BETWEEN LOVE OR OBSESSION

BETWEEN LOVE OR OBSESSION
Bab 46 (Mencoba menerima?)



setiap bian dan theya bertemu pasti obrolan mereka tak jauh dari perdebatan, bian yang harus ekstra sabar menghadapi tingkah theya yang dengan mudahan mengucapkan kata selesai dalam hubungan mereka. seperti sekarang bian dan theya sedang duduk di sebuah bangku taman


"kita selesai aja ya, aku gak bisa lanjut" theya menatap wajah bian dengan serius, ia berharap bian akan meng iyakan ajakan nya kali ini


"udah berapa kali aku bilang, klok aku gak mau kita selesai" bian tetap kekeh dengan pendiriannya


"mau sampai kapan kamu nyakitin diri kamu sendiri?" theya tak mengerti dengan bian, mengapa bisa bian bertahan dengan wanita yang tidak mencintainya


"aku gak perduli, bagi aku sama kamu terus itu lebih penting ketimbang sakit rasa sakit ini karena gak sama kamu itu lebih sakit" bian hanya ingin theya mengerti bahwa theya adalah wanita Satu-satunya yang ada dihati bian tapi sayangnya theya tak mengerti


"ayo coba buka hati lagi" ucap bian


"aku masih mencoba" bian paham betul arti dari ucapan theya, sebenernya theya tak benar-benar ingin mencobanya karena theya trus tenggelam dalam masalalunya


"theya, tau tidak jatuh cinta yang tidak menyenangkan? " tanya bian kearah theya


"mungkin jatuh cinta sendirian" jawab theya


"ada yang lebih tidak menyenangkan dari pada itu" theya bingung, menurutnya mencintai sendirian itu sakit


"memangnya jatuh cinta seperti apa?" theya ingin tahu jawabannya


"saat dimana semesta ingin kau melepaskan dia, bahkan sebelum kau sempat memilikinya" theya membenarkan ucapan bian, memang itu menyakitkan. disaat kita harus melepaskan seseorang yang belum sempat kita miliki itu sakit


"kamu tahu jawabannya bian, aku mencintai pria lain" ucapan yang theya lontarkan sudah bian duga sejak awal


"kau memberi harapan yang tak semestinya, dan aku tenggelam terlalu jauh" bian tersenyum pedih diakhir kalimat


"tidak bian, bukan aku yang memberimu harapan, namun kau yang terlalu berharap, jangan menyalahkan orang lain bian" ucapan theya ada benarnya, karena bian disini bian lah yang salah karena mengambil resiko mencintai seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya


"iya kamu benar, bukan kamu yang salahsalah karena menaruh harapan pada seseorang yang belum berdamai dengan masa lalunya" theya sama sekali tak menyangkal ucapan bian kerena memang itu kenyataannya. bian sebenar nya tak masalah jika ia harus jatuh cinta sendiri asal dia bisa tetap bersama gadis yang ia cintai maka rasa sakit tak masalah.


"aku sedikit penasaran ketika kau mengatakan kau mencintaiku" ucap theya pada bian


"apa yang buat kamu penasaran? " bian sedikit bingung dengan ucapan theya


"alasan kau mencintaiku, karena aku tak pernah berhasil menebaknya" akhirnya bian paham ucapan yang theya maksud


"aku gak perlu alasan untuk mencintai, jika kau menemukan alasan. maka itu bukan cinta" ucap bian sambil menggenggam tangan theya, theya tak menolak saat bian menggenggam tangannya.


"nanti klok kamu udah berhasil ngelupain dia, kasi tau aku ya" bian selalu menanti momen itu


"iya nanti aku kasi tau" ucap theya sambil tersenyum


"aku bakal nunggu saat itu tiba, bahkan jika harus nunggu lama aku gak masalah" ucapan bian sontak membuat theya terdiam. ia merasa sudah sangat menyakiti hati laki-laki tulus, harusnya bian tak mengenalnya agar ia tak sakit hati.