"theya minta maaf klok selama sama theya anak mama selalu sakit hati, theya belum bisa bahagian in anak mama" ucapan theya benar-benar di luar ekspektasi bian, bian mengira theya tak akan mengucapkan kalimat seperti itu.
"kamu gak salah apa-apa jadi jangan minta maaf" bian tak pernah suka jika theya sering mengucapkan kata maaf
"ini gak adil, aku juga salah disini karena gak bisa mahamin tentang kamu" ucap theya sambil menundukkan kepalanya karena merasa bersalah
"jangan terlalu sering nunduk, nanti mahkotanya jatuh" bian merentangkan tangannya meraih dagu theya agar ia tak menunduk
"aku salah karena terlalu egois di hubungan ini.sama aku, kamu selalu sakit hati" bian senang karena theya sudah mulai bisa memahaminya
"makasi ya... " theya bingung karena bian mengucapkan kata makasi, bian melihat kebingungan theya akhirnya melanjutkan kalimatnya
"makasi karena kamu mulai mencoba mahamin tentang aku" ucapan bian berhasil membuat theya beruntung karena mendapatkan sosok laki-laki yang bangga memiliki sosoknya padahal theya sudah berulang kali menyakiti bian tapi bian sama sekali tak pernah mengucapkan kata putus, justru ia yang sering mengucapkan kata perpisahan hanya karena masalah kecil.
"kamu baik, baik banget malah. aku beruntung ketemu kamu sedangkan kamu gak beruntung ketemu cewek kayak aku" theya benar-benar merasa bersalah pada bian
"makasi bian" ucap theya sambil tersenyum tulus ke arah bian
"Sama-sama" balas bian
"maa... kita pulang dulu ya, kapan-kapan kita ke sini lagi" bian dan theya meninggalkan area makan dan berjalan menuju mobil mereka.
"gimana klok kita makan dulu?,kamu lagi pengen makan apa? " tanya bian
"boleh, aku lagi pengen makan mie ayam" bian menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
singkat cerita mereka berdua sampai di sebuah warung makan mie ayam. mereka duduk disana dan mulai memesan, saat menunggu pesanan mereka sampai tiba-tiba HP theya berdering, theya mengangkat telfon tersebut dan tak lama telfon itu berakhir
"siapa tadi yang nelfon? " tanya bian penasaran
"dari kak gema, katanya dia mau pulang besok" jawab theya dengan nada antusias
"bukannya dia bakal pulang dua hari lagi? " sepertinya penghalang bian sebentar lagi pulang
"dipercepat karena kerjaan dia disana udah selesai" mendengar jawaban theya bian harus mulai menyusun rencana dari sekarang, karena orang yang bian hadapi kali ini bermain dengan halus jika bian salah sedikit saja dalam melangkah maka hubungan nya dengan theya akan berakhir
"dia adalah pemain peran, jadi aku juga harus mengikuti" ucap bian dalam hati