
theya dan gema saat ini sedang bersiap untuk pergi Jalan-jalan seperti yang gema katakan kemarin
"theya udah siap kak" ucap theya pada sang kakak yang sedang duduk
"ayo kita pergi" gema beranjak dari duduk nya dan menggenggam tangan theya menuju mobil.
...****************...
sedari tadi di perjalanan theya tak berhenti mengecek HP nya, ia sudah mengirim banyak pesan untuk bian tapi dari semua pesan tersebut tak ada satu pun yang terbalas. gema yang melihat adiknya sedari tadi gelisah mencoba untuk bertanya
"kamu kenapa?, kok gelisah gitu mukanya?" tanya gema dengan nada khawatir
"dari kemarin bian gak ada kabar sama sekali, tumben dia kayak begini" mendengar ucapan sang adik, gariel mengubah pandangannya menjadi dingin
"udah berapa kali kakak bilang, klok cowok kayak dia gak pantes dipertahanin" ucapan gabriel membuat theya menoleh sempurna, tak seharusnya gabriel berkata seperti itu
"kakak kok ngomong kayak gitu sih... bian itu TUNANGAN theya" ucap theya sambil menekan kata tunangan
"dia gak lebih dari sekedar orang asing buat kakak" ucap gabriel sambil terus menyetir
"kenapa sih kakak gak bisa Terima bian?" theya tak mengerti mengapa sang kakak sangat membenci sosok bian, padahal menurut theya sosok bian adalah sosok sempurna
"karena dia gak baik buat kamu" jawab gabriel dengan santai tapi padanganya tak berubah sama sekali
"aku minta kakak coba nerima dia karena dia udah jadi bagian dari keluarga kita" gabriel sama sekali tak menggubris ucapan yang theya lontarkan. sampai akhirnya mereka tiba di salah satu taman di daerah itu, gabriel turun terlebih dulu dari mobil lalu berjalan membukakan theya pintu, kemudian mereka jalan beriringan menuju ke dalam resto.
sesampainya mereka didalam resto, gabriel dan theya duduk di salah satu bangku disana mereka berdua memilih meja yang dekata dengan jendela agar bisa melihat pemandangan luar.
gabriel dan theya sudah selesai memesan makanan mereka masing-masing, sedari tadi tak ada yang mencoba membuka pembicaraan antara mereka sampai tiba-tiba pandangan mata theya mengarah pada seorang pria dan wanita yang baru saja masuk kedalam resto tersebut. sosok pria itu sangat theya kenal, siapa lagi klok bukan bian.
siapa wanita yang bersama bian, apa karena ini bian tak mengabarinya?. semua pertanyaan" negatif muncul dipikiran theya
"kamu liat kan?... orang yang kamu khawatir in itu lagi sibuk sama cewek lain" gema mencoba memanas-manasi sang adik. theya beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati bian
"kenapa kamu gak ngabarin aku?" bian yang awalnya sibuk berbincang dengan sang wanita tiba-tiba menoleh
"aku kangen" bian memeluk tubuh sang tunangan dengan erat, gema yang sedari tadi berdiri dibelakang trus memperhatikan mereka. gema tak suka melihat miliknya dengan mudah dipeluk oleh bian, theya itu milik gema dan akan tetap begitu
"kamu kenapa gak pernah ngabarin aku?... aku khawatir bian" ucap theya sambil menguraikan pelukan mereka.
"maaf.... bian salah karena gak ngabarin theya" ucap bian sambil menundukkan kepalanya, sekarang bian tampak seperti anak kecil yang sedang dimarah oleh ibunya. (autor: gemes banget ya Tuhan😖)
"kenapa kamu bisa sampek hilang kabar kek gitu?" ucap theya sambil memandang bian yang sedang tertunduk
"aku disuruh papa buat nanganin satu proyek, awalnya aku udah nolak tapi papa ngancem bilang klok dia bakal jauhin aku dari kamu, papa juga sita HP aku,dia bilang klok proyeknya udah selesai HP aku baru dikembaliin" ucap bian, mendengar ucapan bian, theya yang awalnya ingin marah akhirnya ia urungkan, curang rasanya jika bian dapat dengan mudah meredakan amarahnya
"udah gak papa, nanti biar aku yang ngomong ke papa" ucap theya sambil mengelus rambut bian. sedari tadi interaksi keduanya tak luput dari pandangan gema, gema yang melihat interaksi keduanya sudah mengepalkan tangan karena rasa bencinya terhadap bian bertambah.
"kak...kakak pulang sendiri aja ya, soalnya aku mau pulang sama gema" mendengar ucapan adiknya, gema hanya bisa memberikan senyum lalu menganggukkan kepala sebagai jawaban,bian melihat gema yang berada dibelakang theya dan memberikan senyum mengejek kearah gema seolah gema tak bisa berbuat apa-apa disaat ia dengan mudah mendapat semua perhatian theya, gema yang melihat senyum itu menjadi tambah membenci bian. melihat bian dan theya berjalan beriringan sambil berpegangan tangan dan meninggalkan resto tersebut.
"harusnya gue yang ada di posisi itu bukan lo" gema tak bisa melihat miliknya direbut dengan mudahnya oleh bian
"lo... gak layak dapet semua perhatian theya, harusnya semua perhatian itu buat gue" gema tak menganggap theya sebagai adiknya, gema selalu menganggap theya sebagai wanita miliknya. dari awal gema pindah kerumah theya, ia sudah jatuh cinta pada sosok gadis priang yang selalu memberinya senyuman disaat dunianya sedang gelap akibat ia kehilangan kedua orang tuanya. jika dulu saingan gema adalah gabriel maka sekarang saingan gema adalah bian, dulu ia lah orang yang membuat gabriel meninggalkan theya, menurutnya gabriel itu mudah dihasut jadi tak susah untuk dia menyingkirkan gabriel. gema akan melakukan berbagai hal untuk mempertahankan theya agar tetap disisinya meskipun salah satu caranya adalah dengan membunuh orang-orang yang berusaha mendekati theya, gema suka membunuh semua laki-laki yang coba mendekati miliknya dari theya memasuki dunia sekolah, gema selalu memantau theya dari jauh dan selalu membunuh orang-orang yang berusaha mendekati theya.
"klok mereka aja bisa gue singkirin dengan mudah, berarti lo juga bisa" gema terobsesi pada orang yang seharusnya ia anggap sebagai adiknya.
"gue bakal nyingkirin semua orang yang berusaha ngerebut milik gue karena semua yang berusaha ngedeketin theya itu musuh gue, lu gak pantes sam theya..." gema menjeda ucapannya
"...karena yang pantes sama theya cuma gue"