BETWEEN LOVE OR OBSESSION

BETWEEN LOVE OR OBSESSION
Bab 36 (bukan takdir)



Hai semua aku balik lagi


maaf ya klok up nya lama, soalnya aku lagi fokus buat persiapan ulangan akhir semester.


semoga kalian sabar nunggu up nya ya🥰😍


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


sehabis pulang sekolah theya dan gabriel tak saling bicara akibat permasalah dikantin tadi. saat ini mereka berdua berada di rumah theya, gabriel sudah berulang kali membujuk theya tapi tak ada respon dari sang gadis


"mau sampek kapan kamu diemin aku? " theya sama sekali tak merespon apa-apa ia hanya diam sambil memainkan HP nya.


"ayo ngomong, aku lebih suka kamu marah dari pada kamu kayak gini" theya menaruh HP nya lalu menoleh ke arah gabriel


" sekarang waktunya kamu sholat" setalah mengatakan itu theya keluar dari kamarnya. semarah apapun theya pada gabriel ia akan tetap mengingatkan gabriel untuk melakukan sholat karena theya tak mau gabriel meninggalkan kewajibannya.


...****************...


singkat cerita gabriel sudah selesai menjalankan sholatnya, ia saat ini tengah mencari theya sambil trus menanggil nama gadis itu


"THEYA DIMANA? " tak ada sahutan dari sang pemilik nama tapi tiba-tiba pintu rumah besar itu terbuka dan menampilkan sosok wanita yang sedari tadi gabriel cari


"kamu kemana aja" ucap gabriel sambi mendekap tubuh theya


"aku keluar bentar buat nyiram tanaman" ucap theya sambil mengelus rambut gabriel yang mulai panjang.


"theya aku mau nonton, ayo kita nonton" ucap gabriel dengan nada yang menurut theya lucu, theya mengangguk sebagai jawaban karena siapa yang bisa menolak cowok yang sifatnya kayak anak kecil seperti gabriel. (autor: cowok yang udah manja sama cewek itu benar-benar lucu)


theya dan gabriel duduk disofa dengan kepala gabriel yang berada di pangkuan theya, theya sibuk mengelus rambut gabriel yang mulai panjang


" kapan rambutnya mau di potong? " (autor: aku juga suka ngingetin dia potong rambut klok rambutnya udah panjang🙂)


" besok pergi aja sendiri " gabriel yang mendengar ucapan theya seketika menghadapkan kepalanya kearah theya.


"kamu gak mau anterin aku? " gabriel menatap theya sendu


"besok hari minggu. aku harus ke gereja" gabriel lupa jika minggu adalah jadwal theya ke gereja.


"maaf aku lupa" theya tersenyum lalu mengangguk pelan


" gak papa... jangan merasa bersalah Oke" gabriel menatap theya lalu mengangguk sebagai jawaban


"besok aku anterin ke gereja ya" theya mengangguk sebagai jawaban


" theya... bisa gak ya kita trus sama-sama?" ucap gabriel dengan nada lirih


"bisa. klok hubungan kita gak lebih dari temen kalau lebih dari itu kita gak bisa" theya melihat wajah gabriel yang murung


"kita gak bisa bersama gabriel... karena dalam agama ku sudah tertulis bahwa aku hanya bisa mencintaimu tapi aku tidak boleh mengambil mu dari tuhanmu" gabriel menggenggam tangan theya dan menatap wajah gadis itu lekat


" kita bisa jalanin aja dulu" theya menggeleng


" aku gak mau rasa itu semakin besar, aku gak mau saat nanti kita sudah menjalani hubungan dan salah satu dari kita terlalu mencintai sehingga memaksakan kehendak" theya mencoba memberi pengertian pada gabriel bahwa pada dasarnya mereka tak bisa bersama


" klok kamu gak mau pindah agama, aku bisa... " belum selesai ucapan gabriel, theya memotong ucapan gabriel


" gak ada yang akan pindah agama entah itu aku atau kamu. kita sama-sama gak akan meninggalkan agama kita..." theya sedikit menaikan nada bicaranya


"karena pada dasarnya entah Tuhan mu atau tuhanku tak akan membenarkan hal itu" theya beranjak dari duduknya dan meninggalkan gabriel


"kenapa Tuhan tak menciptakan sosok seperti mu dalam agamaku?... mengapa aku harus bertemu denganmu disaat kita dipisahkan oleh dinding yang sama sekali tak bisa ku tembus"