
gabriel saat ini tengah berada di dalam kamarnya karena ia sedang berfikir cara untuk membujuk theya
" arrghhh... ini gimana caranya biar theya gak marah lagi " gabriel sudah frustasi karena sedari tadi ia tak menemukan ide yang bagus. apa ia minta bantuan pada bawahannya saja ya
tampa membuang waktu gabriel mengambil ponselnya dan menelfon bawahannya
" halo raka saya butuh saran dari kamu. bagaimana cara membujuk wanita yang sedang marah" tanya gabriel pada bawahannya yang bernama raka
"sebaiknya tuan berikan saja ia hadiah seperti buket bunga atau coklat" jawab raka. sebenarnya raka tak begitu tahu caranya karena dia jomblo (autor: jomblo itu nyatanya lebih bisa ngasi saran ke orang yang pacaran)
"Oke...lanjutkan kerjamu" ucap gabriel lalu mematikan panggilan telefon tersebut tampa menunggu jawaban dari bawahannya
"Oke gue bakal kasi theya kejutan bunga aja"
saat hendak bergegas keluar kamar tiba-tiba gabriel dikejutkan dengan kedatangan theya yang sudah berdiri didepan pintu kamarnya
"kamu udah dari tadi disini? " tanya gabriel pada theya
" enggak, kita perlu ngomong" theya berjalan masuk ke kamar gabriel lalu duduk di tepi ranjang, gabriel juga melakukan hal yang sama.
beberapa lama keheningan terjadi diantara mereka
" hapus rasa itu" ucapan theya memecah kesunyian yang tadi sempat tercipta
" gak akan pernah" gabriel tau apa yang theya maksud. rasa yang ingin theya suruh gabriel hapus adalah rasa cinta
" seharusnya rasa itu gak ada" gabriel menatap wajah theya lekat tapi theya membuang arah pandangnya agar tak bertatapan dengan gabriel
"sampai.kapan pun. aku. gak akan. berhenti. suka. sama kamu" ucap gabriel menekankan setiap kalimatnya
"HARUSNYA KAMU GAK BOLEH SUKA SAMA AKU.... " theya membentak gabriel lalu tiba-tiba nada bicaranya seketika berubah menjadi lirih
" apapun permintaan kamu bakal aku lakuin tapi enggak sama permintaan kamu yang satu ini" gabriel marah pada theya tapi semarah apapun gabriel pada theya ia tak akan pernah memukul gadisnya
"aku mohon gabriel... aku mohon hapus perasaan kamu ke aku, aku mau kamu cari wanita yang seagama sama kamu" gabriel tak suka dengan kalimat theya yang menyuruhnya untuk mencari pengganti theya karena sampai kapanpun tak ada yang bisa menggantikan theya
" kalok itu mau kamu, Oke... setelah ini kita gak bakal ketemu lagi, kamu gak akan ngeliat aku lagi tapi untuk cari penggantimu... maaf aku gak bisa" gabriel pergi meninggalkan theya sendirian. jujur sebenarnya gabriel tak ingin mengucapkan kalimat itu tapi ia lebih baik pergi dari theya dari pada harus menghapus perasaannya.
setelah kepergian gabriel, theya menangis sejadi jadinya. ini semua bukan keinginannya ia juga mencintai gabriel tapi ia tak mau jika gabriel harus mengorbankan agamanya hanya untuk bersamanya ia tidak mau itu terjadi.
theya menangis sejadi jadinya padahal ia hanya ingin gabriel melupakan perasaannya bukan menyuruh gabriel pergi darinya
"ayo balik riel... theya butuh riel" ini benar-benar bukan harapan theya.
tapi tanpa theya sadari gabriel sebenarnya tidak benar-benar pergi ia hanya bersembunyi
"aku juga butuh kamu, aku gak bakal pergi jauh. aku bakal terus disini samaa kamu, aku bakal jaga kamu dari jauh" gabriel meninggalkan tempat itu menjauh.
"aku akui menyuruhmu menghapus rasa itu adalah salah ku tapi bukannya menghapus rasa suka mu pada ku, kau lebih memilih pergi" theya seakan kehilangan separuh nyawanya karena kepergian gabriel.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cerita masalalu theya tamat sampai sini ya. dibab selanjutnya kita akan nerusin cerita bian dan theya☺
...****************...
...Dan, pada akhirnya kita sampai di sini. Pada paragraf ini, akan kucoba untuk mengikhlaskanmu yang bahkan sedari awal, tak pernah jadi milikku karena Kamu adalah objek nyata yang fatamorgana. Terlihat namun tak tergapai,Berwujud tapi tak bisa dimiliki. Dari awal aku sadar, kita hanya sepasang tokoh yang bertemu di satu bab dalam satu buku dan berakhir di bab itu juga....
TERIMAKASI M. EDWIN WIRANADI kamu laki-laki baik yang akan tetap jadi tokoh favorit dalam ceritaku.❤