
saat ini theya dan bian sudah duduk disalah satu kursi taman. theya asik dengan permen kapas yang dibelikan bian tadi, sedangkan bian sibuk memfoto wajah cantik theya yang sedang sibuk makan permen kapas. theya yang sadar tengah difoto oleh bian seketika menoleh
" kenapa kamu foto aku? " tanya theya pada sang kekasih
" momen ini gak bisa diulang lagi sayang. jadi aku foto aja" jawab bian sambil melihat hasil fotonya tadi
" tapi kan aku jelek klok kamu foto diem-diem kayak gitu" ucap theya dengan raut wajah cemberut
" cantik kok sayang " ucap bian sambil memperlihatkan hasil foto nya tadi. seketika theya diam ia teringat tentang orang itu. orang yang suka memfotonya diam-diam juga
" kamu sama kayak dia" ucapan itu keluar dari bibir theya tiba-tiba. bian menoleh dan memberikan senyum pada sang kekasih, bian tau theya belum sepenuhnya melupakan masalalunya
" antara aku atau dia siapa yang akan kamu pilih?" bian rasa menanyakan hal ini akan membuat theya mengingat tentang dia, tapi bian juga penasaran dengan jawaban yang akan diberikan kekasihnya ini
" aku akan tetep milih kamu. biarin dia tetep jadi orang istimewa dihalaman sebelumnnya tapi kamu bakal jadi orang istimewa dihalaman ini dan seterusnya" jawabannya diberikan theya membuat bian senang tapi ia juga sedih harusnya ia bertemu theya dari awal agar theya tak bertemu laki-laki itu. bian cemburu karena laki-laki itu masih jadi orang spesial dihati theya walaupun itu hanya terletak dihalaman sebelumnya. tapi tetap saja ia tidak rela
" klok kamu gimana?, pemenangnya aku atau masalalu kamu? " tanya theya pada bian
" aku gak pernah pacaran sebelumnya. kamu yang pertama dan bakal jadi yang terakhir buat aku" jawaban yang diberikan bian membuat theya terkejut. bagaimana bisa laki-laki tampan seperti bian tak pernah berpacaran sebelumnya
" kamu beneran gak pernah pacaran? " tanya theya memastikan
" iya. aku gak pernah pacaran sebelumnya, kamu yang pertama. semua yang aku lakuin kekamu itu semua pertama kalinya" jawab bian sambil menatap wajah theya
" aku gak bisa bayangin sehancur apa kamu klok aku pergi" ucap theya sambil berfikir
" aku bakal hancur banget pastinya" ucap bian sambil memandang lekat wajah sang kekasih
" udah ahhh. aku mau beli minum dulu ditoko sana" ucap theya sambil menunjuk toko yang terletak disebrang jalan tersebut
" kamu diem aja disini. biar aku yang beli kesana" bian ingin beranjak dari duduknya tapi ditahan oleh theya
" gak usah. kamu disini aja beliin aku permen lolipop, okeh" bian tak bisa membantah ucapan sang kekasih. bian menganggukkan kepalanya sebagai jawaban
theya menyebrang jalan menuju toko tersebut lalu saat sampai ia segera membeli minuman yang ia inginkan lalu membelikan bian juga satu botol minuman rasa leci karena seingat theya kekasihnya itu sangat menyukai minuman leci. theya bergegas menuju kasir karena tak mau membuat Bian menunggu lama, ia membayar minumannya lalu keluar dari toko itu
saat hendak menyebrang theya melihat bian duduk dikursi taman yang tadi mereka tempati sepertinya bian tidak melihatnya karena bian sedang sibuk dengan ponselnya, theya berniat untuk mengagetkan bian. tampa sadar theya melangkahkan kakinya tampa melihat bahwa ada mobil yang sedang melaju kencang ke arahnya sepertinya mobil itu tidak bisa menge rem karena pengemudinya berusaha meneriaki theya dan menyuruhnya untuk minggir, theya yang sadar dengan teriakan itu tapi sayangnya mobil itu terlalu kencang dan berakhir menabrak theya. tabrakan itu cukup keras dan menyebabkan tubuh theya terpental sedikit jauh
banyak warga yang sudah berkumpul didekat theya yang sudah bersimbah darah
bian menyadari kecelakaan didepannya tapi ia masih belum tahu siapa yang kecelakaan
bian beranjak dari duduknya ia hendak menyusul sang kekasih karena sedari tadi ia menunggu tapi theya belum datang juga. sampai bian ingin menyebrang ia mendengar bisikan orang-orang
" mbaknya tadi mau nyebrang tapi ditabrak sama mobil itu" ucap salah satu warga
bian merasa tak enak dengan perasaannya lantas melihat siapa korban kecelakaan tersebut. saat memecah kerumunan alangkah kagetnya bian melihat bahwa theya lah yang menjadi korban dalam kecelkaan tersebut. bian mendekati tubuh sang kekasih dengan tangan gemetar, ia panggu kepala theya yang bersimbah darah
ia merasa seakan dunianya berhenti berputar. sampai salah satu warga berteriak bahwa ambulan sudah datang
bian bergegas menggendong tubuh sang kekasih menuju ambulan dan menaruh tubuh theya di atas ranjang ambulan
ia menatap wajah theya yang bersimbah darah tanpa terasa air mata nya jatuh, dunianya benar-benar hancur saat itu juga. bian terus menggenggam tangan theya
singkat cerita mobil ambulan sampai dirumah sakit dan para perawat bergegas mengambil tubuh theya lalu menaruhnya di ranjang dan mendorongnya menuju UGD untuk diberi penanganan. bian senantiasa mengikuti perawat tersebut sampai diruangan bian tak di ijikan masuk dan disuruh menunggu diluar karena itu sudah prosedur rumah sakit
bian duduk disalah satu kursi sambil menundukkan kepalanya. ia gagal menjaga theya, harusnya ia yang berada disana bukan theya
" harusnya gue yang ditabrak tadi, harusnya gue yang ada diruangan itu" ucap bian lirih. ia tak bisa membendung tangisnya sedari tadi, air matanya terus keluar ia terus membayangkan kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi
" tuhan...gue mohon jangan ambil dunia gue, gue sayang dia. dia satu-satu nya alasan gue hidup" ucap bian sambil menatap ruangan yang berada didepannya
bian mengambil hp nya untuk mengabari orang tua dari sang kekasih dan juga mengabari orang tuanya.
selesai menelfon tak lama danuar beserta anak dan istrinya sampai dirumah sakit. bian dapat melihat ibu dari kekasihnya benar-benar hancur. danuar mendekat kearah bian dan memberikan bian satu pukulan yang membuat bian tersungkur ke lantai
" Gara-gara kamu putri saya harus terbaring disana" ucap danuar sambil berteriak kearah bian. bian berdiri dari jatuhnya dan membersikan sudut bibirnya yang mengeluarkan darah akibat pukulan danuar. bian tak melawan karena ia sadar bahwa ini salahnya
" gue percayaan in adek gue sama lo. tapi apa bian lo malah gak jagain adek gue dengan bener" ucap dion pada sahabatnya
" maaf" satu kata yang keluar dari mulut bian
" udah sekarang lebih baik kita berdoa buat theya bukan malah nyalahin bian terus" ucap biru dan mendapat anggukan dari danuar dan juga dion. tak lama agas dan istrinya juga sampai
diah mama dari bian mendekat kearah ibu theya untuk menenangkan wanita itu. ia mengusap punggu amira
agas menatap putranya dengan kecewa. anak nya ini lalai menjaga amanah yang sudah ia dan danuar berikan
tak lama dokter tersebut keluar dari ruangan theya.semua yang ada diluar ruangn tersebut berdiri
" siapa keluarga pasien? " tanya sang dokter
" saya dong. saya ayahnya" ucap danuar sambil mengangkat tangan
" anak bapak mendapat benturan keras pada kepalanya yang menyebabkan anak bapak mengalami koma. untuk waktu komanya sendiri saya belum bisa pastikan berapa lama, untuk itu terus berdoa biar anak bapak cepat sadar" ucap dokter itu lalu meninggalkan danuar dan yang lain, mereka semua terdiam dengan penuturan sang dokter. bian segera berlari pergi meninggalkan yang lain
mereka semua melihat bian yang berlari
" biarin aja dia. dia butuh waktu buat nerima semuanya" ucap agas
bian memasuki mobilnya dan menjalankan mobil tersebut dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah sakit sang gadis.
singkat cerita bian sampai ketempat biasa ia menenangkan diri dan tempat itu sudah menjadi tempat favorit nya bersama theya. bian keluar dari mobil dan mendudukan diri dikursi tersebut
" ini gak adil. se enggak berhak itukah gue bahagia? " teriak bian
" dunia gue hacur sekarang. orang yang gue sayang koma" ucap bian dengan air mata yang sedari tadi tak bisa berhenti menetes. sehancur itu bian saat ini, theya adalah dunia satu-satu nya yang bian punya tapi sekarang theya koma dan bian terus menyalahkan dirinya sendiri. ia merasa bahwa theya seperti itu karena ia
" gue buat dunia gue terluka. harusnya gue yang disana bukan theya" ucap bian sambil menundukan kepanya. ia menangis sejadi jadinya tapi tak lama suara tangisan itu tak terdengar lagi, bian menganbil ponselnya dan menelfon seseorang
" gue mau orang yang udah nabrak pacar gue tadi harus udah ada di ruangan dalam keadaan hidup" ucap bian lalu mematikan telfon tersebut
" dia harus ngerasain apa yang theya rasain" ucap bian sambil menyeringai