
Tanpa disadari Kiara membalikkan badannya kembali menghadap seorang itu. Disana azielio berada tepat dihadapan nya, wajah nya berkerut.
"ngapain Lo disini?" tanya nya cuek.
"lah, gue yang seharusnya nanya sama Lo... ngapain Lo ada disini?" tanyanya balik dengan tampang kesal.
"ini rumah gue, terserah dong gue mau ngapain" jawab Kiara berlalu pergi meninggalkan azielio sendirian.
"oh," membulatkan bibirnya, berlalu pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Kiara berbalik lagi dan kesal dengan sikap Azielio yang tiba - tiba datang, entah dari mana ia datang.
"dasar cowok ngeselin, tampang nya aja yang berlagak sok ramah, baik padahal dirinya aja belum tahu gimana sifat aslinya" omel Kiara sambil melemparkan batu kerikil itu tepat mengarah kepada azielio membuat kepala nya kena dengan batu kerikil itu.
azielio membalikkan badannya, ia begitu sangat marah kepadanya "eh, mbak - mbak tukang ngomel... nanti kalau bocor kepala gue gimana? Lo mau tanggung jawab" protes azielio menahan emosi nya.
Kiara hanya terdiam tanpa berkata apa-apa dan Azielio pergi berlalu menaiki motor besar miliknya.
Saat Kiara melihat azielio telah pergi melaju dengan cepat menginjak - nginjak sapu lidi yang ia pakai untuk menyapu halaman tadi meluapkan kemarahan nya terhadap azielio. Ia benar - benar begitu sangat membenci azielio.
Dari kejauhan mobil mewah didalam seorang itu melihat kelakuan mereka barusan membuat nya tertawa dengan tingkah mereka yang begitu saling musuhan.
Dikediaman keluarga Zafano...
nenek Ayse tertawa mendengarkan cerita dari pak Hamid, tahu kalau cucunya itu sudah mengenalnya. Tetapi meskipun itu mama Ratna tetap merasa khawatir, ia benar - benar takut nanti nya seorang itu hanya ingin memoroti uang anaknya jika sudah menikah nanti.
"tapi, apakah dia bisa dipercaya?" gumam mama Ratna membuat sang suami melirik kepada nya.
"tetapi apakah pak Hamid bisa menjelaskan gimana latar belakang keluarga nya?" tanya mama Ratna.
flashback...
Saat Kiara menyelesaikan menyiram bunga diluar taman pak Hamid yang memperhatikannya dari kejauhan segera memarkirkan mobilnya agak berjauhan dengan tempat nya Kiara berada. Ia berjalan kaki dari seberang jalan, saat berada didepan rumah Kiara ia pura - pura kakinya kesakitan agar biasa menarik simpati Kiara dan menolong nya.
"aduh, sakit sekali" teriaknya sambil melirik kesamping rumah Kiara.
Memang Kiara mendengar nya dengan langsung saja menarik perhatian Kiara membuatnya menjadi tidak enak hati untuk tidak menolong nya. Ia membantu nya untuk bangun, menyuruh nya untuk beristirahat sebentar dirumah nya. karena hari ini rumah sedang sepi jadi tidak apa - apa mengizinkan nya untuk beristirahat selama satu hari. Lagi pula kedua orang tuanya dan adeknya sedang pergi pulang kampung, entah kenapa dirinya sangat kesal tidak diajak pulang kampung malahan disuruh jaga rumah dan bersih - bersih kasihan sekali hidup ini baginya.
"anda istirahat saja dulu disini, orang tua saya lagi pulang kampung... jadi anda tidak akan kena marah oleh orang tua saya" mengajaknya masuk kedalam rumahnya yang begitu sempit dan kecil.
pak Hamid hanya tersenyum melihat kebaikan seorang Kiara, "kamu begitu sangat sopan berkata - kata kepada yang lebih tua, terima kasih telah mau membantu saya" balas pak Hamid langsung membaringkan tubuhnya disofa ruang tamu.
Kiara menyuruhnya untuk meluruskan kakinya agar ia bisa membantu nya untuk memijat kakinya yang sedang sakit, "biar saya ambilkan minyak urut dulu, saya pijatkan kakinya" mengambil minyak urut yang berada dikamar nya, tetapi dicegah pak Hamid.
"tidak perlu, saya hanya kecapean saja" ucapnya langsung menyuruh Kiara untuk kembali duduk.
"pak, saya ikhlas kok menolong bapak " tersenyum kepada nya.
"baiklah," ucapnya terpaksa, sebenarnya apk Hamid hanya berpura - pura kecapean tapi mau bagaimana lagi dia benar - benar tulus menolong nya.