
pulang dari acara pertunangan bian dan theya, gabriel langsung menuju balkon rumahnya.
"gue gak ikhlas dia sama yang lain. gue gak bisa liat dia bahagia sama orang lain" gabriel menatap arah langit (autor:gabriel aja gak bisa ikhlas, apalagi saya yang ngeliat dia sama yang lain, itu sakit🥲)
"emangnya mencintai seseorang itu harus sesakit ini ya?, gue cuma dapet jatuhnya aja bukan cintanya" ucap gabriel dengan kekehan
"gue egois banget ya, gue yang buat lo pergi tapi gue juga yang mau lo balik lagi" (autor: gabriel jadi sad boy💔)
bagaimanapun ceritanya ending akhirnya pasti ikhlas:)
"aku mau kamu versi agamaku" ucap gabriel lirih.
cinta beda agama itu gak enak, kamu suka dia maka kamu harus siap tanggung resikonya antara kamu yang meninggalkan tuhanmu atau dia yang meninggalkan tuhannya tapi apa kamu tega klok dia ninggalin agama yang sedari kecil udah dia pegang?, apa kamu gak mikirin perasaan orang tuanya?. kamu boleh mencintainya asal jangan ambil dia dari tuhannya
"sama kamu mungkin sakit tapi ternyata gak sama kamu lebih sakit" sehancur itu gabriel karena theya
"ada dinding teramat tinggi yang memisahkan kita yaitu takdir yang diberikan tuhanmu dan tuhanku. memang takdir nya membuat kita bertemu dan jatuh hati, tapi tidak untuk bersama dan memiliki. jujur, bukan gayaku memohon untuk dipersatukan seperti ini tapi kali ini saja. tolong, aku mohon jika bisa berikan dia kepadaku. lepaskan dia demi bisa bersamaku. aku tak akan menyakitinya, sungguh. aku minta minta maaf padamu karena memintamu dari tuhanmu"
"antara lonceng yang berdentang dan adzan yang berkumandang, antara kiblat yang menentukan arahku pulang dan salib yang membuatmu tenang. restu tersulit adalah restu agama, antara lima waktu dan gereja hari minggu"
"harusnya kita bisa bersama kan dibantu dua tuhan" (autor:andai semudah itu 🙂)
jika bisa mengulang waktu maka aku lebih memilih tak bertemu kamu, harus saat itu kamu tak mencintaiku. jika boleh jujur aku senang saat mendengarmu mengucapkan kalimat suka pada ku saat itu tapi yang membuat ku menolak mu adalah karena aku takut jika suatu saat kita sama-sama egois karena memilih mempertahankan agama masing-masing, saat tak ada yang mau mengalah maka ujungnya kita akan pisah juga. sosok gabriel yang kuat sekarang sedang hancur karena wanita yang ia cintai telah menemukan pasangan hidupnya.
" aku berharap bertemu denganmu dimimpi" gabriel merebahkan tubuhnya diatas kasur dan memejamkan matanya memasuki alam mimpi
...****************...
pagi harinya gabriel bangun karena mendengar suara ketok an pintu dari pelayan pribadinya. gabriel beranjak dari kasurnya dan berjalan ke arah pintu kamarnya
"maaf mengganggu tuan, dibawah nona theya sudah menunggu" ucap pelayan itu. tampa membuang waktu gabriel bergegas menuju ke ruang tamu yang terletak dilantai bawah. saat sudah sampai disana gabriel melihat theya yang datang tampa bian dengan senang hati gabriel mendatangi theya
"baru aja kok" theya menaruh gelas teh yang tadi di minumnya
"kamu ke sini sendiri? " ucap gabriel sambil menahan rasa senangnya
"iya, bian lagi ngurus sesuatu di kantornya makanya aku sendiri" jawab theya sambil tersenyum manis kearah gabriel
"kamu ke sini ada apa? " tanya gabriel pada theya
"aku mau bahas tentang kita.... " theya menjeda ucapannya
"aku tau kamu masih nyimpen rasa itu, aku minta kamu hilangin rasa itu secepatnya karena kita gak mungkin" mendengar ucapan theya gabriel seketika menegang
"aku gak bisa hilangin rasa suka aku ke kamu" jawab gabriel dengan tegas
"jangan egois riel, kamu bakal makin terluka klok rasa itu masih ada" theya sedikit menaikan nada bicaranya
"aku gak perduli sama rasa sakitnya, aku udah terbiasa ngerasain hal kayak gitu" gabriel sama sekali tak memalingkan pandangan dari theya
"aku mohon riel... lupain aku" theya menampilkan raut wajah sedihnya agar gabriel luluh dan mengiyakan permohonannya
"maaf aku gak bisa, aku gak akan ganggu hubungan kalian kamu tenang aja... tapi aku mohon jangan suruh aku buat berhenti suka ke kamu" wajah gabriel berubah sendu
"aku cuma gak mau kamu makin tenggelam dalam rasa sakit. aku pulang, permisi" theya meninggalkan gabriel setelah mengatakan kalimat tersebut.
gabriel trus menatap punggu theya sampai punggung itu menghilang dari pandangannya.
"mau sesakit apapun itu asal kan itu tentang kamu, aku gak masalah. aku siap nanggung rasa sakitnya"