
"masih inget pulang kamu? " tubuh Gabriel seketika menegang mendengar pertanyaan yang dilontatkan sang ayah
"kenapa kamu kembali kesini, apa keluarga itu membuangmu? " Gabriel mencoba menulikan pendengaran yang tampa menjawab pertanyaan sang ayah, reno yang tidak mendengar jawaban dari Gabriel seketika marah karena Gabriel lebih memilah melanjutkan langkahnya yang tadi sempat terhenti tapi tiba-tiba badan mungil itu ditarik ke belakang dan terbentur lantai dengan keras
"bisu kamu, sampai gak bisa jawab pertanyaan saya hah?! " tampa ampun reno memberikan pukulan bertubi-tubi pada tubuh mungil putra semata wayangnya itu
"maaf, maaf riel mohon jangan pukul riel lagi" reno menulikan pendengaranya tapi tak lama reno menghentikan pukulan itu dan berlalu dari sana meninggalkan Gabriel tampa peduli dengan keadaan sang putra.
Gabriel berusah bangkit lalu berjalan tertatih kearah kamarnya. Gabriel mengunci pintu kamarnya itu lalu mendudukan diri disamping bawah tempat tidurnya dan mengambil selenbar foto dari laci samping nakas tempat tidurnya
"riel kangen bunda... bunda kenapa ninggalin riel? " Gabriel mengusap foto tersebut, foto yang memperlihatkan seorang anak laki-laki dan ibunya yang sedang duduk di sebuah kursi taman sambil tersenyum
"semenjak bunda pergi... ayah jadi suka pukul riel" bunda Gabriel meninggal saat ia menginjak usia 5 tahun, bunda Gabriel saat itu meninggal karena penyakit kanker yang dideritanya. semenjak bunda nya meninggal ayah Gabriel menjadi tempramen dan suka memukul padahal dulunya ayah Gabriel adalah sosok ayah yang baik dan amat sangat menyayangi gabriel tapi semua nya berubah semenjak bunda gabriel meninggal ayah gabriel berubah menjadi sosok orang lain, ia jadi seorang yang gila kerja dan tak pernah mengurus Gabriel bahkan pulang pun ia jarang yang lebih parahnya ayah Gabriel tak lagi mau membiayai hidup putranya lagi. saat ini semua kebutuhan gabriel dipenuhi sang paman yang memegang perusahaan bunda gabriel untuk sementara waktu sampai gabriel sudah dewasa. gabriel meringkuk memegangi lututnya sambil menangis.
"riel masih butuh bunda" gabriel tak punya siapa-siapa lagi kecuali theya, untuk saat ini hanya sosok theya yang gabriel punya.
pagi harinya Gabriel dikejutkan dengan suara teriakan dan gedoran pintu dari luar kamarnya
"RIEL BUKA PINTUNYA" theya trus meneriaki nama Gabriel sampai akhirnya pintu kamar itu terbuka dan memperlihatkan sosok Gabriel dengan keadaan kacau dan muka penuh lebam. tiba-tiba theya menerjang tubuh gabriel memberikan pelukan, untung saja gabriel bisa menyetabilkan tubuhnya sehingga mereka berdua tidak jatuh kebelakang
"hiks... riel pasti gak lari lagi pas dipukul" Gabriel mengusap punggung bergetar itu dengan sayang, selalu saja begini jika Gabriel mendapatkan pukulan dari sang ayah maka theya akan menangis padahal yang dipukul kan gabriel.
"jangan nangis lagi ya, riel gak papa kok" gabriel menguraikan pelukan itu lalu menampilkan senyum manis nya kearah theya menunjukan pada theya bahwa ia baik-baik saja. seolah pukulan yang ia Terima tak ada apa-apanya padahal nyatanya pukulan itu sangat menyakitkan bagi gabriel bukan hanya fisiknya saja yang sakit tapi mentalnya juga. anak seusianya tak selayaknya mendapatkan perlakuan seperti itu dari orang tuanya, anak seusianya seharusnya mendapatkan kasih sayang bukannya kekerasan.
"pokoknya riel harus inget ya. apapun yang bakal terjadi riel masih punya theya, riel gak sendiri" itu adalah ucapan yang selalu theya berikan saat Gabriel sedang terluka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
kalian komen dong gimana perasaan kalian pas baca novel ini, soalnya aku pengen banget denger pendapat kalian ❤❤❤