
tepat hari ini theya sudah diperbolehkan pulang kerumahnya walau ia harus tetap pergi untuk trapi setiap minggunya agar ingatannya cepat kembali.
saat ini abian sedang berada di ruang rawat theya karena ia lah yang akan mengantar gadis ini pulang
"udah rapi semua, ayo kita pulang" theya sama sekali tak menatap bian, sedari tadi bian trus berusaha mengajak theya berinteraksi tapi sayangnya gadis itu selalu tak menanggapi
"ngomong sama aku klok aku ada salah, jangan diem kayak gini" dia berjongkong untung menyamai tingginya dengan gadis itu karena theya masih duduk di kursi roda
"aku mau pulang" theya sama sekali tak berniat menjawab bian, ia lebih baik mengalihkan topik pembicaraan
" hmm... yaudah oke" bian berusaha mengontrol emosi, ia lebih memilih menuruti permintaan theya.
saat ini bian dan theya sudah berada di dalam mobil tapi sedari tadi hanya ada kesunyian
"ayo kita ke danau" bian memutuskan kesunyian itu tapi tetap saja theya tak Menggubris nya.
singkat cerita mobil bian sudah sampai di danau yang biasa mereka kunjungi. bian mendorong kursi roda theya menuju ke pinggir danau agar dapat melihat danau itu dengan jelas
" dulu kita bilang ini tempat favorit kamu sama aku " theya berusaha mengingat tempat ini tapi sayangnya ia tak bisa mengingatnya
"aku gak inget" bian tersenyum mendengar theya merespon ucapannya
"gak papa... gak usah dipaksa" bian mengusap kepala gadis nya
"apa semua tentang kita itu indah? " pertanyaan yang theya lontarkan membuat bian menghentikan usapan kepala theya
"iya... semua tentang kita itu indah" ucap bian sambil mengarahkan pandangannya kedepan
"apa dulu kita saling mencintai? " sebenarnya theya ragu mengeluarkan kalimat itu tapi ia penasaran dengan samua kalimat yang ada di otaknya
"apa dulu aku kelihatan bahagia sama kamu?...apa dulu kita bahagia? " bian menoleh kesamping sampai pandangan mereka berdua bertemu
"dulu kita saling mencintai, dulu kamu juga kelihatan bahagia sama aku, dulu kita bahagia" bian memberikan senyum manisnya pada akhir kalimat.
" apa aku pernah membandingkan mu dengan dia? " seolah paham dengan pertanyaan theya, bian menggeleng kan kepalanya sebagai jawaban
"sifat kalian hampir sama, bedanya dia akan selalu jadi pemenangnya sedangkan kamu hanya sebagai penyembuh sesaat karena saat dia kembali maka aku akan tetap memilihnya" tampa theya sadari tangan bian sudah terkepal hingga kuku jarinya memutih
" aku gak perduli siapa yang ada dihati kamu karena siapa pun yang ada disana, aku bakal tetep suka kamu biarpun kamu gak suka sama aku" ucap bian tegas tampa bantahan. theya menatap bian sambil terkekeh
" sekuat apapun usaha kamu... DIA tetep pemenangnya " ucap theya dengan nada mengejek seolah usaha yang bian kerahkan adalah sebuah kesia-sian
(autor:klok memang masalalu adalah pemenang nya. aku juga masa lalunya tapi kenapa bukan aku pemenangnya?)
emosi bian semakin bertambah mendengar ucapan theya tapi ia berusaha mengontrol nya agar tak berimbas pada gadisnya, se cinta itu bian sama theya sampai dia rela menahan amarahnya agar gadisnya tak ketakutan
" apa alasan yang buat dia jadi pemenangnya?...padahal aku lebih dari dia" bian ingin mengetahui dari segi apa ia kalah karena menurutnya ia sudah sangat unggul dari gabriel
" aku akui kamu unggul dalam segala hal tapi bagi aku dia tetap lebih unggul tampa adanya alasan" nyatanya masalalu punya tempat paling indah padahal orang baru udah ngasi effort yang lebih dari dia tapi tetep aja klok kamu maunya orang lama maka orang baru gak ada artinya
tapi usahakan jangan memulai kisah baru jika kamu belum selesai dengan masalalumu karena kamu bakal nyia-nyiain usaha mati-matian yang udah dikasi orang baru ke kamu, kamu bakal nyia-nyiain orang yang udah tulus sama kamu hanya karena kamu belum selesai sama masalalumu