Azielio

Azielio
Azielio chapter 9



2 hari kemudian


ayah Tama dan bunda Laras harus menjelaskan bagaimana kepada anaknya Kiara tentang perjodohan itu. Ia menerima - Nerima aja tidak ada keterpaksaan sedangkan Kiara takutnya yang ia takuti sang anak Kiara akan menolak perjodohan itu, Kiara itu orang nya keras kepala dan susah banget dibilang.


Tiba - tiba dipagi harinya sebelum Kiara berangkat sekolah ia akan menjelaskan kepada Kiara tentang perjodohan itu pelan - pelan.


Kiara menginjakkan kakinya keluar dari kamarnya, "nak, sini sebentar" panggil ayah Tama dari ruang tamu, Disana sudah ada bunda Laras.


"ada apa yah?" sautnya dengan wajah begitu memelas.


"hmm... apa kamu mau menikah?" tanya ayah Tama dengan hati - hati.


"hah, menikah? ayah aku ini masih SMA loh, masa muda - muda menikah? jauh banget yah" saut Kiara dengan wajah berkerut, ini pertama kalinya ayahnya mengatakan"menikah" apa tidak ada kata yang lain?


"maksudnya, ayah ingin kamu menikah " celetuknya tanpa berpikir berlama - lama meskipun Kiara memarahi ataupun kesal dengan nya.


Kiara terbangun dari sofa terlonjak kaget dengan perkataan ayahnya, "apa?! menikah?!".


"ayah, sudah gila ya... ayah ingin menjual anak ayah sendiri begitu maksud nya?" Celetuk Kiara dengan Wajah begitu kesal terhadap ayahnya.


bunda Laras menghela nafas dan mengusap pundak ayah Tama, tanda isyarat agar ia yang akan menjelaskan nya.


bunda Laras memindahkan tubuhnya dari suaminya dengan mendekati Kiara, sambil memengang kedua tangannya "nak, ayahmu bukan ingin menjualmu melainkan ini sebenarnya telah diperbuat perjanjian saat kakekmu masih muda dulu bersama kedua sahabatnya agar bisa menjodohkan cucu - cucunya," ucapnya panjang lebar, sambil melirik sekilas kefoto almarhum mertuanya, lalu kembali menatap anaknya.


"tapi Bunda, Kiara masih sekolah... lalu cita - cita Kiara bagaimana? terus, Kiara juga belum tahu siapa laki - laki yang akan dijodohkan dengan Kiara itu?" ucapnya panjang lebar dengan wajah begitu memelas.


"dia bersekolah yang sama dengan mu," jawabnya sambil tersenyum dengan mengelus kepala Kiara.


"tapi Kiara pikir - pikir dulu," jawabnya langsung pamit untuk berangkat ke sekolah.


Disekolah ketiga sahabat Kiara sedang asyik melihat berita di internet tentang penulis terkenal yang bernama Ara, sedangkan Kiara hanya terdiam dan memikirkan kata - kata kedua orang tua nya. ketiga sahabatnya menyadari Kiara hari ini sangat aneh, "Kiara? hei Kiara?" panggil Alya yang duduk disampingnya sambil menggoyangkan pundaknya sedikit.


"hah," ucapnya yang tersadar dari lamunannya.


"Lo kenapa sih? kok begong," tanya Alya penasaran.


"iya, nih ngak seperti biasanya..." celetuk citra.


"ngak ada apa - apa, kok" jawabnya.


Zelo dan ketiga teman nya berjalan dilorong, saat itu Kiara dan Alya, Indri, citra melihat mereka dan kedua temannya siapa lagi yang tak lain citra dan Indri yang paling bar - bar dan heboh kalau lihat cowok ganteng didepannya.


Mereka memanggil nama "Zelo!" berkali - kali tetapi ketiga teman zelo hanya menyunggingkan senyum nya dan Zelo hanya cuek. Alya sahabat nya menjitak kepala mereka, begitu genitnya kedua sahabat itu.


"eh sakit tahu! kenapa sih suka nya jitak kepala kita" ucap indri membalasnya dengan memencet hidung Alya dengan keras sampai Alya kesakitan.


"eh, kalian sudah berani ya"ucapnya tidak terima.


"blek, biarin" ucap citra sambil menjulurkan lidahnya.


Kiara yang baru menyadari zelo ada disana mulai panik. Zelo hanya cuek dengan tampang begitu sangat kesal melihat keberadaan Kiara lagi, seseorang yang ia begitu benci. Sampai Kiara berlari untuk menjauh dari zelo dan Zelo melirik ke dirinya yang tengah pergi berusaha mengikutinya. Karena ia tahu seorang dijodohkan dengan nya itu ternyata Kiara Larasati gadis paling ia benci dan paling menyebalkan, padahal Kiara itu bukan tipenya.


"eh, tunggu sebentar ya... gue mau ketoilet sebentar" ucapnya langsung berlari menyusul Kiara.