Anara & Oktara

Anara & Oktara
9. Ikatan Batin



Roti di atas meja sudah tersaji. Oktara berpamitan biarpun badannya tidak merasa sehat hari ini. Ia masuk ke dalam mobil dan berangkat kerja. "Kamu ga gak bawa ke kantor?"


"Enggak usah, ya sudah saya pergi dulu ya. Assalamu'alaikum." 


"Wa'alaikumsalam." 


Setelah sudah pergi dari rumah, Anara biasanya setelah menikah selalu saja merapikan rumah setiap harinya tapi sebelum itu ia berolahraga ringan terlebih dahulu di depan teras yang halamannya bisa banget buat dipakai untuk olahraga. 


Sampailah ia di kantor dengan keadaan badan yang tidak merasa sakit atau sehat. 


Memulai untuk bekerja. "Lo kenapa kok kelihatannya kayak pucat banget begitu sih? Kecapean?" 


"Gue habis pulang gak keramas makanya kayak gak enak badan dan kayak demam gitu," suaranya juga sedikit agak bindeng dan tak terdengar seperti biasanya. 


Pertanyaan sejuta umat terlontar. "Gimana Istri lo udah hamil belum?"


"Em belum, tapi do'ain gue ya! Dan gue juga do'ain lo semoga segera menyusul ya Bar!" 


"Aduh aamiin banget, do'ain gue pokoknya biar gue bisa nyusul lo dan pastinya punya keluarga kecil nantinya deh!" 


Padahal kalau tau apa yang sedang terjadi di rumah, pasti orang-orang pada gak menyangka mereka gak saling tidur bareng. "Andai aja gue cerita apa yang sebenarnya terjadi pasti mereka nggak percaya! Kenapa ya gue sampai sekarang belum mencintai perempuan itu? Padahal kalau misalkan gue ngapa-ngapain juga nggak masalah kan gue sama dia udah sah itu tandanya terserah kita, tapi kenapa gue malah kayak begini ya?" Karena kepalanya terasa pusing dan tidak mau berpikiran yang terlalu berat akhirnya pun ia melupakan apa yang terjadi di rumah dan tidak mau menanggapi pertanyaan yang mungkin seperti angin lewat saja. 


***


Nanda mengecek ke ponselnya mencoba untuk menghubungi Oktara yang tak kunjung datang. Sudah setengah jam ia berada di sini tak ada mobil yang berhenti dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil. "Ya ampun lama banget sih biasanya juga jam segini jemput gue! Gue paling gak suka deh nungguin!" kesalnya dengan beberapa detik mengecek jam yang melingkar di sebelah kirinya. 


"Gue yakin banget pasti Nanda udah nunggu gue banget!" Pekerjaan kantor yang menumpuk membuatnya sedikit agak 


"Ma'afin aku ya udah lama banget nih jemput kamu. Nggak tahu kenapa badan aku nggak enak banget mungkin karena terkena hujan waktu itu ya nggak langsung aku keramas. Kamu langsung pulang aja ya habis dari kerja?" 


"Iya aku langsung pulang aja kok lagian juga aku capek banget kerja seharian hari ini. Kapan-kapan kita jalan-jalan yuk aku udah lama banget nih kita nggak jalan-jalan yang bener-bener jalan-jalan seharian." 


"Iya nanti kita bakalan jalan-jalan ya, soalnya aku sibuk banget sama pekerjaan aku. Oh iya uangnya aku transfer waktu itu udah habis belum? Kalau misalkan sudah, nanti kamu kabarin aja ya!" 


"Ya ampun aku senang banget deh pacaran sama kamu, nggak tau kenapa rasanya bahagia banget apalagi nanti kita menikah." Oktara merasa tersedak dan batuk tiba-tiba. 


"Kamu kenapa? Kok tiba-tiba kayak batuk? Mendingan kamu ke klinik langganan kamu deh, biar aku anterin hari ini." 


"Aku nggak kenapa-napa kok aku biasa-biasa aja, jadi kamu jangan terlalu khawatir sama aku!" Oktara mengelus puncak kepala Nanda. Mereka memiliki hubungan yang terlarang yang seharusnya tidak boleh untuk dijalin sampai kapanpun.  


Nanda sampai dan masuk ke dalam rumah. 


***


"Wa'alaikumsalam." Ia masuk ke dalam rumah dengan memberikan tasnya kepada Anara. Lalu ia masuk ke dalam kamar menaiki anak tangga untuk mandi. 


Anara merasakan hal yang sangat aneh, kenapa di dalam benaknya merasa tak enak. Tapi ia mencoba untuk biasa saja, mengambil tas kerja Oktara dan membawanya ke dalam kamar. Perasaan ada yang tidak beres setelah melihat sebuah pesan singkat dari seseorang ketika tadi pagi ketika Oktara mandi di kamar mandi, rasanya candu banget untuk melihat siapa orang yang ada di ponsel Oktara. Namun ketika dibuka ia mendapatkan sebuah pesan dari seseorang. 


"Mas aku sayang banget sama kamu, aku janji jadi perempuan yang baik buat kamu!" -Nanda


Rasanya sekujur badan terasa lemah dan benar-benar merasa bingung apa yang harus dilakukan. 


Air matanya tiba-tiba saja jatuh dari kiri ke kanan dan pelipis kiri, yang ia langsung hapus seketika. Ia tak mau kalau misalnya rasa ini berubah dengan rasa cemburu walaupun pahitnya sangat ia rasakan. "Pantesan selama ini Mas Oktara nggak suka sama kehadiran aku dan dia lebih memilih perempuan yang lain yang jauh mencintai dia." 


Oktara baru saja keluar dari kamar mandi, lalu dengan cepat ia pun melihat Anara melakukan sesuatu. 


"Kamu ngapain berdiri di depan situ? Kok tiba-tiba mata kamu kayak nangis gitu? Kenapa?" Anara hanya bisa menggeleng dan tak menjawab apa-apa ia tersenyum, merubah posisinya ke arah lain. Oktara melihat gerak-gerik yang tampak berbeda dan ia sangat merasa aneh banget tentang apa yang terjadi. 


Anara mengambil handuk yang di luar yang sudah kering lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi. Oktara masih tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Anara tadi? Ia masih menerka-nerka. Ia membuka sebuah pesan dari WA dan pesan itu sudah dibuka oleh seseorang, siapa lagi kalau bukan Anara yang ada di dalam rumah ini. Gak mungkin banget itu adalah orang lain. 


Oktara menunggu Anara keluar dari kamar mandi. Setelah keluar dan membiarkan memakai baju terlebih dahulu lalu ia menanyakan apakah Anara membuka ponselnya tanpa izin. Jantung Anara berdekup lebih kencang dari sebelumnya. Deg-degan banget. Bingung harus menjawab apa. "Saya tanya sekali lagi, apakah kamu membuka hp saya tanpa meminta izin terlebih dahulu? Kalau iya apa yang kamu buka?" 


"Gak kenapa-napa kok, aku gak tau apa-apa Mas. Emangnya kenapa? Aku gak buka apa-apa!" 


"Yakin gak buka apa-apa? Kamu jangan bohong ya? Saya gak suka kayak begitu ya." 


"Iya aku minta ma'af sama kamu ya Mas, kamu jangan marah ya sama aku. Aku janji gak bakalan melakukan seperti itu lagi."


"Ya sudah kalau gitu, untuk hari ini saya ma'afkan kamu. Tapi kalau misalkan kamu mengulangi lagi saya nggak akan pernah ma'afin kamu, karena ini bukan sesuatu hal yang sopan walaupun kita sudah menjadi ikatan yang halal. Kita sudah memiliki hidup otomatis juga harus memiliki privasi jadi jangan semena-mena mentang-mentang kita udah menikah kamu seenaknya buka-buka HP saya!" 


"Iya Mas aku paham kok dan aku juga mengerti. Aku harap kamu mau ma'afin, aku sekali lagi aku minta ma'af." 


"Gue yakin banget kalau Anara udah ngeliat pesan teks tersebut, tapi kalau misalkan gue nanya berarti itu tandanya gue ketahuan dong gue selingkuh! Kayaknya gue harus tutup rapat-rapat deh rahasia ini dan gue harus jaga-jaga biar enggak ketahuan lagi!" gumamnya dalam hati, ia tak mau lagi kecolongan dalam hal ini. 


"Ya Allah kuatkan hamba supaya bisa menjalani hidup ini dengan baik dan yang pastinya jadi Istri yang membanggakan Suami." Anara selalu berdo'a di dalam dirinya agar apapun yang terjadi bakalan menjadi sesuatu kesabaran dan ujian agar bisa masuk ke level selanjutnya. 


Allah perlahan-lahan menunjukkan apa alasan kenapa Oktara tidak mencintainya.